“Tetangga? Yang benar?”
Elowyn mengangguk pelan.
“Wah, bisa kebetulan gitu ya. Emang kamu asalnya dari desa apa?”
“Dari desa penenun Linnenwell.” Elowyn menatapnya singkat. “Mengapa kau terlihat heran? Bukankah dalam perjalanan kemari kalian melewatinya?”
“Mungkin aja,” jawab Ayra sambil berpikir. “Soalnya kami diantar Karesh sampai perbatasan. Kalau nggak salah desa petani gitu, tapi aku lupa namanya.”
“Oh.” Elowyn mengangguk-angguk takzim.
Tatapannya kembali jatuh pada rantai di tangan Ayra. Sorot matanya berubah—lebih dalam, dipenuhi rasa ingin tahu yang tak lagi ia sembunyikan.
“Bagaimana bisa Reeve begitu murah hati pada kalian? Sepengetahuanku, Reeve Halden Mareth memang ramah, tetapi tidak pernah lebih dari itu.”
“Ceritanya panjang,” jawab Ayra cepat. “Tadi katanya aku nggak boleh banyak omong, harus hemat tenaga.” Matanya berbinar tipis, seolah menemukan celah untuk menang kecil.
“Benar,” sahut Elowyn tenang. “Namun tidak jika kita dapat segera lepas. Coba lihat ke sana.”
Ia menunjuk ke sela jemari raksasa yang saling mengunci.
“Oh tidak—hajar dia, Kael!” seru Ayra riang saat melihat Haskir pontang-panting menghindari serangan dua kakak-beradik Vaylan.
“Mereka begitu serasi,” gumam Elowyn, matanya mengikuti gerakan di kejauhan. “Aku sulit percaya mereka sering bertengkar.”
“Kamu nggak bakal percaya kalau nggak lihat langsung,” balas Ayra. Ia menghela napas pendek. “Aku aja kadang bingung harus gimana. Harus bela siapa, harus berdiri di mana. Aku nggak tahu persis apa yang terjadi, tapi yang aku tahu hubungan mereka rumit.”
“Menurutku itu wajar,” ucap Elowyn pelan. “Tidak ada hubungan yang sempurna, termasuk hubungan kakak-adik.”
“Bukan kayak gitu.” Ayra menggeleng. “Kalau mereka lagi berantem, yang dibahas sering masa lalu. Kayaknya sih ada hubungannya sama orang tua mereka.”
Elowyn terdiam sejenak, mencerna.
“Kurasa kau benar. Terdengar rumit.” Ia menoleh kembali. “Baiklah, lupakan mereka. Ceritakan padaku bagaimana Reeve Halden dapat memberimu rantai itu. Jika aku tidak salah, rantai itu merupakan pusaka turun-temurun keluarganya.”
Ayra menarik napas panjang. Dadanya naik-turun, seolah cerita yang hendak keluar lebih berat dari sekadar kata.
“Bukan Reeve yang ngasih,” katanya akhirnya. “Tapi Reeve tahu aku bawa rantainya.”
Kening Elowyn berkerut.
“Bisakah kau tidak berbelit-belit? Aku sungguh tidak mengerti. Jika bukan Reeve yang memberikan… lalu—Alric,” gumamnya, perlahan dipenuhi pemahaman.
Ayra hanya mengangguk.
“Jika lelaki itu sampai memberikan pusaka keluarganya kepadamu,” ujar Elowyn tenang, “artinya kau sangat berarti baginya.”
Ayra menggigit bibir. Suaranya terasa berat saat akhirnya keluar.
“Aku juga nggak ngerti kenapa dia ngasih rantai ini ke aku. Aku juga nggak tahu kalau ini pusaka turun-temurun. Bahkan Reeve pun sama sekali nggak menyinggung soal itu. Dia cuma bilang aku harus menjaga senjata ini baik-baik.”
“Begitu, ya?” sahut Elowyn.
“Ya. Tapi aku tahu senjata ini penting. Soalnya ini pemberian dari roh hutan.”