"Hai Elowyn, kamu pernah pingsan nggak sih? Apa pas mau pingsan kita suka dengar suara-suara atau semacam itu?" Ayra mulai meracau. Kata-katanya terdengar timbul tenggelam, bahkan di telinganya sendiri.
Ia menelan ludah dengan susah payah, napasnya terasa berat.
"Soalnya aku dengar kayak ada yang manggil-manggil gitu dari tadi." Katanya lagi dengan suara lemah.
Elowyn masih berusaha menahan posisinya yang tidak stabil. Tubuhnya sudah setengah tersandar di telapak tangan Daskel, napasnya tersengal, namun ia tetap memaksa dirinya menjawab.
"Apa kau tidak mendengarku? Tarik napas pelan, dan cobalah untuk tetap sadar, kau tahu, itu bukan suara semu, itu suara temanmu."
Ayra mengerjap perlahan, kelopak matanya terasa berat seperti ditarik ke bawah oleh kantuk yang terlalu dalam.
"Kenapa aku harus tetap sadar, emang aku nggak boleh tidur? Aku ngantuk..."
"Aya!"
Suara itu melengking lagi, tajam, seperti membelah kabut yang memenuhi kepala Ayra.
Ia mengernyit.
"Tuh, kamu denger nggak? Kayak ada yang manggil namaku. Siapa ya? Kayak kenal, tapi aku gak bisa mikir..."
Ayra tidak menyadari bahwa suara yang ia dengar bukanlah imajinasi, melainkan teriakan Senna yang sedang berjuang di luar sana.
Situasi semakin memanas.
"Apa kau tidak bisa menahan mereka? Aku hampir berhasil membuat gadis-gadis ini pingsan!"
Daskel berseru murka, suaranya menggema kasar di udara.
"Kau pikir mudah menahan dua penyihir kecil ini?" balas Haskir sengit.
"Kalau menurutmu mereka hanya penyihir kecil, singkirkan gadis ini dariku!"
Tiba-tiba tubuh Ayra terguncang hebat.
Ia terseret. Sesuatu menghantam tubuhnya seperti benda yang terlempar, disusul tarikan kuat yang membuatnya meluncur di atas lantai arena. Pergerakan lincah Daskel menyeret mereka tanpa ampun.
"Aduh, sakit! Apaan sih, biarin aku tidur bentar aja dong!" keluh Ayra lirih, masih setengah tenggelam dalam dunianya sendiri.
Elowyn mencoba menahan tubuhnya agar tidak sepenuhnya menindih Ayra, meskipun keseimbangannya nyaris hilang.
"Maaf, siluman ini terus bergerak membuatku kehilangan keseimbangan," jawab Elowyn, napasnya pendek.
Di luar jari-jari Daskel, Senna terus merangsek maju, berusaha memaksa siluman itu membuka jemarinya. Namun Daskel ternyata cukup lincah. Setiap serangan Senna selalu berhasil dihindarinya dengan gerakan cepat.
Bahkan ketika pedang itu sempat menggores pergelangan tangannya, Daskel sama sekali tidak berkeming. Kulit pada lengan siluman itu terasa keras seperti batu.
Sementara cengkeramannya pada dua gadis itu tidak pernah benar-benar lepas.
Sementara itu, di sisi lain gelanggang, Kael bertarung mati-matian agar Haskir tidak dapat membantu saudaranya.
Pedangnya berkelebat liar, disertai pukulan-pukulan sihir biru keperakan yang meluncur dari tangannya, mengarah pada titik-titik vital. Namun dengan dua lengan yang membesar, Haskir mampu menghalau serangan-serangan tersebut. Meski begitu, setiap benturan tetap mendorong tubuh siluman itu mundur beberapa langkah.
Di pinggir gelanggang, Putri Lyza tengah berdebat sengit dengan Jadrel.
Kecemasan jelas terpancar dari wajah Lyza. Ia terus memerhatikan sangkar jari-jemari itu. Saat melihat Senna yang memburu ke mana pun Daskel bergerak, Lyza tahu inilah kesempatannya.
Tanpa menunggu lebih lama, ia meminta salah satu gadis yang memiliki kemampuan meningkatkan daya tahan tubuh untuk memulihkan tenaga sang pengawal.
Setelah itu, Lyza segera meminta Jadrel bertindak.
Namun tentu saja Jadrel menolak mentah-mentah.