Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #26

Bayang Gelap yang Kembali

Drevorn… ulang Senna pelan.


Seolah disambar petir, tubuhnya tersentak. Ia mematung.


Nama itu.


Bukankah siluman biadab itu telah terusir dari wilayah Barat puluhan tahun lalu?


“Sen, awas!”


Ayra tiba-tiba menarik tubuh Senna, lalu menghilang bersamanya dari tempat itu. Dalam sekejap, mereka muncul kembali beberapa langkah jauhnya.


“Sen, kamu kenapa? Apa yang laki-laki itu lakuin? Dia punya sihir lain selain manjangin tangan?”


Pertanyaan Ayra meluncur cepat, penuh kewaspadaan.


Senna menggeleng pelan.

“Aku hanya terkejut. Terima kasih, Aya… maaf membuatmu khawatir.”


Ia tidak menjawab pertanyaan Ayra lebih lanjut.


Ayra masih kebingungan, tetapi tak punya waktu untuk berpikir. Taviero kembali menyerang. Ia terpaksa melenting ke belakang, menghindar dengan cepat.


Sementara itu, Lyza—yang sempat merasa aman karena dua pengawalnya telah kembali—kini kembali panik.


Jumlah musuh bertambah.


Dan dua pengawalnya kini harus menghadapi lebih dari satu lawan.


Lyza menyandar pada dinding. Tubuhnya ikut bergeser setiap kali para pengawal menangkis atau menghindari serangan. Napasnya tersengal. Ia menggigit bibir—tak berdaya, tetapi menolak menangis lagi.


Jadrel dan Corven bergerak selaras.


Saat salah satu mundur untuk mengambil napas atau memperbaiki pijakan, yang lain langsung maju, menyambut serangan. Pergantian itu nyaris tanpa cela. Mereka saling menutupi celah.


Kerapatan pertahanan itu mulai membuat lawan kewalahan.


Corven memutar pedangnya, menangkis serangan dengan kuat. Lawannya meringis, menahan nyeri akibat benturan logam.


Tanpa memberi waktu, Corven melesat maju. Kakinya menghantam dada lawan hingga tubuh itu terguling ke belakang.


Ia berada di atas angin.


Dan justru di situlah celahnya terbuka.


Serangan dari sisi kiri datang tanpa sempat ia sadari. Jadrel pun tak sempat memperingatkan—dua lawannya sedang menekannya habis-habisan.


Blaaass!


Tombak musuh menembus sisi perut Corven.


Ia mengerang. Tubuhnya terhuyung, tangannya refleks menekan luka yang mulai mengucur darah.


Di kejauhan, Lyza membeku. Napasnya tertahan. Ia tak mampu bergerak.


“Mundur! Tahan lukamu dulu—biar aku yang menghadapi mereka!” seru Jadrel.


Corven mengangguk lemah, lalu mundur dari medan tempur. Lyza segera menghampirinya.


“Kau tidak apa-apa?”


“Tidak, Putri… saya baik-baik saja,” jawabnya, meski suaranya bergetar.


Ia merogoh kantung di pinggangnya, mengeluarkan bulatan kecil, lalu menempelkannya pada luka. Benda itu memipih, lalu lenyap dalam cahaya kehijauan tipis.


Luka itu perlahan menutup.


Meski begitu, wajahnya tetap pucat. Sesekali ia meringis menahan sisa nyeri.


Tiba-tiba, terdengar siulan panjang—melengking tinggi.


Lyza menoleh.


Jadrel berdiri dengan kedua tangan mengatup di depan mulut, meniup dengan tenang.


Seketika ia mengerti.


Sihir suara.


Lyza menghela napas. Dalam hati, ia berdoa agar Jadrel mampu mengalahkan keempat lawan itu.


Sebagai putri Reeve, ia tidak memiliki sihir Eldrana. Tidak satu pun.


Lihat selengkapnya