“Ya ampun… apa-apaan siluman itu,” gumam Ayra terperangah.
Ia masih menatap ke arah tempat dua siluman itu menghilang. Pandangannya kosong sesaat—seolah pikirannya belum sempat mengejar apa yang baru saja terjadi.
“Sial. Sial. Sial.” Kael menyembur. Nadanya tertahan, namun sarat kekesalan. “Sedikit lagi kita akan tahu alasan mereka menculik para gadis. Dan aku masih ingin memastikan sesuatu.”
“Drevorn?” ucap Elowyn tiba-tiba.
Tatapannya lurus mengarah pada Kael yang tampak gusar.
“Maaf?” Kael menoleh cepat. Keningnya berkerut.
“Apa yang ingin kau pastikan… apakah itu berkaitan dengan siluman biada bitu?” lanjut Elowyn dengan suara tenang.
Kael mengangguk kaku. Rahangnya mengeras. Ia tampak ragu untuk melanjutkan—seolah kata-kata berikutnya terlalu berat untuk diucapkan di tempat terbuka.
“Aku mengerti,” kata Elowyn akhirnya, suaranya sedikit melunak. “Jika kau tidak ingin menjelaskannya, aku tidak akan memaksa. Namun dari sorot mata dan raut wajahmu, agaknya kita menyimpan kemarahan yang sama terhadap siluman itu. Ketahuilah, kita memiliki musuh yang sama.”
“Siapa kau?” Kael bertanya. Lalu ia menambahkan dengan nada lebih rendah, “Maksudku, bagaimana aku bisa yakin bahwa kita benar-benar mengejar orang yang sama?”
Elowyn tersenyum tipis.
“Kau ini lucu. Kau sendiri tidak ingin menjelaskan alasan kemarahanmu, padahal belum tentu Drevornlah yang kau cari. Kau hanya menerkanya dari gambaran yang kuberikan sebelumnya, bukan?”
Kael terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, ia tampak kikuk. Senna yang sejak tadi menyimak dari samping—meski ikut tegang—tak sepenuhnya mampu menahan rasa geli melihat kakaknya terpojok oleh percakapan sederhana seperti itu.
“Baiklah,” ujar Elowyn kemudian, memutus kecanggungan yang menggantung. “Kita lupakan dulu hal itu. Ada sesuatu yang ingin kulakukan.”
Semua mata tertuju padanya.
Namun Elowyn tidak menanggapi tatapan tersebut. Ia hanya berbalik dan melangkah menuju pintu besar yang masih tertutup rapat—pintu tempat para gadis dengan cahaya terang sebelumnya dibawa masuk.
Langkahnya berhenti beberapa langkah dari sana.
Ia berpaling sedikit.
“Apa kalian tidak penasaran… apa yang ada di balik pintu ini?”
Beberapa dari mereka hampir saja melangkah mengikuti Elowyn.
Namun sebuah suara parau memotong suasana.
“Maaf, Nona… bisakah kau memeriksa kawanku terlebih dulu?”
Jadrel menyela.
Suaranya ragu, namun mendesak. Ia berdiri kaku, matanya tak lepas dari sosok yang tergeletak diam di sudut ruangan. Baginya, misteri di balik pintu itu tak pernah lebih penting daripada nyawa sahabatnya.
Senna tersentak.
Ia menoleh cepat ke arah Jadrel—lalu ke tubuh yang tergeletak itu. Wajahnya berubah, seolah baru tersadar akan sesuatu yang luput dari perhatiannya.
“Tentu saja… maafkan aku,” ucap Senna lirih. “Ketegangan ini membuatku lupa. Mari.”
Tanpa perlu dikomando lagi, Senna segera bergerak.
Jadrel mengikutinya dengan langkah berat. Putri Lyza berjalan di belakang mereka, tertatih. Ayra pun menyusul dalam diam.
Mereka menghampiri Corven.
Tubuh pria itu bersandar lemah pada dinding batu yang dingin. Kepalanya terkulai. Ia tak bergerak sama sekali.
Senna berlutut di hadapannya.