Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #22

Penculikan di Pusat Desa

"Kau tak apa pulang selarut ini sendirian?"


Ayra menoleh dan tersenyum menenangkan.


"Nggak apa-apa kok. Lagian juga nggak jauh ini."


Perempuan tua di hadapannya masih terlihat khawatir, meski senyum Ayra sudah berusaha meredakannya.


"Aku minta maaf telah membuatmu bekerja sangat keras hari ini. Tapi mau bagaimana lagi... aku tidak bisa menolak pesanan dari orang-orang itu."


Ayra mengusap lembut lengan perempuan tua itu.


"Bik, nggak apa-apa... Aku senang kok bisa bantu. Aku juga butuh uang, jadi kita sama-sama saling membutuhkan, kan?"


Setelah membereskan barang-barangnya dan menyampirkan tas selempang di bahu, Ayra pun berpamitan.


Perempuan tua itu telah memberinya pekerjaan selama beberapa bulan terakhir—sejak ia dan dua rekannya meninggalkan Falmora.


Perjalanan dari sana menuju pusat desa memakan waktu beberapa hari. Ketika akhirnya tiba, mereka memutuskan tinggal sementara di tempat itu. Beristirahat, mengumpulkan uang, menyiapkan diri sebelum melanjutkan perjalanan panjang yang masih menanti.


Ayra berjalan menyusuri gang kecil menuju rumah sewaan mereka.


Ternyata... nggak di sini, nggak di dunia asalku, duit tetap saja duduk di singgasana tertinggi di hadapan manusia, pikirnya getir.


Awalnya ia mengira pusat desa berarti pusat pemerintahan. Namun kenyataannya berbeda. Tempat itu lebih mirip kawasan pertemuan dan perdagangan bagi desa-desa di sekitarnya—ramai, bising, penuh suara tawar-menawar dan langkah kaki yang tak pernah benar-benar berhenti.


Langkah Ayra mendadak terhenti.


Ia termangu.


Ada sesuatu yang terasa tidak beres.


Perasaan aneh merambat di punggungnya, tipis namun jelas—seperti ada tatapan yang mengikutinya dari kejauhan.


Ayra menoleh cepat. Matanya menyapu sekeliling dengan waspada.


Pandangan itu akhirnya berhenti pada tumpukan karung di sisi timur laut dari tempatnya berdiri. Tidak jauh, hanya sedikit menyerong dari arah hadapnya.


Dalam satu kedipan, Ayra mengaktifkan sihirnya.


Tubuhnya lenyap.


Sesaat kemudian ia sudah berada di balik tumpukan karung itu, bersembunyi dalam diam.


Dari celah sempit di antara karung-karung kasar, ia mengintip keluar.


Dua lelaki asing tampak berdiri tak jauh dari sana. Keduanya terlihat kebingungan, menoleh ke sana kemari—seolah sedang mencari seseorang.


Mencariku?


Ayra menahan napas.


Ia sebenarnya tidak ingin berkonfrontasi. Pilihan terbaik adalah kembali ke rumah secepat mungkin.


Namun sebelum ia sempat mengaktifkan sihirnya lagi—


Jeritan tiba-tiba memecah udara.


Jeritan seorang perempuan.


Ayra tersentak dan refleks berbalik ke arah suara itu.


Di depan sebuah penginapan, seorang perempuan diseret paksa keluar. Rambutnya kusut. Tubuhnya meronta dalam cengkeraman kasar seorang lelaki bertudung.


Hal yang paling membuat Ayra geram bukanlah pemandangan itu.


Melainkan orang-orang di sekitarnya.


Tak ada yang bergerak menolong.


Sebagian hanya mengintip dari balik jendela. Sebagian lagi pura-pura sibuk dengan urusan mereka sendiri.


Ayra menggertakkan gigi.


Lihat selengkapnya