Dua bersaudara siluman itu tersenyum puas; usaha mereka akhirnya membuahkan hasil. Tanpa ampun, mereka melontarkan sinar-sinar ungu ke arah lawan.
Ayra, Senna, Kael, dan gadis penenun bergerak serentak, berusaha menghindari sambaran cahaya yang datang bertubi-tubi.
“Kau lihat, Haskir?” seru Daskel penuh kegirangan. Ia melepaskan tautan tangan mereka, lalu bertepuk tangan seperti anak kecil yang baru memenangkan permainan.
Di sisinya, Haskir tersenyum tipis. Mereka akhirnya berhasil memaksa lawan-lawannya keluar dari pelindung sihir itu.
Keempat lawan mereka saling berpandangan. Mulut mereka bergerak cepat, seolah merancang sesuatu dalam diam. Haskir sempat merasakan kegelisahan menyelinap, tetapi sebelum ia sempat memahami—
“Sekarang!”
Kael langsung menerjang sambil menarik tangan adiknya, memburu Haskir tanpa ragu. Siluman besar itu baru menyadari niat mereka saat seberkas cahaya biru keperakan melesat ke arahnya. Dengan refleks naluriah, ia meloncat ke samping, menjauh dari Daskel.
Sementara itu, Jadrel hanya bisa termangu di luar arena. Nalurinya mendesak untuk ikut bertarung, tetapi teriakan gadis penenun menahannya di tempat—memaksanya tetap berjaga di sisi para gadis yang mulai sadar.
Di dekatnya, Lyza berdiri kaku. Pandangannya terpaku pada pertarungan antara Daskel melawan Ayra dan gadis penenun itu. Ada sesuatu yang terasa ganjil baginya—baik pihaknya maupun pihak lawan sama-sama menggunakan senjata yang bisa memanjang dan melentur, menciptakan pola serangan yang tak biasa.
Ia menghela napas pelan. Dalam benaknya, keberanian dua gadis itu terasa mencolok, dan kerja sama mereka tampak begitu terlatih—seolah mereka telah lama bertarung bersama, bukan sekadar dua orang asing yang dipertemukan oleh nasib buruk.
Ayra memutar rantai yang menyelubungi tubuhnya, lalu menghentakkannya ke arah Daskel. Siluman itu hanya memiringkan badan, membuat ujung logam rantai menebas angin kosong. Ayra mendecak kesal, kembali memutar rantainya dan memaksa Daskel terus melompat serta mundur.
Sebenarnya, tidak sulit bagi Daskel untuk mengalahkan Ayra. Namun gadis penenun itu selalu hadir di saat yang tepat, menghalangi setiap serangan yang mengarah pada Ayra. Hal itu perlahan mengikis kesabaran Daskel.
“BTW—eh, maksudnya—ngomong-ngomong, nama kamu siapa sih? Kita kayaknya belum kenalan, kan?” seru Ayra di sela serangan.
Dengan jemari yang terus menari mengendalikan benang, gadis itu menjawab lembut, “Namaku Elowyn.”
“Ooh, halo, Elowyn!” sahut Ayra riang.
Elowyn hanya tersenyum tipis, namun matanya tetap tajam menilai setiap gerakan siluman di hadapan mereka.
Di sisi lain, Kael dan Senna bergerak seperti sepasang penari yang telah lama berlatih bersama—satu menyerang, satu lagi menutup celah, lalu bergantian tanpa jeda. Haskir, dengan tubuh besar dan lengan yang mampu memanjang serta membesar, menjadi lawan yang jauh dari mudah. Hampir setiap serangan mereka berakhir membentur lengan lentur itu tanpa hasil berarti.
“Kedua lengan itu benar-benar menyulitkan,” gumam Senna.
“Benar. Namun lihatlah makhluk itu—ia mulai kehabisan napas,” sahut Kael.
“Aku suka kepercayaan dirimu. Sayangnya, coba kau lihat dirimu… dan lihat aku. Kita tidak lebih baik darinya.”