Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #24

Cahaya Batu Sihir



Gadis itu mengerang pelan sambil menyentuh pelipisnya. Kelopak matanya terbuka perlahan.


Sesaat, hanya gelap yang menyambutnya.


Ia menoleh ke samping ketika mendengar sebuah helaan napas.


Matanya mengerjap beberapa kali, mencoba membiasakan diri dengan lingkungan yang redup. Dalam samar cahaya, ia melihat seseorang duduk memeluk lutut. Rambut berwarna tembaga muda menutupi sebagian wajahnya. Hanya isak pelan yang terdengar dari arah itu.


“Kamu nggak apa-apa?” tanya gadis itu.


Orang tersebut mengangkat wajahnya. Di matanya terpantul keterkejutan kecil—seolah heran melihat ketenangan pada gadis yang baru saja siuman.


“Apa kau tidak takut? Kau lihat tempat ini? Orang-orang itu telah menyekap kita.”


Gadis itu mengangguk kecil.


“Ya, tahu kok. Tapi ya mau gimana lagi? Kita cuma bisa nunggu, kan? Apa yang mereka mau dari kita…”


“Kau... kau itu sedang bermimpi atau bagaimana? Sadarlah! Kita itu berada dalam bahaya!” orang itu hampir membentak.


Gadis itu terdiam sejenak.


Tentu saja ia takut. Jantungnya masih berdebar sejak pertama kali tersadar. Namun jika ia ikut panik, siapa yang akan menjaga agar mereka tetap waras?


Karena itu ia memilih bersikap biasa saja—seolah semua ini tidak seburuk kenyataannya.


Meskipun itu hanya pura-pura.


Gadis berkuncir kuda itu menghela napas panjang. Menurutnya, perempuan bergaun kuning di depannya terlalu penakut. Ia tahu mereka berada dalam situasi sulit, tapi bukankah panik hanya akan menghabiskan tenaga?


“Apa nggak sebaiknya kita kumpulin tenaga aja, daripada kamu marah-marah kayak gitu?”


“Kau... kau ini bicara apa? Kenapa cara bicaramu seperti itu? Atau jangan-jangan... kau komplotan mereka?”


Perempuan itu menekik panik. Tangannya refleks menutupi mulutnya sendiri. Tubuhnya beringsut menjauh dari gadis berkuncir kuda itu.


Melihat reaksi itu, gadis tersebut hanya tersenyum kecil.


“Namamu siapa? Aku Ayra.”


Sekali lagi, gadis berambut tembaga muda itu tampak heran. Dalam situasi genting seperti ini, kenapa Ayra justru menanyakan hal-hal yang terasa tidak penting?


“Terserah deh. Aku pengin istirahat dulu. Tolong jangan berisik, jangan kenceng-kenceng kalau nangis.”


Ayra lalu duduk di seberang perempuan itu, yang kini terdiam. Entah karena menuruti permintaan Ayra, atau karena tenaganya memang sudah habis setelah terus menangis.


Lucunya, ingatan tentang desa Falmora tiba-tiba melintas di benaknya.


Saat itu ia, Kael, dan Senna pernah tertangkap oleh Reeve Halden. Kael bahkan hampir menghancurkan tempat penyekapan mereka.


Untung saja ia tidak benar-benar melakukannya.


Sebab penjara itu ternyata berada di ketinggian—tempat yang sama sekali tidak terlihat dasarnya.


Ayra menyentuh dinding di belakangnya. Dingin dan kasar.


“Kayaknya terbuat dari batu,” pikirnya.


Ia mencoba memanggil sihirnya, tetapi nihil. Seolah seseorang telah menguras daya sihir dari tubuhnya.


Ayra termangu. Sekelebat ingatan muncul—saat ia dibawa, sebelum dimasukkan ke dalam tahanan, ia dicekoki oleh sesuatu.


Apa gara-gara itu, ya?


Jantung Ayra berdebar.


Jika ia tidak bisa menggunakan sihir, lalu bagaimana mereka bisa keluar dari tempat ini?


“Apa kau gadis yang ada di penginapan semalam? Yang mencoba menghentikan pria brengsek yang menculikku?”


Ayra sedikit tersentak lalu kembali memasang wajah tenangnya.


Setelah keheningan cukup lama, akhirnya perempuan berambut tembaga muda itu kembali membuka mulut.


“Ya, syukurlah kamu inget aku.”


“Kau ini bodoh, ya? Aku bertanya. Kau pikir, di tempat yang hanya remang-remang seperti ini, aku bisa melihat wajahmu dengan jelas?”


Ayra malah nyengir.


“Eh, iya juga ya... Hehehe. Maaf ya.”


Perempuan itu tertegun.


Sikap Ayra benar-benar di luar bayangannya.


Tadi ia sempat ingin membuat gadis itu kesal, supaya ia punya alasan untuk terus berbantah—meluapkan ketidakberdayaannya. Tapi respons yang ia dapat justru sama sekali tidak seperti yang ia harapkan. Gadis itu hanya tidak tahu jika Ayra tengah gelisah, bahkan lebih dari sebelumnya. Namun sekali lagi demi menjaga suasana agar tidak lebih tegang, Ayra memutuskan menekan kuat-kuat kegelisahannya.


“Namaku Lyza,” ucap gadis itu akhirnya, agak canggung.


“Lisa Blackpink bukan, sih?” tanya Ayra sambil tersenyum.


Lyza hanya bengong, semakin merasa aneh dengan tanggapan gadis berkuncir kuda itu.


Lihat selengkapnya