Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #41

Misteri Sebuah Rasa

Malam turun perlahan, seolah tirai hitam raksasa yang dibentangkan menutupi Padang Perdu. Namun, langit malam di dunia ini tidaklah pekat menyedihkan. Di atas sana, langit berwarna merah muda gelap bergelut dengan bintang-bintang biru cerah, sementara bulan sabit berwarna hijau keperakan tergantung anggun tepat di atas kepala mereka.


Di bawah naungan atap semesta yang ganjil namun indah itu, kelima orang tersebut duduk mengelilingi api unggun yang berkerletuk hangat.


Jadrel dan Kael baru saja kembali membawa hasil buruan: seekor burung liar berukuran cukup besar. Keduanya berada agak menjauh dari yang lain.


Kael duduk di atas tanah berumput, sibuk mencabuti bulu-bulu unggas itu dengan cekatan. Sementara di sampingnya, Jadrel duduk tenang, mengasah pisau dengan gerakan berirama.


Srek… srek…


Suara gesekan logam itu berpadu dengan desir angin malam.


“Kau terampil juga membersihkan binatang buruan.”


Kael tidak langsung menjawab. Tangannya tetap bekerja, mencabut bulu demi bulu tanpa jeda. Beberapa helai beterbangan pelan sebelum jatuh ke tanah.


“Mau bagaimana lagi,” ujarnya akhirnya. “Aku melakukan perjalanan bersama dua perempuan yang lebih sering bersenda gurau dibanding diam dalam kerja.”


Kalimat itu terdengar seperti keluhan. Namun saat ia mengangkat wajah, rautnya justru cerah—seolah yang ia ceritakan adalah kenangan yang diam-diam ia nikmati.


Srek… srek…


Jadrel tetap mengasah pisaunya. Namun sudut bibirnya terangkat tipis.


Senyum seorang ayah yang melihat anak-anaknya akur, bahkan ketika mereka dipenuhi canda dan cekcok kecil.


“Perempuan memang seperti itu,” katanya tenang. “Berisik, gaduh… tetapi bukankah di situlah letak menariknya mereka?”


Gerakan tangannya melambat.


Pisau itu berkilat samar di bawah cahaya api unggun.


“Mereka begitu riuh,” lanjutnya pelan, kini matanya terangkat menatap bintang-bintang di atas sana, “namun di saat yang sama… hangat dan lembut.”


Angin malam berembus pelan, membawa aroma asap dari api unggun.


Kael melirik ke arahnya. Tangannya yang semula cekatan kini sedikit melambat. Ia melihat raut sendu yang terselip di balik ketenangan lelaki itu.


Namun Kael cukup mengerti.


Seorang lelaki tidak akan bercerita… jika ia tidak ingin bercerita.


Itu sebabnya Kael diam.


Hanya sebuah anggukan tipis yang ia berikan, sebelum kembali menunduk dan melanjutkan pekerjaannya, membersihkan buruan itu.


Di sisi lain, para gadis sibuk menyiapkan peralatan memasak.


Ayra, yang pernah bekerja beberapa waktu di Rumah Makan Brymore, terlihat begitu luwes. Tangannya lincah menumbuk bumbu-bumbu dapur yang sempat ia beli di pusat desa sebelum berangkat. Suara ulekan batu beradu dengan mangkuk kayu terdengar berirama.


Sesekali Senna membantu mengambilkan bumbu yang Ayra minta. Gadis penyembuh itu juga telah menyiapkan beberapa lembar daun lebar yang sudah dibersihkan sebagai alas daging.


Lyza duduk memeluk lutut, meringkuk rapat. Matanya menatap nyalang ke arah api, sementara telinganya siaga, menangkap setiap kresek ranting dari kegelapan yang mengepung mereka.


Perjalanan mereka sempat terhambat di bukit. Tangisan Ayra membuat mereka berhenti cukup lama untuk memberi ruang bagi gadis itu. Namun ketika semuanya kembali tenang, matahari telah condong ke barat.


Akhirnya, mereka sepakat untuk beristirahat di tempat terbuka ini.


Lyza masih mengingat bagaimana Ayra berkali-kali meminta maaf, merasa menjadi penyebab keterlambatan itu.


Namun Lyza tidak bisa marah.


Bagaimana mungkin ia marah pada seseorang yang telah menyelamatkannya, bahkan rela ikut tertawan demi dirinya—hingga pada akhirnya ia bisa kembali bertemu dengan para pengawalnya, meski harus dibayar dengan kehilangan Corven.


Setiap kali mengingat lelaki tua itu, hatinya berdenyut nyeri.


Di sela kegelisahannya, pandangan Lyza beralih. Ia diam-diam mengamati Senna.


Sepanjang perjalanan, ia memperhatikan bagaimana kakak beradik itu memperlakukan Ayra. Ada kehangatan yang terasa begitu tulus dalam setiap interaksi mereka, meski tanpa ikatan darah.


Kedekatan itu terasa nyata. Terasa lama terbangun.


Dan entah mengapa, justru itu yang membuat dada Lyza terasa nyeri.


Ia iri.


“Sen, udah bikin tusuk buat sate belum, ya?”


Suara cempreng Ayra memecahkan lamunan sang Putri.


Lyza mengerjap, tersadar dari pikirannya. Meski ia takut bermalam di tempat terbuka, berada di tengah orang-orang yang memiliki kesaktian dan kesetiakawanan ini sedikit banyak mengikis kekhawatirannya.


“Wah, udah selesai? Cepet banget,” gumam Ayra girang saat melihat Kael menyerahkan daging burung yang sudah bersih dan terpotong rapi.


Tangannya langsung terulur, menerima hasil kerja itu dengan mata berbinar.

Lihat selengkapnya