“Agaknya kita masih harus menunggu. Di luar angin sangat kencang. Pemilik penginapan bilang kita tidak perlu khawatir, biasanya badai akan mereda lewat tengah hari,” ucap Jadrel saat memasuki kamar.
Mereka berlima hanya memesan satu kamar. Selain untuk menghemat biaya, kamar itu ternyata cukup luas untuk menampung mereka semua.
Pembaringannya memang hanya cukup untuk dua atau tiga orang. Karena itu, Jadrel memastikan Putri Lyza, Ayra, dan Senna tidur di atasnya, sementara ia dan Kael memilih tidur di lantai dengan beralaskan karpet kasar yang, meski sederhana, cukup hangat.
Setelah tiba di ngarai sore kemarin, Jadrel langsung membawa rombongan menuju penginapan ini.
Semula, Ayra mengira rumah-rumah penduduk terletak di atas bibir ngarai. Namun dugaannya keliru.
Rumah-rumah di Desa Rocamora justru berada di dalam tebing itu sendiri. Penduduk setempat memahat dinding cadas, melubangi perut tebing untuk dijadikan hunian. Bangunannya tampak sederhana dan kasar—hal yang wajar, mengingat dinding-dindingnya adalah batu alam yang dipahat secara manual.
Ayra mengelus permukaan dinding yang dingin dan lembap, lalu mengintip dari celah jendela kayu kecil.
Ia tidak bisa melihat wujud angin itu. Namun dari dalam penginapan, terdengar derunya yang kencang, seperti siulan raksasa yang menyayat lorong ngarai.
Samar-samar, ia juga melihat pemandangan di seberang tebing. Puluhan lubang jendela dan pintu rumah lain terpahat pada wajah karang, tersusun bertingkat.
Ayra takjub.
Bagaimana orang-orang itu mampu melubangi tebing curam tersebut, bahkan memahat tangga-tangga batu dengan ukiran menarik yang menghubungkan satu rumah dengan rumah lainnya?
“Jika memang harus menunggu, itu artinya kita bisa beristirahat lebih lama lagi,” komentar Senna sambil merapikan selimut bekas mereka tidur. Gadis itu lalu menoleh pada Jadrel. “Apakah desa pengumpul madu masih jauh dari sini?”
“Kalau kita mulai perjalanan siang nanti, kemungkinan besar malam hari kita baru akan sampai.”
“Setelah Desa Rocamora, apakah kita akan melewati desa lain?” tanya Kael. Ia duduk bersandar pada dinding batu yang dingin, meluruskan kakinya yang masih pegal sisa tidur di lantai semalam.
“Sayangnya tidak. Setelah keluar dari sini, kita akan melewati Padang Perdu. Selepas padang semak itu, barulah kita sampai di desa pengumpul madu, Apivale.”
Tak lama kemudian, pintu diketuk pelan.
Seorang pelayan wanita masuk membawa nampan besar berisi roti hangat dan minuman herbal yang mengepul. Aroma rempah seketika memenuhi ruangan, mengusir hawa dingin.
Kelima orang itu pun duduk melingkar, menyantap sarapan pagi mereka dalam kehangatan yang sederhana.
******
“Aya, ayo bangunlah. Ini sudah siang. Jika kau tidak bergegas, kami akan meninggalkanmu di sini.”
Ayra mengerang pelan, menarik kembali selimut yang baru saja ditarik paksa oleh Senna.
“Beneran jalan nggak nih? Ntar aku udah siap, ujung-ujungnya kayak tadi pagi. Sana tanya dulu, beneran udah bisa dilewatin belum jembatannya,” gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur.
“Aya, kami semua telah siap. Hanya kau yang masih enak-enakan tidur. Apa kau tidak malu dengan Sang Putri?” omel Senna gemas sambil berkacak pinggang di sisi tempat tidur.
Lyza, yang duduk di tepi ranjang, hanya tersenyum kecil. Ada sesuatu yang menggelitik di benaknya—ternyata gadis asing ini jauh lebih pemalas dibanding dirinya.
Di sisi lain, Ayra masih bergeming beberapa detik, seolah menimbang antara bangun atau kembali tenggelam dalam hangatnya selimut. Namun akhirnya, dengan helaan napas berat, ia menyerah.
Dengan enggan, Ayra bangkit dan menyingkirkan selimut. Matanya terbuka perlahan, lalu menyapu ruangan. Benar saja—semua orang sudah siap menunggunya. Kael dan Jadrel bahkan telah melipat rapi karpet tidur mereka di lantai.
Ayra berdeham keras.
Ia merapikan diri seadanya, mengikat rambutnya asal-asalan, lalu menyambar jaketnya dengan gerakan cepat.
“Yaudah, yok, berangkat!” serunya, sengaja menurunkan suara menjadi berat dan tegas, meniru gaya komandan paskibra di dunia asalnya.
Sejenak, suasana hening.
Lalu, ekspresi geli mulai bermunculan.
Kael, yang biasanya paling kesal setiap kali harus membangunkan Ayra, kali ini hanya menghela napas pendek dengan senyum tipis—lebih terhibur daripada jengkel melihat tingkah konyol gadis itu.
