Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #38

Harga Sebuah Penghianatan

Gonggongan anjing bersahutan dari kejauhan—sarat peringatan, seolah membawa bau kematian yang menguar di udara malam.

Di sebuah bangunan terbengkalai, jejak-jejak kaki samar teredam oleh pekatnya gelap dan desau angin. Malam seakan sengaja bersekongkol, menyembunyikan siapa pun yang tengah melintas.

Di dalam salah satu bilik sempit, sesosok tubuh meringkuk di atas pembaringan kasar, berselimut hingga sebatas dada. Perempuan itu terpejam—sendirian, hanya ditemani kegelapan.

Untuk beberapa saat, segalanya tampak seperti sedia kala. Hening. Mati.

Namun tiba-tiba, desis pelan merayap dari berbagai arah.

Perempuan itu tersentak bangun.

Belum sempat tangannya menjangkau pemantik api, jeritannya telah lebih dulu memecah malam—nyaring, mengiris kesunyian.

Sesaat kemudian, dari celah atap tepat di atas tempatnya berbaring, menyembul sebuah kepala. Rambutnya menjuntai panjang—hitam dan lurus—membawa aroma manis yang terasa ganjil, menabrak bau lembap bangunan tua tersebut.

Sosok itu menggenggam sebuah obor.

Tanpa ragu sedikit pun, ia menjatuhkannya tepat ke tubuh sang perempuan.

Api menyambar seketika.

Di atas sana, sosok itu tersenyum.

“Jangan memasang wajah seperti itu,” katanya ringan. “Bukankah kau membutuhkan penerangan?”

Tawanya pecah—lepas dan riang, seakan ia sekadar sedang bersenda gurau bersama kawan lama.

Di bawah kungkungan api, perempuan itu terbelalak.

“Kau?!” serunya terbata. Matanya melotot ngeri.

Tangannya menggapai-gapai liar di udara, seolah putus asa hendak menjangkau sosok di atasnya.

Namun, pandangan sosok itu justru tertumbuk pada lengan si perempuan yang terbalut sehelai kain merah.

Di saat yang bersamaan, tubuh perempuan itu mulai dirambati ular-ular kecil seukuran lidi. Warnanya hitam pekat, nyaris menyatu dengan warna malam. Makhluk-makhluk itu menggeliat gesit, menggigit, dan menancapkan taring mereka dalam-dalam.

Perempuan itu menjerit pilu.

Ia meronta hebat—bukan hanya karena siksaan gigitan berbisa itu, melainkan juga oleh kobaran api yang kini menjalar rakus melahap tubuhnya.

Matanya membelalak kian lebar.

Dari sela bibirnya merembes keluar cairan kental berwarna hitam kebiruan.

“Hai, Lucifia,” suara itu kembali terdengar, nyaris bersahabat. “Kenapa kau terkejut melihatku?”

Ia memanjangkan leher, menjulurkan tubuhnya lebih ke bawah hingga rambut panjangnya hampir menyapu wajah Lucifia.

Namun, saat jilatan api nyaris menyentuh ujung rambut tersebut, helaiannya mendesis—suaranya pelan, tetapi terdengar bagai ribuan rintihan sekaligus. Rambut itu menolak tunduk pada hukum gravitasi. Helaiannya berdesir naik ke atas, seolah ada napas tak kasat mata yang meniupnya dari bawah.

Lihat selengkapnya