Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #21

Patah Sebelum Bersemi

Angin malam berembus pelan, menggoyangkan ujung-ujung daun dan rambut Ayra yang tidak diikat.


Di sebuah teras gantung yang menjorok ke arah hutan, Ayra duduk sendirian. Ia menatap ke bawah. Dari ketinggian itu, lembah Falmora terbentang dalam cahaya malam: kelap-kelip bioluminesen serangga yang beterbangan, bayangan burung kecil yang hinggap di dahan-dahan pohon, dan kabut tipis yang merayap di antara akar raksasa.


Di atas sana, bulan muda berwarna hijau keperakan menggantung tenang di langit.


Keheningan malam itu akhirnya terusik oleh suara langkah yang mendekat.


“Aku dengar kalian akan melanjutkan perjalanan esok?” tanya Alric, bersandar di pembatas kayu tak jauh dari tempat Ayra duduk.


Ayra mengangguk pelan. Rambutnya melambai lembut tertiup angin malam.


“Sebenarnya... tujuan kalian mau ke mana?” tanyanya lagi.


Tatapan lelaki itu lekat pada wajah Ayra yang masih memandang jauh ke arah hutan, seolah mencoba menemukan sesuatu di antara gelapnya pepohonan.


“Aku juga nggak tahu... mau ke mana. Tapi seenggaknya, bareng sama mereka berdua ngasih aku harapan. Harapan buat nyari tahu gimana caranya kembali ke duniaku sana,” jawab Ayra akhirnya.


“Apa tidak bisa kau tetap tinggal? Aku berjanji akan melakukan segala cara untuk membawamu pulang.”


Ayra tersenyum tipis.


“Kamu punya tugas di sini. Aku nggak mau bikin kamu repot,” sahutnya pelan.


Ia terdiam sejenak.


Ucapan Senna kembali terngiang dalam benaknya. Percakapan yang terjadi sebelum ia datang menemui Alric malam ini.


“Aya, apa kau menyukai Alric?”


Ayra waktu itu terkejut.


“Kenapa kamu ngomong gitu? Kamu kan tahu, aku sama dia itu temenan.”


“Ayolah, Aya. Aku tahu kau bukanlah gadis kecil lagi. Hampir setiap hari kalian bersama—berburu, berlatih bela diri... Apa kau hanya ingin memanfaatkan kebaikannya saja?”


“Aku bicara begini demi kalian berdua. Kau tentu tak lupa di mana kita sekarang, dan siapa Alric di mata penduduk Falmora.”


Hampir tidak pernah Senna berbicara setajam itu padanya.


Namun jika harus jujur, Ayra memang menikmati perhatian itu. Cara Alric menatapnya. Sikap lembutnya. Perhatian-perhatian kecil yang terasa hangat dan... manis.


Beberapa hari lalu, saat mereka berjalan bersama dan bertemu teman-teman Alric, lelaki itu dengan bangga memperkenalkannya. Bahkan ketika salah satu dari mereka mencoba mengganggu Ayra, Alric langsung menghajarnya tanpa ragu.


Sebenarnya, baik Senna maupun Kael memang ingin segera melanjutkan perjalanan.


Ayra tahu, meskipun mereka tidak pernah mengatakannya secara langsung, keduanya sedang mencari jejak seseorang. Seseorang yang telah membunuh kedua orang tua mereka.


Namun Reeve selalu menahan mereka bertiga agar tidak pergi.


Terlebih sejak Alric berubah. Ia menjadi lebih tenang, lebih terarah. Dan Reeve tahu perubahan itu terjadi karena kedekatannya dengan Ayra. Itulah yang membuat sang Reeve semakin berat melepas mereka.


Beberapa kali Kael sempat protes, tetapi tampaknya Garron selalu berhasil meredam amarahnya.


Ayra sering melihat Kael dan Garron berlatih pedang bersama. Berburu. Mengintai. Membaca jejak.


Dari situlah Ayra tertarik belajar bela diri.


“Biar aku nggak cuma jadi beban... kalau ada orang yang punya niat jahat, aku bisa jaga diri sendiri.”


Itu yang Ayra katakan waktu itu.


Sementara itu, Senna lebih tertarik mempelajari tanaman obat, cara meramu ramuan, dan mendalami sihir penyembuhan. Kebetulan Nenek Ysra—penyembuh tua yang pernah merawat Karezh—bersedia mengajarinya.


Itulah sebabnya mereka masih bertahan di Desa Falmora.


Namun waktu terasa semakin lama.


