Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #27

Benang Penahan Kehancuran

Di tempat yang berbeda, Ayra membuang napas berat seraya mengusap peluh dari keningnya. Sekilas, ia dan lawannya tampak seimbang: keduanya sama-sama memiliki sihir yang membuat pergerakan mereka lebih lincah dari orang kebanyakan. Namun kenyataannya tidak begitu. Ayra baru beberapa bulan menguasai sihir berpindah tempat, dan kemampuan bela dirinya pun belum sepenuhnya matang. Ketimpangan itu terlihat jelas; sejauh ini ia belum berhasil melukai lawannya—sementara tubuhnya sendiri sudah digores di beberapa tempat oleh senjata lawan yang berbentuk seperti cakar.


"Aya, kau tak apa-apa?" seru Senna dari sisi kanan, berjarak puluhan langkah darinya.


Untaian rambutnya berkibar saat gadis itu melompat menangkis serangan lawan yang mampu memanjangkan tangan; bahkan jemari dan kukunya ikut memanjang serta meruncing laksana belati.


Ayra sempat menoleh. Ia melihat Senna memegang pedang dengan mantap. Meskipun lawannya punya jangkauan lebih jauh, gadis itu terlihat siap. Sesekali, lawan Senna justru terpaksa mundur, terdesak oleh ayunan pedang yang lincah.


Fokus Ayra terpecah saat ia tersentak mendengar jeritan beberapa gadis dari sisi lain. Pekikan mereka menggema di udara ketika beberapa lelaki kasar mencoba meringkus kembali tubuh-tubuh yang sempat bebas.


"Kau lihat? Itu akibat ulahmu!" Taviero berseru sambil mundur beberapa langkah, seolah sengaja memberi ruang agar Ayra bisa melihat tragedi itu. "Kalau saja kau tak mengacaukan ini semua, kalau saja kau tidak melawan, mereka tidak akan bernasib seperti ini."


Masih terlalu muda dan belum berpengalaman, Ayra justru mengikuti permainan Taviero. Ia menoleh ragu—dan matanya langsung membelalak ngeri.


Beberapa tubuh gadis tergeletak bersimbah darah. Yang lain telah dikuasai lawan mereka. Sebagian masih mencoba melawan, tetapi jelas musuhnya hanya mempermainkan mereka. Suara tawa, ejekan merendahkan, dan sentuhan yang tak pantas saling bersahutan, menciptakan sebuah mimpi buruk yang menjelma hidup di siang bolong. Jantung Ayra mencelos.


"Nggak! Nggak... seharusnya nggak kayak gini, ini... salahku," ucapnya lirih. Suaranya bergetar menahan isak, sementara tubuhnya seakan kehilangan tenaga.


Dorongan di dalam hatinya meronta kuat; keinginan untuk melesat ke tempat itu begitu besar. Namun tubuhnya menolak—rasanya seakan lumpuh.


Di kejauhan, Taviero yang berdiri santai tampak menikmati pemandangan hancurnya jiwa sang gadis di hadapannya. Ayra benar-benar kehilangan semangat. Ia tak tahu di mana dirinya berdiri, tak tahu apa yang harus dilakukan. Ia bahkan tak menyadari bahwa Taviero kini sudah berada tepat di belakangnya.


Sepasang mata pria itu menyala kemerahan, sementara seringai puas terpatri jelas di wajahnya. Cakarnya, yang terbuat dari logam gelap nan dingin, bersiap menyergap tubuh Ayra dari belakang.


Di tempatnya, Senna yang masih terus bertarung sama sekali tak melihat bahaya itu. Lawannya justru terus mendorong ritme pertarungan agar Senna tidak memiliki kesempatan sedikit pun untuk mengkhawatirkan orang lain.


Angin mendesis saat cakar logam itu terayun ganas, menyasar punggung Ayra. Lelaki itu sudah sangat yakin bahwa kali ini ia pasti bisa mencabik tubuh gadis yang membuatnya sangat kesal itu.


Namun agaknya semesta masih ingin melindungi Ayra. Saat senjata itu nyaris mencakar kulit, desiran angin yang dibawanya bahkan mampu membuat jaket dan rambut gadis itu berkibar liar. Ajaibnya, cakar mematikan itu mendadak berhenti beberapa senti saja dari punggung Ayra. Taviero tersentak kaget dan lekas menoleh ke belakang.


Di sana berdiri seorang gadis berpakaian indah bermotif bunga lili di bagian dada, berjarak beberapa langkah darinya.


"Apa orang tuamu tidak pernah mengajarkan padamu untuk tidak menyerang orang yang sedang lemah?" kata gadis itu dengan nada tenang, namun sorot pandangannya terasa tajam menusuk.


"Sayangnya orang tuaku tidak secengeng itu. Mereka mengajariku, jika orang lain lemah atau tidak berdaya—apa pun alasannya—sudah sewajarnya aku menghancurkannya! Karena dunia ini tidak diciptakan untuk orang-orang yang lemah," jawab Taviero lantang, wajahnya mengeras marah karena usahanya digagalkan mentah-mentah.


Lihat selengkapnya