Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #28

Dua Bersaudara Siluman

Suara Ayra.


Mendengar panggilan ceria itu, entah bagaimana, Senna seketika mengetahui satu hal yang pasti: tirai pelindungnya belum akan runtuh.


"Kau lagi!" seru lelaki bertangan panjang itu, suaranya sarat kekesalan.

"Hei,” Ayra membalas santai seraya melambaikan tangan di udara. “Ketemu lagi deh. Kamu kenapa sih, kayaknya bete gitu? Kan kamu sendiri yang semalam bawa aku ke sini," lanjut gadis itu sambil memamerkan cengirannya.


Wajah sang lawan mengeras. "Di mana lawanmu?" tanyanya menyelidik, pandangannya berkeliling mencari rekannya.

"Siapa? Oh, temenmu yang cepet banget itu ya? Tuh," sahut Ayra ringan. Ia menganggukkan dagu ke arah tubuh Taviero yang kini tergeletak kaku dalam posisi telentang, lidah menjulur keluar, sepasang mata melotot ngeri.


"Bangsat!" umpat pria itu murka.


Dalam satu kilatan amarah, lelaki itu langsung mengayunkan tangannya. Seketika lengannya memanjang tak wajar, menembus udara dengan cakar-cakar meruncing yang siap mencabik tubuh Ayra. Membaca serangan itu, Ayra bereaksi kilat—tubuhnya lenyap sekejap, lalu muncul di belakang sang penyerang, menarik tangannya untuk melayangkan pukulan. Namun refleks musuhnya tak kalah buas; lengannya yang memanjang itu meliuk dengan sudut mustahil, berpatah arah tanpa jeda, jemarinya berbalik menyongsong tubuh Ayra.


Gadis itu bergidik saat ujung-ujung jemari laksana belati nyaris menyentuhnya. Insting bertahannya bekerja; tubuhnya kembali menghilang, lalu muncul berlindung di belakang sang gadis berpakaian indah dengan motif bunga lili di dadanya.


Sang gadis penenun hanya tersenyum tipis melihat tingkah Ayra yang menjadikannya tameng. Namun sorot matanya tetap waspada, tertuju lurus ke depan.


Di balik punggung pelindungnya, Ayra yang sempat merasa aman membiarkan ingatannya melayang pada kejadian beberapa saat lalu—saat Taviero dengan buas memutus seluruh benang pertahanan milik gadis itu. Kala itu, Taviero begitu yakin dirinya berada di atas angin. Dengan kecepatan gerak yang luar biasa, ia percaya gadis bermotif lili itu takkan sempat bersiap, apalagi membalas.


Namun keyakinan itu runtuh seketika.


Di sepersekian detik saat Taviero melesat hendak mengoyak, sang gadis justru bergerak tenang. Ia merogoh kantong bajunya, mengambil sesuatu yang nyaris tak kasatmata. Dan saat Taviero telah berada tepat di hadapannya, dengan serangan yang hampir mendarat, gadis itu hanya melakukan satu gerakan sederhana—menyentilkan benda mungil tersebut.


Sebatang jarum panjang, tipis, dan tajam melesat lurus ke tenggorokan Taviero.


Tak ada waktu untuk menghindar. Tubuh Taviero mendadak kaku seperti patung. Ia terhuyung ke belakang, lalu jatuh. Sepasang matanya membelalak, hampir keluar dari rongganya. Tangannya mencakar lehernya sendiri dengan panik, mencoba mencabut sesuatu yang tak terlihat. Lidahnya terjulur, warnanya perlahan berubah menjadi kebiruan.


Di detik-detik terakhirnya, sorot amarah itu lenyap, berganti kehampaan yang dingin dan mengerikan.


Ia hanya meronta sesaat sebelum akhirnya diam selamanya. Tubuhnya ambruk ke tanah berdebu dengan bunyi berat, seperti karung yang dilempar tanpa arti.


Bayangan itu masih melekat di benak Ayra. Bulu kuduknya meremang, napasnya sempat tercekat. Selama ini ia telah menghadapi banyak bahaya, namun ada sesuatu dari cara gadis penenun itu mengeksekusi lawannya—tenang, tepat, dan tanpa ragu—yang terasa jauh lebih membekas. Entah itu rasa takut, keterkejutan, atau justru kekaguman yang diam-diam tumbuh di dalam dirinya.


Di sisi lain, Senna perlahan membuka mata. Pandangannya segera menangkap sosok Ayra yang berdiri di belakang seorang gadis misterius—gadis yang mampu mengendalikan benang-benang magis yang halus, hidup, dan mematuk lawan bagai ular berbisa.


Sejenak Senna tertegun. Gadis itu tampak begitu tenang, hampir anggun di tengah kekacauan. Ia tak perlu banyak bergerak; cukup dengan gerakan jemari yang lembut, benang-benang itu menari mengikuti kehendaknya.


Sambil tetap mempertahankan sisa energi untuk tirai pelindungnya, Senna bangkit dan menyapu keadaan sekitar dengan cepat. Dari kejauhan, ia melihat dua pengawal Putri Lyza dalam kondisi memprihatinkan—yang satu bersandar lemah di dinding batu, napasnya berat, sementara yang lain masih bertarung mati-matian demi melindungi sang putri.

Lihat selengkapnya