Di tengah ketegangan itu, terdengarlah suara tawa ringan menyelusup dari seberang api unggun.
Cahaya bara membias lembut di wajah Ayra yang duduk bersila sambil bercerita. Alric, yang berada tepat di hadapannya, menatap dengan ekspresi campuran antara bingung dan terhibur.
“...jadi aku pura-pura sakit. Padahal sebenarnya aku cuma pengen kabur dari sekolah dan nonton konser!” Ayra terkekeh kecil, matanya berbinar penuh kenangan.
Alric ikut tertawa pelan. “Kau pintar sekali mencari alasan. Pasti menyenangkan pergi beramai-ramai melakukan hal yang kita sukai.”
“Enggak juga. Aku sendirian waktu itu,” jawab Ayra ringan.
“Oh? Lalu... apa yang dilakukan oleh... K-pop?”
Ayra memiringkan kepala. “Hah? Maksudmu?”
“Kau bilang kau pergi untuk melihat K-pop. Aku kira itu nama seseorang.”
Ayra mendesah panjang lalu menyandarkan tubuh ke belakang. “Aduh... susah banget ngejelasinnya. K-pop itu bukan orang, tapi musik. Semacam genre. Yang nyanyi biasanya grup. Namanya boyband, girlband, gitu deh.” Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan, “Terus mereka juga nge-dance.”
“Boyband?” Alric mengernyit, berusaha menangkap maksudnya. “Seperti pasukan lelaki yang menari?”
Ayra tertawa pendek. “Bukan, bukan gitu... ya ampun. Udah deh, daripada aku jelasin panjang lebar, mending aku tunjukin aja.”
Dengan satu helaan napas, Ayra berdiri. Ia mengambil posisi, lalu mulai menirukan tarian yang biasa ia lihat di layar ponselnya—gerakan cepat dan sinkron, disertai ekspresi penuh semangat. Sambil bergerak, ia bersenandung pelan dalam bahasa asing yang tak dipahami siapa pun di sekitarnya.
Ia tak menyadari bahwa hampir semua mata kini tertuju padanya.
Ketika akhirnya sadar, Ayra mendadak berhenti. Wajahnya merah padam. Ia buru-buru duduk kembali dan menutup wajah dengan kedua tangan.
“Ya ampun... malu banget...”
Alric menatapnya dengan mata membulat dan senyum yang nyaris tak tertahan. “Apa itu tadi?”
Tak menjawab, Ayra bangkit lagi—kali ini hanya untuk menjauh. Ia berlari kecil menuju balik semak, membenamkan diri dalam gelapnya malam.
Alric masih menatap ke arah kepergiannya, lalu bergumam pelan, lebih kepada dirinya sendiri, “Apa semua gadis di dunianya seaneh dan selucu itu?”
Ayra yang berlari ke dalam semak terperangah saat melihat rimbun dedaunan di hadapannya bergoyang. Tubuhnya refleks mematung, meski hanya sesaat. Wajahnya kembali tenang ketika Kael dan Garron muncul dari balik bayang-bayang.
Kael nyaris tersentak melihat Ayra sendirian di tengah gelap seperti itu.
“Apa yang sedang kau lakukan di sini?”
Ayra hanya nyengir seenaknya. Itu cukup membuat bahu Kael mengendur. Semula ia mengira sesuatu yang buruk telah terjadi. Garron yang berdiri di belakangnya ikut menghela napas lega.
Alih-alih menjawab, Ayra justru menatap binatang yang tergolek di pundak mereka.
“Itu angsa, ya?”