Sementara itu, di rumah sewaan, Senna gelisah.
Bukan kebiasaan Ayra pulang selarut ini. Biasanya justru dialah yang paling dulu tiba di rumah.
Sejak tadi Senna sebenarnya ingin menyusul Ayra ke tempat kerjanya. Namun keraguan terus menahannya. Ia takut membuat gadis itu merasa tidak nyaman—seolah Ayra hanyalah anak kecil yang perlu dijemput oleh orang tuanya.
Waktu berlalu.
Malam semakin dalam.
Namun hingga saat langit mencapai puncak sunyinya, Ayra belum juga kembali.
Senna bangkit ketika mendengar langkah kaki dari luar. Harapannya sempat menyala—namun saat yang muncul di ambang pintu ternyata Kael, rasa panik itu justru semakin menguat.
“Kau kenapa? Apakah kau tak suka melihatku pulang?” tanya Kael dengan dahi berkerut.
“Bukan begitu, Kael. Aku... aku khawatirkan Aya.”
Belum sempat Senna menjelaskan lebih jauh, Kael langsung menyambar,
“Aya? Dia belum kembali dari pekerjaannya?”
Senna menggeleng.
“Lalu, kau hanya diam?”
“Bukan begitu. Aku hanya... tidak ingin membuatnya merasa diawasi. Tak enak jika aku menjemputnya seolah dia anak kecil yang sedang bermain.”
Kael menarik napas panjang.
“Ayo kita cari dia. Meskipun Aya sudah bisa melindungi dirinya sendiri, tapi dia masih terlalu hijau untuk mengenali kelicikan orang-orang di luar sana.”
Tanpa menunggu jawaban, Kael segera berbalik. Ia keluar rumah dan mulai menyiapkan kudanya.
Senna mengikuti dari belakang.
Tak lama kemudian mereka sudah berkuda bersama, menyusuri jalan malam yang mulai lengang.
Di tengah perjalanan, Senna melirik kakaknya.
Keletihan tampak jelas di wajah Kael.
Tiga hari lalu ia baru saja mengantar rombongan keluarga kecil yang hendak mengungsi. Baru hari ini ia kembali—dan bahkan belum sempat beristirahat.
Sekarang ia harus pergi lagi.
Meski jarak dari rumah sewaan mereka ke Rumah Makan Brynmor—tempat Ayra bekerja—tidak terlalu jauh, lelah tetaplah lelah.
Namun Kael tidak mengeluh.
Yang tidak mereka ketahui, jalan yang mereka ambil berbeda dari rute yang biasa dipilih Ayra.
Itulah sebabnya, meskipun Senna terus memperhatikan sekitar sepanjang perjalanan, ia tidak menemukan jejak apa pun.
Akhirnya mereka tiba di Rumah Makan Brynmor.
Perempuan tua pemilik rumah makan itu tampak terkejut saat mereka menanyakan Ayra.
“Jadi... gadis itu belum kembali? Aku sudah mewantinya untuk menginap saja di sini, karena pekerjaannya selesai sangat larut. Tapi Ayra menolak,” ujarnya cemas.