Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #16

Anak dan Ayah

Dari kejauhan, Kael mengamati dua pemburu yang sibuk memunguti ranting dan batang kering.


Api kecil menyala perlahan, seakan enggan mengusik malam yang merayap menelan hutan. Raut letih masih membekas di wajah mereka, menyatu dengan bayang cahaya yang bergetar di atas tanah.


Tanpa sepatah kata, Kael bangkit. Ia meraih busurnya, lalu melangkah masuk ke sela batang-batang pohon dan menghilang di antara bayangan. Tak lama, suara langkah lain menyusul dari belakang.


Garron.


Senna melihat kepergian keduanya. Dalam hati ia hanya bisa berharap mereka tak kembali berselisih di tengah jalan. Kakaknya memang keras kepala, namun ia tahu Kael mampu menahan diri—terutama dalam keadaan seperti sekarang.


Langkah pelan terdengar di sampingnya.


Senna menegakkan badan saat mendapati Reeve berdiri tak jauh darinya.


“Nona, bolehkah aku duduk di sini?”


“Tentu, Tuan,” jawab Senna sambil mengangguk.


Reeve duduk perlahan. Pandangannya tertuju pada api beberapa saat sebelum kembali berbicara.


“Tempo hari kau bilang kalian telah berada di hutan ini selama tujuh hari. Apakah tempat ini termasuk salah satu tempat kalian pernah menepi?”


“Benar, Tuan. Tapi… bagaimana Anda tahu?”


“Kebetulan saja,” jawabnya tenang. “Aku melihat jejak-jejak lama. Bekas perapian kecil, potongan ranting yang tak sepenuhnya lapuk. Itu membuatku yakin bahwa kalian memang pernah berada di sini. Bahwa ucapanmu dan saudaramu mungkin benar.”


Napas Senna terlepas pelan. Ketegangan yang menekan dadanya sejak pagi perlahan mencair.


“Jadi… Tuan akan membebaskan kami?”


“Tentu. Bukankah tadi pagi aku telah mengatakannya?”


Reeve menoleh, sorot matanya menyapu perkemahan.


“Oh ya… di mana gadis luar biasa itu?”


Senna menunjuk ke arah dua pemburu. Tak jauh dari mereka, Ayra duduk dekat api, mempermainkan tangannya di antara nyala cahaya, menciptakan bayangan yang menari di tanah.


Reeve tersenyum tipis. Namun senyum itu meredup saat melihat putranya berjongkok di hadapan Ayra.


Anak satu-satunya.


“Nona,” katanya pelan, “maafkan sikapku. Dan sikap anak lelakiku pagi tadi. Sejak ibunya tiada, aku kehabisan cara membimbingnya.”


Senna terdiam. Ia tak menyangka Reeve akan membuka diri sedemikian rupa.


“Aku sering menerima laporan tentang perangainya—dari warga desa, dari para penjaga. Barangkali aku bukan ayah yang baik. Namun sebagai orang tua yang kelak akan menyerahkan tanggung jawab desa kepadanya, aku merasa harus mendidiknya dengan keras. Maka aku mengajarinya seperti orang tuaku dahulu mengajariku.”


Ia menarik napas panjang.


“Ternyata… kemarahan itu justru ia bawa ke luar. Ia melampiaskannya kepada orang lain.”


Api berderak pelan di antara mereka.

Lihat selengkapnya