Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #25

Muara Pencarian

Batu itu terasa hangat di tangan Ayra. Tubuhnya bergetar pelan, seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang bereaksi terhadap benda itu. Sensasi itu membuat bulu kuduknya meremang.


Ia merasa ada aliran dari dalam tubuhnya yang sedang ditarik keluar—seperti darah yang dipaksa mengalir menuju batu itu, seolah benda tersebut sedang menyedot sesuatu dari dirinya.


Ayra mengenali sensasi itu.


Itu adalah daya sihirnya.


Sama seperti saat ia menggunakan sihir berpindah tempat. Sensasi yang sama ketika ia memanggil kekuatan itu dari dalam dirinya.


Ayra memejamkan mata lebih erat, berusaha menahan arus tersebut. Ia mencoba menghambatnya sebisa mungkin.


Ia tidak benar-benar tahu apa yang akan terjadi. Namun menurutnya, jika daya sihir itu mengalir sepenuhnya, batu tersebut akan berpendar terang—dan itu akan membuatnya terpisah dari Lyza.


Ayra menarik napas panjang, menahan kekuatan itu agar tidak meluap sepenuhnya.


Beberapa saat kemudian, ia membuka matanya.


Batu itu masih terasa hangat di telapak tangannya. Permukaannya diselimuti cahaya merah muda tipis yang berdenyut perlahan, seolah hidup.


Seorang pria berjubah coklat melangkah maju dari kerumunan. Taviero merangsek ke depan dengan wajah tegang.


“Tuan Bastien, tunggu sebentar! Gadis itu pemilik sihir berpindah tempat. Sihirnya tergolong Eldrana. Aku yakin akan hal itu—karena akulah yang menangkapnya semalam.”


Di sudut ruangan, seorang perempuan berdecih pelan. Lucefia menatap Taviero dengan sorot mengejek, sudut bibirnya terangkat tipis.


“Itu berarti kau terlalu lemah, Taviero. Aku sudah mendengarnya. Kalian bertiga dipermalukan oleh seorang gadis.”


Taviero menoleh tajam.


“Lucefia, jaga mulutmu! Kau tidak jauh lebih baik dariku. Beberapa waktu lalu, bukankah rombonganmu juga babak belur oleh gadis penenun itu?”


Ketegangan merambat di ruangan seperti tali yang ditarik terlalu kuat.


Bastien akhirnya menghentakkan tongkatnya ke lantai. Suaranya menggema keras di ruangan.


“Cukup!”


Ruangan itu seketika sunyi.


“Taviero, kau tahu batu ini tidak mungkin keliru. Sang Agung Drevorn sendiri yang memberikannya kepadaku. Batu ini membaca daya sihir seseorang dengan tepat. Apa kau hendak meragukan Sang Agung?”


Taviero menunduk dalam-dalam.


“Maafkan saya, Tuan Bastien. Bukan maksudku meragukannya… tetapi bagaimana jika ramuan pelemah sihir itu masih bereaksi pada gadis tersebut?”


Bastien mendengus pelan.


“Ramuan itu juga berasal dari Sang Agung. Batu ini diciptakan untuk meniadakan pengaruhnya. Begitu diletakkan di telapak tangan seseorang, efek ramuan itu akan lenyap… dan kekuatan sihir yang sebenarnya akan terlihat.”


Bastien mengibaskan tangannya, gerakan yang jelas dimaksudkan untuk menyudahi pembicaraan.


“Sudahlah. Bawa gadis ini.”


Ayra didorong maju menuju kelompok gadis dengan cahaya redup yang berdiri tak jauh dari sana.


Bastien melanjutkan dengan suara datar, seolah sedang membicarakan barang dagangan biasa.


“Sekarang, bawa gadis itu ke Paviliun Delima. Selebihnya, jual saja kepada para hartawan mata keranjang. Ingat, jangan buat kulit mereka lecet barang sedikit pun—itu akan mempengaruhi harga.”


Ucapan itu membuat dada Ayra seperti terbakar.


Tangannya mengepal keras. Tubuhnya gemetar menahan amarah yang mendidih.


Sekelompok gadis bercahaya redup mulai digiring keluar oleh beberapa lelaki kasar. Mereka berjalan sambil melontarkan kata-kata menjijikkan. Beberapa bahkan dengan sengaja menyentuh tubuh para gadis itu, seolah mereka hanyalah barang yang sedang diperiksa sebelum dijual.


Ayra merinding melihatnya.


Kesabarannya habis.


Ia mencoba menarik kembali daya sihir dari dalam tubuhnya. Sesaat kemudian, senyum tipis muncul di wajahnya saat ia menyadari kekuatannya telah pulih.


Rasakan ini, dasar brengsek, geramnya dalam hati.


Dalam sekejap, tubuhnya menghilang dari tempat semula. Cahaya merah muda beriak seperti air yang disentuh batu.


Ia muncul tiba-tiba di belakang para lelaki itu.


Tanpa peringatan, Ayra langsung menghajar mereka satu per satu.


Karena terlalu terkejut, mereka bahkan tidak sempat melawan. Pukulan Ayra mendarat cepat dan keras. Suara benturan bergema di ruangan, memancing keributan yang segera menarik perhatian banyak orang.


Beberapa gadis yang berdiri di barisan cahaya terang menoleh ke arahnya.


Mata mereka sekejap menyala oleh harapan.


Melihat keributan itu, orang-orang dari pihak lawan segera merangsek maju. Mereka mendorong para gadis dengan cahaya terang agar cepat masuk ke dalam sebuah ruangan yang tampak gelap dari luar.


Di tengah kerumunan itu, seorang gadis berpakaian indah dengan motif bunga lili bergerak pelan.


Berbeda dari yang lain, ia tidak panik.


Ia mengambil sedikit jarak, lalu mengangkat tangannya.


Dari jemarinya melayang benang-benang halus.

Lihat selengkapnya