Brakk!
Suara benturan itu membekukan udara. Darah menetes dari sela dahan, merah dan kental, seperti diperas dari tubuh yang remuk.
Alric menggertakkan gigi. Dengan satu lompatan, ia mendekati binatang itu. Di sisi lain, Garron sibuk menahan tambang dengan sihirnya agar tak berputar semakin liar. Ayra memekik kecil saat Alric menghantam tubuh beruang itu dengan tinjunya. Aneh, benturan itu menghasilkan suara seperti logam menghantam kulit.
“Apa-apaan itu tadi?” Ayra tergagap, menoleh ke dua bersaudara Vaylan.
“Entahlah. Aku juga baru menyaksikan hal ini,” gumam Kael, menggeleng. Senna hanya terdiam mematung.
“Kamu nggak tahu itu apa? Kukira kamu si paling tahu,” jawab Ayra kecewa.
“Tidak semua sihir aku tahu. Sihir itu banyak macamnya. Pactra aku tahu karena dulu ada yang memilikinya di desa. Doraksa, pamanku yang dulu mengenalkannya padaku. Tapi ini... aku juga baru pertama kali melihatnya,” jelas Kael.
Mereka kembali memusatkan perhatian pada pertarungan.
Alric bergerak cekatan, menyerang titik-titik lemah di tubuh beruang. Tapi binatang sakti itu terlalu kuat; sekali kibasan cakarnya, angin keras menampar tubuh Alric.
“Tuan muda, tolong berhenti!” seru Garron.
Di sekitar mereka terdengar kepakan sayap dari sesuatu yang tak terlihat. Kadang suara geraman, seperti auman harimau, menggema dari udara.
Garron berhasil menahan satu tambang. Namun mendadak tambang itu seperti ditebas dari langit. Seorang pemburu jatuh, tapi segera disambar Garron lalu ditarik ke arahnya.
“Kita tidak bisa hanya berdiam diri begini,” bisik Senna.
“Lalu kau mau apa? Salah mereka sendiri menahan pedangku...”
“Jangan begitu, Kael. Bahkan kalau kau bawa pedangmu, aku tak yakin kau bisa mengalahkan binatang itu seorang diri.” Senna menatap tajam. “Maaf kalau terdengar kasar. Tapi ini soal hidup dan mati. Kita harus berani mencoba.”
Kael terdiam. Kata-kata Senna menyentuh egonya, tapi ia tahu itu benar.
“Baiklah. Kalau kau tetap tak mau maju, jaga Aya. Aku akan bantu para pemburu.”
Senna mengangkat busurnya. Cahaya hijau merambat ke anak panah, lalu—
Thukk!
Senna terbelalak. Panah itu membentur tubuh makhluk itu dan jatuh begitu saja, tanpa melukai.
Senna menarik napas panjang, kali ini dia benar-benar berkonsentrasi.
Ssssttt… Thukk.
Panah kedua melesat dengan pendaran hijau terang namun perbedaannya hanya tipis saja. Panah itu memang menancap di tubuh beruang sabit merah sebelum jatuh lagi.
“Benar-benar makhluk yang mengerikan,” gumamnya pelan. Ia menggeleng lemah, merasa tak berdaya.
Makhluk itu tak terganggu. Perhatiannya hanya tertuju pada Alric. Putra Reeve itu menatapnya tajam, lalu kembali menyerang. Tinju diarahkan ke wajah binatang itu—satu-satunya titik lemah yang ia ketahui.
Namun binatang itu melindungi wajahnya dengan sangat baik. Ukuran dan kekuatannya membuat Alric kesulitan menembus pertahanan.
Garron yang melihat binatang sakti itu mulai berganti fokus, segera berteriak agar pemburu yang tersisa segera menjauh dari arena pertempuran.
Satu pemburu yang tersisa berusaha bangkit. Meski tubuhnya sempoyongan, pemburu itu tetap berjalan menjauh dari makhluk buas tersebut. Garron menghela napas lega; kini ia bisa memusatkan perhatian pada pertarungan antara Alric dan beruang sabit merah.
Di sisi lain, Kael memperhatikan tubuh Garron yang mulai berpendar samar. Lelaki itu mengangkat tangannya perlahan, seolah menghempaskan sesuatu dari udara.
Tiba-tiba, beruang itu tampak terhuyung—terdorong ke belakang oleh kekuatan tak kasat mata.
Alric melihat celah itu. Ia langsung meloncat tinggi, mengepalkan tangan, lalu mengarahkannya ke wajah sang binatang.
Namun beruang sakti itu tak membiarkan wajahnya terluka. Meski terhuyung, cakarnya menyambar cepat. Alric yang tak siap menghadapi serangan balik itu menjerit saat kaki depan sang binatang menghantam tubuhnya, melemparkannya jauh hingga menghantam batang pohon. Tubuhnya melorot dan tergeletak diam.
Dari langit kosong terdengar suara Reeve yang parau, disusul raungan hewan mirip harimau.
Beruang itu memegangi lehernya yang kembali tersayat, dan untuk beberapa saat ia hanya diam. Luka baru muncul di antara bulu-bulunya yang menyerupai duri. Jika diperhatikan lebih dekat, bulu-bulu di leher itu ternyata tak setebal bagian tubuh lainnya—lebih rapuh, lebih rentan.
Tubuh besar beruang itu tiba-tiba terhempas, menghantam pohon besar hingga tumbang.
Garron tampak terengah-engah.
Kael, yang mengamati dari kejauhan, menyimpulkan bahwa sang penyihir telah menghentakkan sihirnya dan kini kehabisan tenaga setelah mengerahkan kekuatan terakhirnya.
Di sisi lain, Senna ragu untuk menembakkan panah. Ia khawatir sasarannya justru mengenai Reeve atau tunggangan tak kasat matanya, karena ia tahu Reeve masih melayang di atas, menggempur sang binatang dari udara.
Makhluk itu masih dalam posisi terlentang. Ia meraung sambil mengayun-ayunkan kaki depannya, seakan menghalau lalu mencengkeram musuh yang tak terlihat.
Tubuh raksasanya sempat terangkat dari tanah, lalu menggeliat kembali. Dua kaki belakangnya bergerak liar. Suara raungannya bersahut-sahutan dengan geraman harimau dari udara.
Beruang itu berguling-guling, seakan tengah bertarung dengan sesuatu yang tak tampak.
Tak jauh dari sana, tubuh Reeve mulai terlihat. Ia tergeletak lemah, berusaha bangkit.
Garron melihat itu dan mencoba menarik tuannya dari jarak jauh, namun sihirnya tampak mulai melemah.
Situasi semakin menegangkan. Dua pemburu yang berhasil selamat berlari ke arah Reeve untuk menyelamatkannya.
Senna yang melihat kejadian itu semakin cemas.
“Kita harus melakukan sesuatu!” katanya, hendak berlari.
Namun Kael menahan tangannya.