Braaakkk!
Pintu itu terhempas ke dalam, menghantam lantai dengan suara keras dan menyisakan kepulan debu. Semua orang refleks bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Namun yang terdengar justru suara perempuan mengaduh pelan.
Kael, Elowyn, dan Jadrel serempak bersiap melontarkan sihir masing-masing. Dari balik reruntuhan kayu, sesosok tubuh terhuyung bangkit, menyingkirkan potongan papan yang menimpa dirinya.
“Tolong… jangan sakiti aku,” serunya. Suaranya parau, penuh ketakutan.
Senna melangkah maju satu langkah, namun Kael segera menarik lengannya, memaksanya mundur.
“Kael, biarkan aku melihatnya.”
“Jangan ceroboh,” balas Kael cepat. “Bisa saja dia bagian dari komplotan mereka.”
“Apa kau tidak mendengar suaranya?” Senna membalas, suaranya ditekan namun tegas. “Dia benar-benar ketakutan. Dia kesakitan.”
“Sungguh… apa kau senaif itu, Senna?” Kael mendesis, giginya mengeras sebagai peringatan.
Senna hanya menghela napas panjang, pasrah.
Ketika Senna dan Kael masih berjibaku dengan argumen masing-masing, Elowyn tidak menunggu lebih lama. Sorot matanya mengeras, seolah telah mengambil keputusan sejak detik pertama suara itu terdengar.
Benang-benang sihir meluncur dari jemarinya, melilit tubuh gadis di dalam ruangan dengan gerakan cepat dan tepat. Dalam satu tarikan tegas, tubuh itu disentak keluar dari balik pintu, terlepas dari bayang-bayang gelap yang menyelimutinya.
Senna terperangah sesaat, lalu segera mendekat, berlutut di sisi gadis tersebut dengan waspada, namun juga khawatir.
Elowyn ikut mendekat. Tetapi langkahnya melambat ketika cahaya cukup menyentuh wajah gadis itu.
Wajah yang tidak asing.
Untuk sepersekian detik, ia terdiam.
Itulah sebabnya, saat Kael hendak menarik Senna mundur dengan kasar, Elowyn segera angkat suara, nadanya tenang namun tak memberi ruang sanggahan.
“Aku mengenal gadis itu. Kau tidak perlu khawatir. Ia salah satu dari para gadis yang ditawan.”
Kael berhenti, namun kerutan di keningnya justru semakin dalam.
“Kalau begitu,” katanya cepat, nyaris menyembur, “kenapa dia ada di ruangan itu sendirian? Di mana yang lain?”
Ia melangkah setengah langkah ke depan.
“Aku melihat sendiri. Tidak kurang dari lima gadis dibawa masuk ke tempat ini. Tapi sekarang hanya dia yang tersisa. Jadi, di mana mereka?”
Elowyn menatap gadis yang masih terbaring lemah itu, lalu menggeleng pelan.
“Entahlah,” jawabnya singkat. “Namun kita akan mengetahui jawabannya sebentar lagi.”
“Kau ini—” Kael menggeram, namun kalimatnya terputus. Ia mengalihkan pandangan pada Senna, yang kini sepenuhnya fokus memeriksa kondisi gadis tersebut, kedua tangannya bergerak cepat namun hati-hati.
Tidak ada yang berbicara lagi.
Udara terasa menegang, seolah seluruh ruangan menahan napas, menunggu apa yang akan terungkap dari gadis yang kini menjadi satu-satunya saksi yang tersisa.
“Kau bisa mendengarku?” suara Senna terdengar lembut, hampir berbisik. Ia tersenyum setipis mungkin, berusaha tidak mengintimidasi. “Tenang saja. Kami tidak akan menyakitimu.”
Gadis itu menatap wajah Senna beberapa saat, ragu. Lalu pandangannya bergeser ke orang-orang di belakangnya. Matanya sempat berhenti pada Ayra yang masih memeluk bahu Lyza dengan satu tangan, wajahnya sendiri tampak termangu. Namun tatapan gadis itu akhirnya tertambat lebih lama pada Elowyn.
Elowyn melangkah maju dan berlutut di sisi Senna.
“Kau tidak apa-apa?” tanyanya lembut. “Apa yang terjadi? Bagaimana dengan yang lain?”
Tubuh gadis itu gemetar. Ia menggeleng pelan, seolah kata-kata terlalu berat untuk keluar.
“Tenanglah,” lanjut Elowyn, suaranya tetap rendah dan menenangkan. “Kami semua ada di pihakmu. Kau tahu aku, bukan? Setidaknya kau mengenaliku sebagai salah satu dari gadis yang ditawan.” Ia menoleh sedikit dan menunjuk Ayra. “Dan kau melihat gadis itu?”
Gadis itu mengangguk lagi, lebih yakin kali ini.
“Ya… aku melihatnya,” ucapnya lirih. “Dia sangat berani.”