"Kau ini... benar-benar mirip dengannya," gumamnya pelan.
Langit di atas mereka berwarna merah muda gelap, kabut malam kini mulai turun perlahan. Udara hutan menjadi lebih dingin. Embusan angin menggoyangkan pucuk dedaunan, mengirim bisik samar di antara ranting yang menggantung.
Kael berhenti, lalu menoleh dengan dahi berkerut.
"Jika saja dia masih hidup, mungkin usianya kini sama sepertimu."
Kael menatapnya, bingung, tetapi tetap diam. Garron berdiri mematung di antara cahaya pucat rembulan yang menembus celah pepohonan.
"Anakku," katanya lirih, suaranya serak namun tegas. "Waktu itu aku sudah melarangnya ikut berburu. Kondisinya memang sedang kurang sehat. Tapi dia keras kepala, persis aku. Dia memaksa ikut. Saat semua pulang dari perburuan, bukan hanya binatang yang mereka bawa, tapi jasad anakku."
Suara serangga malam mengisi jeda. Hutan terasa begitu sunyi.
"Mereka bilang, rombongan sempat diserang binatang sakti. Aku lihat beberapa dari mereka memang terluka. Tapi tak ada yang gugur… kecuali anakku. Itu membuatku marah. Aku kembali ke hutan, mengikuti jejak mereka."
Garron melangkah pelan. Matanya menatap tanah, seolah tengah menyusuri kenangan.
"Sesampainya di tempat kejadian, aku tidak melihat tanda-tanda binatang sakti. Tidak ada darah binatang. Hanya sisa perkelahian…"
Angin berembus lebih kencang. Kael tetap diam, tubuhnya kaku.
"Dia ingin menjadi penjaga. Sama seperti teman-temannya. Katanya, ia sudah tertinggal. Beberapa dari mereka telah lebih dulu lulus pendadaran. Ketika mendengar ujian itu diadakan lagi, dia berlatih siang malam. Aku tahu. Aku melihatnya. Dan aku sangat bangga karenanya."
Matanya berkaca, namun ia tetap berdiri tegak.
"Sudah lama peristiwa itu terjadi. Tapi melihatmu… entah kenapa, aku teringat padanya. Pada anak bengalku. Jika saja… jika saja aku bisa menukar sihir ini dengan kehadirannya, aku akan melakukannya tanpa ragu."
Dedaunan di sekeliling mereka berdesir lembut. Hening mengendap di antara keduanya, lebih pekat dari kegelapan malam yang perlahan turun.
"Nona, bagaimana kau bisa bertemu dengan gadis itu? Siapa namanya?"
Pandangan Reeve masih tertuju pada Ayra—dan anak lelaki satu-satunya yang kini duduk bersamanya.
"Ayra, tapi kami memanggilnya Aya—begitu katanya, orang-orang di rumahnya biasa menyebutnya begitu."
"Kau sangat bijak. Kau menciptakan suasana akrab di tengah ketakutannya, Nona. Aku penasaran, bagaimana gadis itu bisa berada di hutan ini? Dan kalian, bagaimana bisa sampai di sini?"
"Seperti yang sudah saya jelaskan, Tuan, kami berasal dari Wilayah Selatan. Jika Tuan bertanya bagaimana Aya bisa berada di hutan ini juga, sejujurnya saya tidak punya jawaban yang memuaskan. Waktu itu sore hari. Kami sedang berjalan di pinggir hutan ini, mencari tempat bermalam yang baik. Jalur itu terbuka, rumput liar tumbuh di sepanjang jalan tanah yang menanjak perlahan. Pohon-pohon tinggi menciptakan bayangan panjang, sementara dari balik semak lebat samar-samar terdengar suara air mengalir. Kami mengikuti suara itu lalu menemukan sebuah mata air kecil. Airnya jernih, keluar dari celah batu yang membentuk kolam dangkal, dikelilingi pakis dan batu-batu besar. Di sanalah kami menemukannya—seorang gadis, terbaring diam di tepian kolam. Dia tidak bergerak. Rambutnya sebagian basah, menjuntai ke tanah. Wajahnya tenang, nyaris seperti sedang tidur."
Senna menunduk sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih pelan.
"Kael sempat melarang mendekat. Katanya, bisa saja itu jebakan. Atau mungkin gadis itu sudah tak bernyawa. Bahkan, dia khawatir tubuhnya beracun. Kael hanya ingin memastikan kami tidak terjebak bahaya yang tak terlihat. Tapi saya menolak kekhawatirannya, Tuan. Saat saya menyentuh tubuh Aya, ia masih hangat. Napasnya juga teratur, seperti sedang tidur nyenyak. Maka saya putuskan untuk menunggu sampai ia sadar. Dan saat itu tiba—saat matanya terbuka perlahan, lalu menatap langit kita yang merah muda—tiba-tiba ia menangis. Bukan karena sakit atau luka, tapi… karena ia sadar bahwa tempat ini bukanlah dunia yang dikenalnya."
Reeve terdiam sejenak. Suaranya berubah menjadi gumaman, nyaris seperti bicara pada diri sendiri.