“Begitu saja?” tanya Lyza heran, matanya menelusuri penampilan Ayra yang masih tampak kusut.
“Maksudnya?” Ayra balik menatap bingung, alisnya sedikit terangkat.
“Apa kau tidak membersihkan diri?”
“Gak ah, dingin tahu. Udah yuk, jadi pulang nggak nih?” jawab Ayra sambil menyengir lebar tanpa dosa.
Tak lama kemudian, kelima orang itu melangkah keluar dari penginapan.
Udara siang menyambut mereka dengan dingin yang tipis namun menusuk. Setelah Jadrel menyelesaikan pembayaran, ia langsung berjalan paling depan, menuju para penjaga katrol.
Desa itu terpahat di dinding karang yang curam. Untuk mencapai bagian atas—bibir tebing tempat jembatan penyeberangan berada—mereka harus menggunakan kerek: sebuah keranjang besar dari anyaman besi dan kayu yang tergantung pada sistem katrol raksasa.
Langkah mereka melambat saat mendekat.
Di depan mereka, struktur kayu besar menjulang, tali-tali tebal melilit pada roda besi yang tampak kokoh namun tetap memunculkan rasa waspada.
Krrekk… kreek…
Suara gesekan tali dengan lingkaran besi terdengar berat dan kasar saat para penjaga mulai menurunkan keranjang.
Rombongan pun dibagi menjadi dua kelompok.
Beban lima orang sekaligus dianggap terlalu berisiko untuk ditarik ke atas tebing yang curam itu.
Akhirnya, Lyza, Ayra, dan Jadrel naik lebih dulu. Sementara itu, Kael dan Senna tetap menunggu giliran di bawah.
Keranjang kayu itu sedikit bergoyang saat mereka masuk.
Ayra berdiri di salah satu sisi, tangannya bertumpu santai pada pinggiran besi. Ia melirik ke bawah sekilas, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke sekeliling, seolah lebih tertarik pada pemandangan daripada ketinggian itu sendiri.
Krrekk… kreek…
Keranjang mulai terangkat perlahan.
Angin berembus, membawa aroma batu lembap dan lumut dari dinding tebing.
“Jadrel, bukankah itu jalur yang kita gunakan saat menuju pusat desa?” tanya Lyza, tangannya terangkat menunjuk ke arah jalan lebar yang melipir di punggung bukit di kejauhan.
Jadrel mengikuti arah pandangannya.
“Anda benar, Putri. Itu adalah lintasan utama bagi kereta kuda atau penunggang binatang,” jawabnya tenang.
Lyza mengangguk kecil, matanya masih memperhatikan jalur tersebut.
“Pantas… aku merasa asing. Bukankah kuda atau kereta tidak bisa melewati hutan penuh lumut yang kita lalui kemarin?”
“Tepat, Putri. Ternyata Anda benar-benar menikmati perjalanan ini,” sahut Jadrel, dengan nada yang nyaris tak berubah. “Jalur kemarin terlalu berbahaya untuk binatang pengangkut. Saya sengaja memotong jalan agar perjalanan tidak terlalu jauh. Jika kita mengambil jalur kereta yang memutar itu, mungkin butuh empat atau lima hari lagi sebelum kita bisa sampai di rumah.”
Lyza mengangguk paham.
Sementara itu, Ayra hanya menyimak dalam diam. Tangannya tetap bertumpu santai, sesekali tubuhnya mengikuti goyangan kecil keranjang yang terus naik. Tatapannya berkeliling, menikmati pemandangan dari ketinggian tersebut.
Perlahan, keranjang mencapai bibir tebing.
Begitu menapak di tanah datar, mereka keluar satu per satu.
Di bawah, katrol kembali diturunkan.
Menjemput Kael dan Senna yang menunggu giliran berikutnya.
Di sisi lain tebing, para penjaga jembatan mulai bersiap. Mereka saling meneriakkan aba-aba. Tak lama kemudian, suara rantai beradu menggema, berat dan berulang.
Jembatan gantung yang semula terlipat di kedua sisi tebing mulai diturunkan perlahan.
Kayu demi kayu terulur.
Tali-tali menegang.
Hingga akhirnya, bentangan panjang itu menghubungkan dua sisi ngarai yang menganga.
Kelima orang itu segera berjalan, meniti jembatan dengan langkah hati-hati.
Papan-papan kayu di bawah kaki berderit pelan, bergoyang mengikuti arah angin.
Lyza tampak kaku.
Ini adalah pertama kalinya ia menyeberangi jurang sedalam itu hanya dengan pijakan rapuh yang terus bergerak. Wajahnya pucat, tubuhnya gemetar halus, napasnya tak beraturan.
Ayra melirik ke samping.
Raut itu… terlalu familiar.
Ia teringat dirinya sendiri saat pertama kali menyeberangi jembatan layang di Desa Falmora—perasaan asing, kosong di perut, dan sensasi seolah dunia bisa runtuh kapan saja di bawah kaki.