Akhirnya Senna dan Kael memutuskan bahwa esok pagi mereka akan melanjutkan perjalanan.


Senna tidak memaksa Ayra ikut.


Tetapi Ayra tentu saja tidak ingin ditinggal sendirian.


Dan ketika Alric mendengar kabar itu, ia memanggil Ayra diam-diam ke tempat ini. Teras gantung yang sunyi, di bawah sinar bulan yang dingin dan tenang.


Ayra bangkit dari duduknya. Ia ikut bersandar pada pembatas kayu, meskipun wajahnya masih mengarah ke hutan.


“Sepertinya ada yang berbeda darimu malam ini,” gumam Alric.


“Oh ya? Apa itu?” tanya Ayra sambil sekilas memandang wajah Alric, lalu buru-buru mengalihkan pandangan.


“Kau lebih pendiam dari biasanya. Bahkan, agaknya keceriaan itu hilang. Jika kau berat pergi dari desa ini, sungguh, aku tidak keberatan. Atau…”


“Atau?” tanya gadis itu, penasaran.


“Mungkin kau berat berpisah dariku,” jawab Alric dengan tawa kecil.


Ia berusaha menjadikannya gurauan. Namun Ayra bisa merasakan kegugupan di balik kata-katanya.


Ngilu perlahan merayap di dada Ayra.


Setelah ia melihat sendiri sikap Alric selama ini, rasanya tidak berlebihan jika Senna merasa cemas. Selama ini Ayra seolah menerima begitu saja semua perhatian dan kehadiran yang Alric berikan.


Dan itu membuatnya semakin merasa bersalah.


Ia tahu dirinya tidak pernah menaruh perasaan yang sama.


Namun perhatian itu... sikap manis itu... semua terasa baru dan hangat baginya.


Di dunianya sana, tidak ada yang pernah memberinya perhatian sebesar itu.


Bahkan kedua orang tuanya sendiri—orang yang seharusnya memberinya rasa aman dan kasih—tidak pernah benar-benar hadir seperti itu.


Yang ia dapat hanyalah percekcokan tanpa henti. Suara keras. Ketegangan di setiap sudut rumah.


Hingga akhirnya mereka berpisah.


Anehnya, itu justru satu-satunya hal baik yang pernah mereka lakukan untuknya.


Setelah itu, ibunya membawanya tinggal bersama neneknya. Dan di sanalah, jauh dari hiruk-pikuk kota, Ayra akhirnya menemukan bentuk cinta yang selama ini ia cari.


Walaupun harus hidup jauh dari glamor, dari tuntutan hidup yang tinggi, Ayra justru merasa lebih tenang.


Ia tidak perlu tampil sempurna.


Ia tidak harus menjadi siapa-siapa.


“Nggak sepenuhnya salah, sih. Kamu tuh baik banget, tahu?” ucap Ayra sambil menoleh sebentar. “Padahal awalnya aku mikir kamu tuh orangnya nyebelin. Inget nggak waktu pertama kita ketemu? Yang waktu itu, maksudku, aku, Kael, sama Senna diajakin berburu sama Reeve? Kamu ngomong apa coba? Rasanya pengen aku keramasin, tahu, mulutmu—hehehe.”


Ia tertawa kecil.


“Tapi waktu kita ada di hutan, terus kamu nyamperin aku, terus kita ngobrol panjang lebar soal dunia ini, soal perbedaannya sama duniaku sana... aku tuh merasa kayak punya teman baru. Kayak punya abang, gitu.”


Ia menarik napas perlahan.


“Aku jadi mikir... ini kali, ya, rasanya punya abang. Makasih, ya…”


Ayra melirik Alric setelah mengatakan itu.


Ia mencoba membaca wajah lelaki itu. Mencoba menakar apakah kata-katanya barusan telah melukai hati Alric.


Alric menggigit bibirnya.


Matanya terlihat sayu ketika mendengar gadis itu menyebut dirinya sebagai kakak.


“Jadi, aku hanya seorang kakak untukmu?”


“Padahal Aku berpikir kita lebih dari itu… Kau tahu, aku selalu mendapatkan apa saja yang aku mau. Bahkan saat menginginkan seorang gadis untuk menemaniku—sebagai teman, atau dalam arti yang lebih dalam—tidak akan ada yang berani menolak. Jika pun ada, aku cukup menggertaknya, mengancam, dan dia akan patuh. Tapi kau...” Alric terdiam seketika, ia menahan agar tidak menunjukkan perasaannya lebih jauh lagi, betapa berharganya gadis itu dimatanya.


kau gadis yang berbeda.”


Lihat selengkapnya