Berbeda dengan Daskel.
Siluman itu justru menertawakan dua gadis di hadapannya.
Elowyn berdiri dengan napas tertahan. Pinggangnya yang terluka membuat setiap gerakan terasa terbatas, seolah tubuhnya menolak diajak bertarung lebih jauh. Di sisi lain, Ayra yang masih begitu hijau mulai kehilangan kendali atas emosinya. Rantai di tangannya tak juga berhasil ia rebut dari genggaman siluman itu.
“Apa kau puas hanya saling tarik dengan siluman itu? Gunakan akalmu,” ucap Elowyn, meringis menahan sakit, namun nada kesalnya tak bisa disembunyikan.
“Menurutku bakal lebih mudah kalau kamu kasih tahu aku harus ngapain, daripada cuma ngomel,” balas Ayra, napasnya mulai tak beraturan, frustrasi merayap di wajahnya.
“Mudah saja memberitahumu,” sahut Elowyn cepat, “tapi apa kau lupa makhluk menjijikkan ini juga punya telinga?"
"Ah. Iya. Terus gimana dong?"
"Bisakah kau sedikit bersungguh-sungguh?"
Elowyn terus menyambungkan benang-benangnya yang terputus, jemarinya bergerak cekatan meski sesekali gemetar akibat koyakan cakar Daskel.
Di depan mereka, Daskel terkekeh pelan—suara yang terdengar lebih seperti gesekan tulang daripada tawa.
"Apa kalian tidak lelah saling teriak begitu? Mari—biar aku bantu kalian saling mendekat, supaya aku tidak perlu mendengar suara sumbang kalian."
Tangan siluman itu bergerak.
Memanjang.
Terus memanjang.
Jari-jemarinya ikut merentang, meruncing seperti taring-taring tipis yang tumbuh dari daging yang hidup.
Ayra dan Elowyn, yang berdiri berseberangan, dipaksa merapat—langkah demi langkah—tanpa mampu melawan. Tangan itu terus tumbuh, mengurung, menutup ruang di antara mereka.
"Oh astaga, makhluk ini beneran menjijikkan!" Ayra bergidik.
Namun tak ada pilihan.
Pada langkah terakhir, mereka akhirnya bertemu—punggung bertemu punggung, napas saling bersentuhan dalam ruang yang semakin sempit.
Dan saat mereka mengira itu sudah selesai—
ternyata belum.
Dua tangan siluman itu kembali bergerak. Jari-jemarinya saling mendekat, lalu menutup rapat, menciptakan jeruji hidup—sebuah sangkar raksasa dari daging dan kuku tajam yang mengurung mereka sepenuhnya.
Di luar arena, Putri Lyza hanya bisa terpaku.
Begitu matanya menangkap pemandangan dua gadis yang terjebak dalam kungkungan jari-jari panjang nan runcing itu, refleks ia membekap mulutnya. Jantungnya berpacu liar, menghantam dada dengan kecemasan yang nyaris memekakkan.
“Mengerikan! Apa mereka akan baik-baik saja?” desis salah seorang gadis.
Lyza sedikit menoleh ke belakang. Wajahnya tegang, matanya tak lepas dari pemandangan di depan.
Ia menggeleng samar.
Ketiga gadis itu kini telah sadar sepenuhnya, namun tak satu pun berani bersuara lebih keras.
“Aku tidak tahu,” ucap Lyza lirih. “Tetapi mari kita berharap yang terbaik untuk mereka.”
Di sisi sang putri, Jadrel berdiri kaku.
Rahangnya mengeras. Giginya saling bergesek saat ia menahan sesuatu—amarah, ketakutan, atau mungkin rasa tak berdaya yang menyesakkan dada.
Ia merasa seperti pecundang.
Hanya berdiri di luar arena… tanpa bisa melakukan apa pun.
Namun meninggalkan tempat ini bukanlah pilihan. Jika ia pergi, siapa yang menjamin tak ada musuh lain yang datang? Siapa yang akan melindungi Putri Lyza?
Lagipula, tubuhnya sendiri belum pulih sepenuhnya.