Kael duduk di sebuah gundukan tinggi. Di bawahnya, mata air jernih mengalir tenang, memantulkan cahaya pucat pagi yang baru menyelinap di sela-sela pepohonan yang tinggi dan rapat. Gelap masih menggantung di antara dedaunan, mengguratkan bayangan yang belum sepenuhnya surut.
Telinganya menangkap samar suara dua perempuan dari arah bawah, diselingi cipratan air yang riang, menandakan mereka masih mandi.
Kael mengerutkan kening. Kesal yang tertahan perlahan mengisi dadanya, seperti embun yang menebal pelan di atas batu. Sudah cukup lama ia duduk di sana, berjaga dalam diam, menunggu Ayra dan Senna menyelesaikan urusan mereka.
Dalam keadaan biasa, ia takkan sudi repot-repot mengurusi hal semacam ini. Namun di antara rombongan yang seluruhnya lelaki, ia tahu tak ada pilihan lain. Menjaga mereka menjadi satu-satunya tugas yang masuk akal.
Ia menarik napas panjang. Udara pagi memenuhi dadanya, tetapi pikirannya telah kembali melayang pada pembicaraan malam tadi, di bawah cahaya redup dan suara api unggun yang menyala pelan.
"Aku telah mengirim pesan pada Karezh, binatang saktiku. Jika pembaca isyarat mampu menafsirkan citranya dengan benar, maka sebelum siang para penjaga akan tiba di sini."
Begitulah gumam Reeve, lirih dan tenang, saat masing-masing dari mereka sibuk dengan santapan malam.
Kael dan Senna saling berpandangan. Kebingungan menyelip di mata keduanya. Mereka melihat sendiri bagaimana Karezh terkapar setelah pertarungan melawan beruang sabit merah. Sulit dipercaya makhluk itu masih mampu bergerak, apalagi membawa pesan sejauh itu.
Reeve, seolah dapat membaca pikiran mereka, hanya tersenyum samar. Lalu berkata dengan nada ringan,
"Aku memiliki sihir Pactra-sejenis ikatan batin. Aku dapat mengirimkan citra tempat ini langsung ke dalam benaknya. Dia akan tahu di mana aku berada. Di desa, ada seorang tetua yang memiliki sihir pembaca isyarat, meski hanya Nomira."
Ia menatap api unggun sejenak, lalu menambahkan,
"Ketepatannya memang tak selalu mutlak. Tapi pengalamannya... cukup dapat diandalkan."
Senna mengangguk pelan. Wajahnya lembut, tetapi nada suaranya sungguh-sungguh saat ia berkata,
"Maaf, Tuan... Anggaplah ini kekhawatiran saya, karena saya memang tidak begitu jelas tadi siang. Tapi sejauh yang saya lihat... Karezh-binatang Tuan-tampak terluka parah. Bahkan saat kita berpindah tempat, dia masih berada di sana. Saya hanya khawatir... kemarahan beruang sabit merah tadi bisa saja ditujukan padanya."
Reeve tersenyum lagi, kali ini lebih lebar, dengan sorot mata yang hangat dan tenang.
"Terima kasih, Nona. Kau perhatian sekali kepada Karezh."
Ia menoleh sedikit ke arah Senna, lalu melanjutkan,
"Begini, Nona. Di saat terakhir sebelum tubuh kita lenyap dari tempat itu, aku sempat berbisik padanya untuk segera menyelamatkan diri. Jadi, tak perlu risau. Aku yakin dia baik-baik saja."
Sejenak Reeve terdiam. Lalu suaranya kembali terdengar dalam dan mantap.
"Seperti yang kubilang, aku bisa mengirimkan citra ke dalam benaknya... dan dia pun bisa melakukan hal yang sama terhadap diriku. Karena itulah aku tahu... dia belum tewas."
Kael menyimak tanpa menyela. Matanya menyala pelan, dikuasai rasa ingin tahu yang belum tuntas.