Sementara itu, di perkemahan, Reeve telah menerima isyarat dari binatang saktinya bahwa rombongan penjaga hampir tiba di tempatnya. Ia segera memerintahkan dua pemburu, Alric, dan Garron untuk berkemas.
“Mereka bertiga lamban sekali,” gumam Alric.
“Kau tak perlu cemas, Tuan Muda. Mereka pasti baik-baik saja,” ujar Garron sambil tersenyum menatapnya.
Alric membelalakkan mata saat melihat senyum itu, membuat Garron buru-buru menunduk. Namun ia tahu tuan mudanya tidak benar-benar marah. Ia hanya sedang tersipu. Pipi Alric bahkan tampak sedikit memerah.
Tak lama kemudian, tiga orang yang mereka tunggu akhirnya muncul di antara pepohonan.
“Eh, kamu nggak mandi?” tanya Ayra begitu melihat Alric menatap ke arahnya.
“Tidak. Ayah bilang para penjaga sebentar lagi sampai.”
“Seriusan? Cepat banget. Ini lho masih pagi,” ujar Ayra antusias.
“Kata Ayah, mereka sudah berangkat sejak dini hari. Karezh yang membimbing mereka langsung, jadi sekarang mereka hampir tiba.”
“Oh gitu… Tapi Karezh nggak capek, ya? Kemarin siang kan dia habis berkelahi lawan binatang seram itu.”
“Kurasa Nenek Ysra sudah menyembuhkannya.”
“Wah lengkap banget ya. Di desamu ada yang bisa ngendaliin hewan, ada yang bisa baca isyarat, ada penyembuh juga, ada yang bisa telekinesis… ada juga yang kayak kamu. Eh, sihir apa sih yang kamu pakai waktu itu buat ngelawan Beruang Sabit Merah?”
“Sihir Kulit Zirah,” jawab Alric tenang.
“Sihir Kulit Zirah?”
“Sihir yang membuat kulitku sekeras baju zirah.”
Ayra mengangguk-angguk kagum.
“Kamu hebat banget deh…”
“Kau juga hebat. Berkat kau, kami semua bisa sampai ke tempat ini.”
“Tuh mulai, ngejek lagi.” Ayra mengerucutkan bibir. Meskipun terdengar seperti pujian, tatapan Alric jelas-jelas sedang menggoda.
“Abisnya aku bingung mau pergi ke mana. Dan tempat ini satu-satunya yang terlintas waktu itu,” jawab Ayra sambil tersenyum.
“Mereka begitu akrab?” gumam Kael, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Senna yang duduk tak jauh darinya menoleh.
“Apa kataku. Kau ini terlalu kaku dan keras. Wajar saja tidak ada gadis yang betah berbincang lama denganmu,” bisiknya pelan agar tak terdengar orang lain.
Kael menatap adiknya dengan sorot garang, seolah hendak menelan bulat-bulat gadis itu.
“Lihat itu,” lanjut Senna santai. “Kau bahkan menakutkan untuk ukuran adik yang sudah seumur hidup mengenalmu.”
Kael meraih batu kecil dan melemparkannya ke arah Senna.
Senna sigap menghindar. Tubuhnya menunduk cepat, membiarkan batu itu melesat di atas bahunya.
Namun refleks membuatnya menoleh ke arah lemparan itu—dan tepat saat itu batu kecil tersebut justru mengenai salah satu pemburu yang sedang berkemas agak jauh dari mereka.
Si pemburu berhenti. Ia mengangkat kepala dan langsung bertatapan dengan Senna.
“Ada apa, Nona?” tanyanya ramah.
Senna terdiam. Kesal sekaligus malu. Ia tahu pemburu itu salah paham dan mengira dialah yang melempar.
“Tidak apa-apa… maaf. Tidak sengaja,” jawabnya sekenanya.
“Oh begitu. Baik, Nona. Tak apa. Jangan sungkan kalau butuh bantuan.”
Senna membalas dengan senyum tipis dan menunduk sebentar.
Namun begitu si pemburu kembali bekerja, Senna memungut batu sebesar telur burung puyuh dan melemparkannya ke arah Kael—seolah itu hukuman kecil yang pantas.
Kael menghindar cepat, lalu tertawa kecil dengan mata menyipit penuh kemenangan.
Saat Senna hendak mengambil batu lagi, pendengarannya menangkap sesuatu.
Suara derap kuda.
Ia terdiam, memusatkan perhatian, menghitung jumlahnya dalam hati.
Di perkemahan, Reeve segera bangkit, diikuti Garron dan dua pemburu lainnya. Ketika Senna melihat sekeliling, semua orang sudah berdiri. Ia pun ikut bangkit dan berdiri di sebelah Kael.
“Akhirnya,” ujar Senna. “Aku sudah khawatir kita harus menunggu lebih lama lagi. Kita tidak tahu apa yang bersembunyi di balik gerumbul hutan ini.”
Kael mengangguk pelan. Hutan ini memang menyimpan terlalu banyak rahasia—bahkan bagi mereka yang lahir dan tumbuh di desa perbatasan.
Ayra memperhatikan kedua bersaudara Vaylan itu berdiri agak terpisah dari rombongan pemburu. Ia pun berjalan mendekat.
Bagaimanapun juga, di dunia ini mereka berdua adalah orang yang paling ia percayai. Jika harus memilih antara rombongan Reeve atau Senna dan Kael, Ayra tahu ia akan mengikuti keduanya.
“Kau mau ke mana?” tanya Alric.
“Mau ke Senna dulu ya…” jawab Ayra sambil menunjuk ke arah mereka.
Alric sempat ingin menahan gadis itu. Namun ketika tatapannya bertemu dengan wajah Kael, ia ragu.
Sebenarnya ia tidak punya masalah dengan lelaki itu. Hanya saja, entah mengapa, setiap kali Ayra tersenyum pada Kael, perasaan Alric terasa tidak nyaman.
“Apa yang kau lakukan padanya?” tanya Senna begitu Ayra tiba.
“Apaan sih. Orang nggak ngapa-ngapain juga,” jawab Ayra cepat, terdengar agak malu.
“Benarkah? Lalu kenapa pria itu menatapmu terus?” goda Senna.