Mentari pagi bersinar malu-malu dari ufuk timur, membiaskan cahaya keemasan ke langit yang merona merah muda. Udara dingin membelai pucuk-pucuk dedaunan, menggoyangkan tetes-tetes embun yang masih menggelayut sisa semalam.
Lima pasang kaki melangkah santai namun mantap, menyusuri jalanan tanah yang mulai ramai. Suasana pagi kian hidup, ditingkahi decit roda kereta pembawa barang serta hilir mudik orang-orang yang sibuk memanggul dagangan maupun peralatan menuju pusat desa.
Ayra, yang berjalan paling depan, menguap lebar. Tangannya refleks membekap mulut yang terbuka, sementara matanya sedikit berair. Langkah kakinya tetap teratur, tetapi pikirannya melayang jauh pada malam sebelumnya—saat ia berpamitan dengan wanita tua pemilik rumah makan Brynmor.
Wanita itu sempat memeluknya erat, seolah ingin menyalurkan seluruh kekhawatiran yang terpendam.
“Syukurlah kau tidak apa-apa. Aku dengar dua hari lalu terjadi penculikan lagi. Kedua kakakmu juga sempat mencarimu kemari,” ujarnya dengan suara bergetar. “Aku minta maaf membuatmu bekerja selarut itu. Aku janji tidak akan lagi menerima pesanan terlalu banyak sampai membuatmu pulang malam.”
Ayra membalas pelukan itu. Jemarinya menepuk pelan punggung wanita tersebut, seakan mencoba menenangkan.
“Nggak apa-apa, Bibi. Lagian bukan karena itu kok aku keluar dari kerjaan,” katanya pelan. “Kami bertiga udah cukup lama di sini. Bekal buat ngelanjutin perjalanan juga udah ada.”
Ia mengusap matanya yang basah dengan punggung tangan, tetapi tidak segera melepaskan dekapan hangat itu.
“Benarkah itu? Jadi kau pergi bukan karena aku memaksamu bekerja terlalu keras? Katamu kalian bertiga sudah tidak memiliki rumah atau keluarga lagi. Bukankah kalian sudah betah tinggal di pusat desa Valtheris? Kenapa tiba-tiba kalian hendak pergi?” tanya wanita itu lirih.
Ia menjauhkan sedikit tubuhnya, menatap wajah Ayra dengan sorot mata penuh tanda tanya.
“Tinggallah di sini. Kau bisa tinggal bersamaku.”
Ayra menggigit bibir. Dadanya terasa sesak, seolah ada gumpalan yang menyumbat tenggorokannya. Ia terdiam sejenak, memandangi sudut-sudut dapur rumah makan itu—tempat yang selama ini menjadi ruangnya berkreasi—sembari menimbang kata-kata yang tidak akan melukai.
“Bibi benar, kami emang udah nyaman kok tinggal di sini. Tapi kan Bibi tahu, aku harus nyari jalan buat pulang.”
Ayra menarik napas pelan, lalu memaksakan senyum tipis.
“Kata kakakku, mereka juga masih pengen berpetualang. Ya aku sih ngikutin aja, Bi. Kan Bibi pernah aku ceritain kalau aku berasal dari dunia yang beda. Jadi kami harus pergi. Maafin aku, ya, Bi. Sehat-sehat Bibi di sini. Semoga warungnya rame terus, ya, Bi.”
Wanita itu tertegun.
Untuk beberapa saat, ia hanya diam, mematung, seolah mencoba mencerna kenyataan yang sebenarnya tidak ingin ia dengar.
Ia tahu benar bahwa gadis dalam pelukannya ini adalah sebuah keanehan—sekaligus keberuntungan yang datang tanpa diduga. Ayra telah mengajarinya berbagai masakan dengan bumbu dan teknik yang belum pernah ada di dunia ini, membawa warna baru dalam kesehariannya yang semula monoton.
Keinginan untuk menahan, bahkan memaksa gadis itu agar tetap tinggal, sempat terlintas kuat.
Namun ia juga mengerti, ada kerinduan mendalam di mata Ayra terhadap kehidupan di dunia asalnya—sesuatu yang tak mungkin bisa ia gantikan.
Wanita itu menghela napas panjang, lalu kembali merengkuh Ayra dengan lebih erat, seolah ingin menahan waktu sedikit lebih lama sebelum perpisahan itu benar-benar terjadi.
Bagi Ayra, wanita itu telah begitu baik padanya. Ia memberinya pekerjaan, tempat singgah, dan sebuah kelembutan tulus yang bahkan tak pernah ia rasakan dari ibu kandungnya sendiri di dunia asalnya.
Ayra menekan perasaan pedih itu dalam-dalam.
Lalu, dengan gerakan perlahan, ia melepaskan pelukan itu. Ayra memaksa dirinya menelan kuat-kuat ingatan tersebut, dan kembali menatap jalan di hadapannya.
Di sebelahnya, Putri Lyza mengucek mata dan berkedip berkali-kali. Ia lalu menggelengkan kepala kuat-kuat, seolah berusaha mengusir sisa kantuk.
Di belakang mereka, Senna dan Jadrel berjalan beriringan dengan pandangan lurus ke depan. Sementara itu, di barisan paling belakang, Kael melangkah sendirian, mengamati kesibukan sekitar dengan sorot mata penuh penilaian.
“Kamu masih ngantuk, ya?” gumam Ayra pelan.
Lyza menoleh sekilas lalu mengangguk, bibirnya mengerucut manja.
“Kenapa? Oh, kamu pasti nggak biasa jalan jauh, ya?”
Lagi-lagi Lyza mengangguk lemas.
“Lah, bukannya kamu sendiri kemarin yang bilang pengen jalan kaki sambil menikmati pemandangan?” goda Ayra. Ia berdeham, lalu menirukan suara Lyza dengan nada dramatis, persis seperti kemarin.
“‘Jadrel, aku ingin berjalan kaki saja! Aku tahu setelah ini Ayah tidak akan membiarkanku mengikuti kalian menjual madu ke pusat desa. Jadi sebagai pengalaman pertama dan terakhir, aku ingin berjalan kaki. Setidaknya ini akan menjadi pengalaman yang paling berharga untukku!’”
Jadrel, yang mendengar peniruan itu dari belakang, tersenyum tipis. Gadis asing itu masih bisa tertawa ceria, seolah kejadian mengerikan tempo hari hanyalah mimpi buruk yang telah memudar.