BEMM!!!
Satu hentakan dahsyat menyapu udara, melempar Kael, Ayra, Senna, dan gadis penenun itu hingga jatuh terjerembap.
Di barisan belakang, Putri Lyza, dua pengawalnya, serta tiga gadis yang baru saja diselamatkan, ikut terdorong keras ke belakang. Ketiga gadis itu langsung terkapar tak sadarkan diri, menyusul salah satu pengawal yang juga ambruk.
Napas Lyza tersengal, tubuhnya masih gemetar hebat akibat gemuruh dan gelombang kejut barusan.
Orang-orang yang ia sangka begitu kuat, nyatanya tak berdaya menghadapi satu serangan gabungan dari kedua musuh di depan mereka.
Di samping sang putri, Jadrel berdiri tegak bak perisai hidup, bersiaga melindungi tuannya.
"Sudah saatnya kalian membayar semuanya," seru lelaki berlengan raksasa itu.
Keduanya bersiap menepukkan telapak tangan mereka lagi. Namun, Senna yang baru saja bangkit bergerak lebih cepat, merentangkan tirai pelindungnya untuk menutup celah serangan.
Dengan langkah sempoyongan, Ayra memaksakan diri untuk berdiri. Telinganya masih mendenging tajam akibat suara benturan dua telapak tangan sebelumnya.
Di sebelahnya, Kael memejamkan mata erat-erat, berusaha mengusir pening yang mendera kepalanya.
Sementara di sisi lain, gadis penenun itu bertindak cepat; ia membebat luka-lukanya dengan benang-benang sihir tebal yang merapat sempurna, seolah membentuk sebuah baju pelindung.
"Kalian terlalu meremehkan kami," ujar lelaki bertubuh besar itu dengan nada merendahkan.
Di sebelahnya, sang saudara mengangguk pelan.
"Kau benar, Haskir." Mereka hanyalah manusia-manusia lemah. Sudah saatnya kita menunjukkan kepada mereka siapa kaki tangan Sang Agung Drevorn."
"Sudah kubilang, jangan sembarangan mengumbar nama Sang Agung, apalagi di hadapan banyak orang seperti ini," sahut Haskir, nada suaranya tajam menyayat.
"Kenapa? Bukankah itu benar? Kita adalah kepercayaan Sang Agung!" Daskel membalas dengan raut kesal. Baginya, menyebut nama Drevorn adalah sebuah kebanggaan mutlak, namun Haskir selalu saja melarangnya membicarakan hal itu.
"Kau ini... benar-benar bebal! Belum saatnya orang-orang mengetahui bahwa Sang Agung telah kembali."
"Kau tak perlu khawatir," Daskel menukas santai seraya melipat lengan panjangnya. "Orang-orang ini akan mati, bukan? Jadi aku rasa tidak ada salahnya jika kita memberitahu mereka siapa diri kita sebenarnya."
"Kalian ngomong apaan sih? Sang Agung? Siapa tuh?" Ayra menyela dengan nada bingung, keningnya berkerut dalam.
Senna yang berdiri di sebelahnya hanya mampu menahan napas. Jantungnya berdegup kencang bak genderang perang. Ketakutan menjalar di dadanya; ia ngeri jika Kael sampai menyadari identitas Sang Agung yang mereka sebutkan.
Namun, gadis itu tak bisa berbuat apa-apa untuk memotong pembicaraan. Jika Kael tahu bahwa ia diam-diam menyimpan informasi soal makhluk yang telah membumihanguskan desa mereka, pemuda itu tak diragukan lagi pasti akan murka. Dan mungkin saja, Kael akan membencinya lebih dari sebelumnya.
"Meskipun kau tak lebih dari sampah di mataku, aku akan memberitahumu tentang Sang Agung agar kau bisa mati dengan tenang," ujar Daskel dengan nada tajam menusuk. "Hari pembalasan Sang Agung akan segera tiba. Kelicikan para penyihir yang telah membuatnya harus tersingkir puluhan tahun lalu, kini akan terbalas!"
"Cukup! Kau tak perlu menyebarkan kabar ini!" potong Haskir, suaranya meledak penuh amarah. "Ingat, Sang Agung sendiri yang akan membunuhmu jika kau membocorkan hal penting ini kepada sembarang orang!"
"Ayolah, Haskir, kau terlalu cemas," ucap Daskel ringan. Meski begitu, tatapan sedingin es dari saudaranya sukses membuat nyali Daskel ciut, memaksanya menunduk dan mengalihkan pandangan.
"Benarkah ini? Drevorn telah kembali?" tanya gadis penenun. Suaranya pelan, namun cukup jernih untuk merambat ke telinga semua orang yang hadir.