Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #15

Bayang-Bayang Sabit Merah

Sesaat, mereka saling menatap dalam kebingungan. Tak seorang pun merasa telah melakukan sesuatu. Namun Kael, yang mengenali denyut sihir itu, segera mengalihkan pandangan pada Senna—adik satu-satunya—yang kini duduk bersila dengan mata terpejam.


Beruang itu, yang tak lagi merasakan perlawanan, mengangkat tubuhnya lalu melompat ke arah mereka. Tubuh-tubuh yang berdiri membeku, bersiap menerima serangan terakhir. Tanah di sekitar mereka terguncang hebat. Debu beterbangan, bebatuan kecil terlempar ke segala arah.


Namun anehnya, tanah tepat di bawah kaki mereka tetap tenang, seolah dipisahkan oleh sesuatu yang tak kasatmata.


Kael bergegas menghampiri adiknya. Wajahnya dipenuhi kecemasan. Setiap kali beruang itu menubruk atau menghantam selubung pelindung, tubuh Senna menggeliat pelan, menahan nyeri yang tak terlihat. Pendar hijau tipis membungkus dirinya. Getarnya nyaris tak terdengar, tetapi terasa.


Sedikit demi sedikit, tubuh gadis itu mulai limbung. Hentakan demi hentakan menguras kekuatannya.


Ayra ikut mendekat. Dengan tangan gemetar, ia menyentuh pundak Senna. Ia tak sanggup menyaksikan gadis itu kehabisan daya seperti ini. Namun ia pun tak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya ingatan yang melintas dalam benaknya adalah saat ia pernah membawa Kael dan Senna menghindari serangan sepasang binatang sakti di hutan yang sama.


Pandangannya menyapu sekeliling. Terlalu banyak orang yang harus ia bawa. Terlalu banyak untuk satu kali sihir berpindah tempat. Keraguan mulai merambati dirinya.


Seolah mampu membaca pergolakan dalam diri Ayra, Senna berkata pelan, namun cukup jelas untuk didengar.


“Aya, apakah kau ingin menolong kami semua?”


Ayra menatapnya. Matanya berkedip pelan, seakan mengumpulkan keberanian. Bibirnya terbuka sedikit, tetapi tak ada suara yang keluar. Tubuhnya masih gemetar—ia belum sepenuhnya yakin pada dirinya sendiri.


Melihat itu, Senna kembali bersuara, lebih tegas namun tetap lembut,


“Tak ada tempat untuk keraguan. Setidaknya... cobalah. Apa pun hasilnya, tak akan ada yang menyalahkanmu. Jadi... Aya, kumohon. Cobalah.”


Kata-kata itu bagai penopang bagi batin Ayra—dukungan dari seseorang yang ia percaya di dunia asing ini.


Ia mengangguk pelan, meski kegugupan masih menyelimutinya.


Melihat anggukan samar itu, Senna menghela napas, lalu katanya,


“Tolong... semua, berpegangan pada Aya!”


Suaranya mulai melemah. Wajahnya menegang, menahan perih yang semakin menekan dari balik perisai. Tirai kehijauan di sekeliling mereka tampak retak di beberapa sisi.


Untuk sesaat, tak ada yang bergerak. Namun Reeve, yang sejak tadi menyimak percakapan dalam diam, akhirnya melangkah maju. Ia mengulurkan tangan, menyentuh pundak Ayra, lalu berkata dengan suara serak namun tenang,


“Mari, Nona. Aku percaya padamu.”


Gerakan itu mematahkan kebekuan. Dua pemburu lainnya segera menyusul, menyentuh Ayra dari sisi kanan dan kiri. Garron menyentuh bahu salah satu pemburu, dan Alric meletakkan tangan di lengan ayahnya, lalu menyentuh Ayra.


Terakhir, Kael. Ia menaruh satu tangan di punggung Ayra, sementara tangan satunya menyentuh bahu Senna—yang masih duduk bersila dengan mata terpejam.


Ayra menahan napas. Gugup. Sepanjang hidupnya, ia tak pernah merasa sepenting ini. Seolah dirinya menjadi satu-satunya harapan yang tersisa.


“Aya, sekarang!” seru Senna lagi. Napasnya terdengar berat.


Ayra justru semakin gugup. Pandangannya menyapu wajah-wajah yang kini bersandar padanya. Ada harapan di sana. Ada kepercayaan. Ia memejamkan mata, lalu membukanya kembali.


“Tapi... kita mau ke mana, ya?”


Wajahnya tampak polos sekaligus canggung. Ia tahu pertanyaannya mungkin terdengar konyol, tetapi ia sungguh tak tahu harus membawa mereka ke mana.


“Ke desa Falmora!”


“Tempat aman!”


Lihat selengkapnya