Di luar tirai, Jadrel berusaha sekuat tenaga mengulur waktu agar gadis penyembuh itu sempat memulihkan dua gadis lain yang terkapar tak berdaya. Ia sama sekali tidak ingin membiarkan pikirannya melayang pada kemungkinan terburuk mengenai nasib mereka.
Bagaimanapun juga, kedua gadis itu telah banyak membantu dan berdiri bersamanya dalam perjuangan menggagalkan penculikan Putri Lyza.
Itulah sebabnya Jadrel terus memilih melompat mundur—hanya sesekali melancarkan serangan ketika perhatian siluman itu teralih pada tirai kehijauan.
Ia tahu betul, Daskel adalah jenis siluman yang mudah tersulut amarah.
Dan karena itulah, Jadrel tidak pernah berniat menghadapinya secara langsung.
Jarak kemampuan di antara mereka terlalu terpaut jauh untuk pertarungan frontal.
Tangan yang mampu memanjang, ditambah jari-jari runcing yang mengilap, menjadi mimpi buruk bagi Jadrel.
Setiap kali ia mencoba mengandalkan sihir suara, jarak yang terlalu jauh membuat kekuatannya berkurang drastis.
Menggunakan pedang atau bertarung jarak dekat pun terasa sia-sia.
Setiap tebasan yang mengenai lengan atau tangan Daskel seolah hanya membentur batu keras.
Napas Jadrel kian menipis.
Meski ia masih mampu menghindari cengkeraman siluman itu, setiap gerakan perlahan menguras sisa tenaganya. Tubuhnya semakin berat. Langkahnya kian lamban.
Hingga akhirnya, pada titik paling genting—
punggungnya terdesak ke dinding.
Napasnya tak lagi beraturan.
Saat itu, keyakinan pahit menyusup ke benaknya—segesit apa pun ia menghindar, akhir ini seolah telah ditentukan.
Jadrel memejamkan mata.
Ia menunggu jari-jari runcing itu mengoyak tubuhnya.
Di telinganya, jeritan Lyza menggema, penuh kepanikan melihat pengawalnya tersudut tanpa daya.
Dan tepat pada detik itulah—
sebuah hentakan tangan menarik tubuhnya menjauh.
Lalu ia lenyap.
Jadrel terhuyung. Napasnya tercekik di tenggorokan, seolah udara di sekitarnya ikut tercabut.
Cahaya merah muda beriak sekelebat, seperti permukaan air yang disentuh batu.
“Bapak nggak apa-apa, kan?” tanya sebuah suara.
Jadrel membuka mata, mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Di sisinya, Ayra berdiri menatapnya dengan wajah penuh khawatir. Tangannya masih mencengkeram pelan bahu lelaki itu.
“Tidak… Nona. Terima kasih. Sekali lagi, Anda menyelamatkan saya.”
“Eh,” Ayra menggaruk kepala, sungkan. Menurutnya, lelaki ini terlalu sopan, terlalu formal. “Iya, Pak. Gapapa kok. Kebetulan aja aku bisa teleport. Eh, maksudnya berpindah tempat,” ujarnya cepat.
Jadrel sempat tersenyum.
Namun senyum itu segera memudar ketika pandangannya tertuju ke arah gadis penenun yang menahan cakar Daskel dengan benang-benang sihirnya.
Meski gadis itu tampak kuat—bahkan seolah mampu menahan cakar-cakar Daskel—Jadrel tahu, benang-benang itu hanya menunggu waktu untuk putus.
Elowyn, yang berhadapan langsung dengan Daskel, sama sekali tidak menunjukkan kecemasan.
Tetapi getar tangannya, raut wajahnya, serta keringat yang bergulir di pelipisnya adalah fakta tak terbantahkan—
ia tidak cukup kuat menghadapinya seorang diri.
Jadrel berpaling ke Ayra untuk memperingatkan gadis itu.
Namun—
Ayra telah raib.
Dalam sekejap, ia muncul di sisi lain, menyerang Daskel dengan rantainya. Gerakannya lincah, menghindari ayunan cakar yang mengancam.
Lalu, saat celah terbuka—