Ruangan itu kecil, jauh lebih sempit dibanding aula di luar. Hanya cukup menampung beberapa orang saja.
Di tengah ruangan berdiri sebuah cermin besar.
Bingkainya dipenuhi simbol-simbol sihir yang terukir tak beraturan—saling bertaut, saling melilit, namun tidak membentuk pola yang mudah dipahami.
“Cermin?” gumam Ayra.
Kael menoleh padanya.
“Apa itu cermin?”
Ayra berkedip, lalu menggaruk pipinya.
“Ya… cermin. Buat ngaca.” Ia melirik sekeliling ruangan. “Emangnya di sini nggak ada?”
Kael menggeleng pelan.
“Di duniaku sih biasanya lebih bagus,” lanjut Ayra setengah bergumam. “Lebih bersih, lebih—”
Ia melangkah maju, mengangkat tangan hendak menyentuh permukaannya.
Tiba-tiba—
tangan Ayra ditarik paksa ke belakang.
“Tahan,” ujar Elowyn tegas. “Kau tidak tahu apa yang kau sentuh. Lihat simbol-simbol di sekelilingnya.”
Ayra berdehem kecil dan segera mundur, seolah permukaan cermin itu mendadak berubah menjadi sesuatu yang hidup… dan berbahaya.
“Aku tidak mengerti,” kata Kael. Matanya menyapu simbol-simbol itu dengan tajam. “Apa yang sebenarnya terjadi di sini?”
Ia menoleh kepada Elowyn.
“Jangan bilang kau pernah melihat atau mempelajari hal semacam ini di Wilayah Tengah.”
Elowyn berdiri tenang di bawah sorot tatapan itu. Tidak ada kegusaran pada wajahnya, tidak pula usaha untuk mengelak.
“Aku mengerti maksudmu,” katanya akhirnya. “Dan kau tidak sepenuhnya salah. Wilayah Tengah memang lebih maju dibanding wilayah pinggiran. Arus perdagangannya besar, pusat pendidikan dan pengobatan berkembang. Cermin bukan benda langka di sana. Digunakan untuk menata diri, merias wajah, hal-hal sederhana.”
Ia melangkah mendekat ke arah cermin, namun tetap menjaga jarak aman.
“Tapi cermin ini berbeda,” lanjutnya. “Simbol-simbol itu bukan hiasan. Lelaki tua itu kemungkinan besar membawa para gadis melewati cermin ini untuk berpindah tempat.”
Semua orang menatapnya dalam diam.
Seolah-olah mereka baru saja mendengar sesuatu yang mustahil—di tengah dunia yang sejak awal memang dipenuhi keajaiban.
“Kalau begitu,” ucap Kael singkat, “apa yang kita tunggu? Bukankah kita hendak menyelamatkan mereka?”
“Kau benar,” sahut Elowyn. “Tapi simbol sihir ini tidak dibuat untuk dilewati sembarang orang.”
Ia mengangkat tangan.
Dari ujung jarinya, segumpal benang-benang tipis meluncur ke arah cermin.
Begitu menyentuh permukaan itu—
benang-benang tersebut luruh.
Hancur menjadi abu sebelum sempat menembus apa pun.
“Kalau kau masih ragu,” katanya tenang, “kau boleh mencobanya dengan sihirmu sendiri.”
Rahang Kael mengeras.
Ia melangkah maju.
Dari kepalan tangannya, cahaya biru keperakan berkumpul, berdenyut semakin terang sebelum akhirnya melesat menghantam cermin.
DOAARRR!!
Ledakan mengguncang ruangan.
Denting keras memekakkan telinga, disusul gelombang tekanan yang menghantam semua orang. Beberapa nyaris terlempar ke belakang.
Untungnya, Senna, Ayra, dan Elowyn bereaksi cepat dengan sihir mereka.
“Ya Tuhan—hampir aja!” pekik Ayra. Dengan refleks cepat, ia tadi meraih beberapa orang di dekatnya lalu berpindah ke posisi yang lebih aman.
“Gila!” Kael membentak. “Kenapa kau tidak memperingatkan kami? Bagaimana jika ledakan itu melukai salah satu dari kita?”
“Ada yang terluka?” tanya Elowyn.
Ia menurunkan tameng benang-benang yang sejak awal telah ia rajut untuk melindungi mereka yang berdiri paling dekat dengannya.
“Aku tahu kau bukan orang yang mudah percaya,” lanjutnya, suaranya tetap tenang. “Itu sebabnya aku tidak berhenti pada kata-kata. Aku membuktikannya.”
Kael menggeram pelan.
Namun amarahnya mereda sebelum benar-benar meledak.
Ia harus mengakui satu hal, betapapun enggannya.
Gadis benang itu jauh lebih berpengalaman daripada dirinya—bahkan daripada siapa pun di ruangan ini.
Kael menarik napas berat. Bahunya terangkat, lalu jatuh perlahan.
“Lalu sekarang bagaimana?” ucap Kael lagi. Suaranya rendah, nyaris parau.
“Aku minta maaf. Sejujurnya… tidak ada yang bisa kita lakukan. Simbol sihir hanya bekerja pada pembuatnya, atau pada mereka yang memang dikehendaki. Dengan kata lain, sekalipun kita menghancurkan cermin ini, hasilnya tetap sama. Tidak ada gunanya.”
Kata-kata Elowyn jatuh seperti palu.
Semua orang terperangah—ngeri oleh kenyataan yang tak memberi celah harapan.
“Kau yakin?” Senna melangkah setengah maju. Sorot matanya bergetar, namun keras kepala. “Apa benar-benar tidak ada cara? Menelusuri jejak sihirnya, atau menggunakan benda ini untuk mencapai titik di mana lelaki berjubah putih itu berada?”
Elowyn menunduk.
“Aku tahu ini berat. Dan percayalah, aku pun merasa tidak berdaya.”
Ia terdiam sejenak, seolah menimbang apakah harus melanjutkan atau tidak.
“Beberapa hari yang lalu, orang-orangku hilang saat mereka membawa hasil tenunan untuk dijual di pusat desa. Aku merasa ada yang tidak beres. Itu sebabnya aku mencoba menyelidiki.”
Ia menarik napas pelan.
“Dan saat komplotan itu hendak menculikku… aku membiarkan diriku tertangkap. Agar aku bisa menolong warga desaku.”