Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #42

Rasa yang Mulai Tumbuh

Malam kian larut.


Di pinggir area perkemahan, Ayra mengusap pelan wajahnya yang sedikit berkeringat menggunakan punggung tangan. Napasnya terlepas panjang.


"Akhirnya kelar juga," gumamnya lega.


Matanya jatuh pada tumpukan kuali dan wadah-wadah kayu basah di hadapannya.


Sisa-sisa air masih menetes pelan dari pinggirannya.


Setelah santap malam usai, Ayra memang bersikeras membereskan peralatan masak dan makan sendirian. Tadi, Senna sempat memaksa ingin membantu, namun Ayra menolaknya dengan halus. Ia meminta gadis penyembuh itu menemani Lyza beristirahat saja.


Ayra mengerti betul.


Sebagai seorang anak Reeve yang terbiasa hidup nyaman, perjalanan menembus semak belukar setinggi dada jelas menguras habis fisik dan mental Lyza.


Namun...


Bicara soal Lyza, ada satu hal yang sempat mengusik benak Ayra.


Tangannya berhenti sejenak di atas sebuah wadah kayu.


Putri.


Ia mengernyit tipis.


Setahu Ayra, anak seorang Reeve umumnya disapa dengan sebutan Nona Muda.


Tapi... kenapa Lyza berbeda?


Rasa penasaran itu bahkan sempat membuatnya nekat bertanya langsung beberapa hari lalu, saat mereka menginap di Desa Roccamora.


Ingatan itu muncul perlahan.


"Eh, Lyz... boleh nanya nggak sih?"


Ayra mencondongkan tubuh, suaranya diturunkan setengah berbisik. Matanya melirik ke samping, seolah memastikan tidak ada orang lain yang mendengar.


"Tapi kamu jangan marah, ya. Aku cuma penasaran aja kok. Terus... jangan aduin ke Pak Jadrel."


Lyza menatapnya dengan raut bingung. Matanya mengerjap pelan, sebelum akhirnya ia mengangguk.


Ayra berdeham kecil, lalu membetulkan posisi duduknya.


"Setahuku nih... kamu kan tahu aku bukan asli orang dunia sini." Ia menunjuk dirinya sendiri sekilas. "Makanya aku penasaran. Kenapa Pak Jadrel manggil kamu Putri?"


Ia berhenti sejenak, memberi ruang.


"Emang sih, aku belum pernah ketemu anak Reeve yang cewek. Tapi waktu di desa pemburu, orang sana manggil anak Reeve itu Tuan Muda."


Ketegangan di wajah Lyza seketika mengendur.


Ia tersenyum tipis, lalu mengembuskan napas panjang-seolah sedari tadi menahan sesuatu yang tidak perlu.


"Aku sudah berpikiran yang tidak-tidak. Ternyata kau hanya menanyakan hal seperti ini," ujarnya lembut.


Ia memutar tubuh sedikit, menatap wajah Ayra yang terlihat antusias menunggu jawaban.


“Sejujurnya… aku sempat terkejut, ketika di penginapan itu. Setiap kali Jadrel ataupun Corven memanggilku, banyak orang yang seketika menoleh—bahkan tidak sedikit yang dengan terang-terangan menertawakan panggilan itu,” lanjutnya pelan, suaranya tenang meski menyimpan jejak keheranan yang belum sepenuhnya hilang.


“Aku baru mengetahuinya belakangan, bahwa anak seorang Reeve umumnya dipanggil Nona Muda atau Tuan Muda.”


Ia mengangkat pandangan, meski tidak sepenuhnya menatap.


“Kau tentu sudah tahu, selama ini aku sama sekali tidak pernah keluar dari desa. Itu sebabnya aku sampai merengek pada ayah dan ibuku agar mengizinkanku ikut bersama warga menjual hasil madu.”


Ia terdiam sejenak, seolah menimbang kembali ingatan itu. “Meski ternyata di luar sini tidaklah seaman desa… aku justru merasa senang. Terlebih perjalanan ini.”


“Terima kasih… karena sudah sudi mengantarkan aku pulang.”


“Untuk pertanyaanmu sebelumnya, kata Jadrel orang tuaku dulunya adalah bangsawan… ibuku, lebih tepatnya.”


Cara Lyza mengatakannya tetap tenang, namun menyisakan kesan samar—seolah ada bagian lain yang sengaja tidak ia lanjutkan.


Ayra sempat ingin bertanya—bangsawan? Memangnya ada kerajaan di dunia ini?  kenapa Lyza terlihat sendu? Bukankah seharusnya ia bangga dengan statusnya sebagai anak bangsawan?


Namun demi melihat wajah Lyza yang perlahan berubah, Ayra menahan diri.


Ia hanya mengangguk waktu itu.


Hembusan angin malam yang tiba-tiba menyapu tengkuknya membuat Ayra tersentak halus.


Ia kembali ke realita.


Napas ditarik, lalu diembuskan perlahan, seakan mengusir sisa lamunan yang masih tertinggal.


Ayra kembali fokus.


Dengan gerakan hati-hati, ia menata perabot yang baru dicucinya di atas hamparan rumput rendah. Selembar kain bersih ia bentangkan terlebih dahulu, memastikan tidak ada tanah yang menempel.


Satu per satu ia susun rapi.


Wadah kayu itu saling bersentuhan, menimbulkan bunyi lirih yang nyaris tenggelam oleh suara malam.


Sambil menunggu angin mengeringkannya, Ayra duduk memeluk lutut.


Kepalanya perlahan mendongak.


Langit malam terbentang luas di atas sana-ganjil, namun memukau. Sapuan warna merah muda gelap menyelimuti angkasa, berpadu kontras dengan taburan bintang biru yang berkedip terang. Di antaranya, bulan sabit hijau keperakan menggantung tenang dalam diam.


Ayra menatapnya lama.


Diam.


"Apa aku bisa pulang, ya?" bisiknya pada angin.

"Tapi... pulang juga mau ngapain?"


Sekonyong-konyong, bayangan wajah keriput neneknya muncul di benaknya.


Samar. Hangat. Dekat.


"Ndok, sudah malam, lho. Lihatin apa, to?"


Suara itu pelan, akrab. Jemari keriput mengelus lembut rambut Ayra yang tengah duduk menjongkang di lincak bambu, tepat di samping rumah.


Ayra tidak menoleh. Matanya masih terpaku ke langit.


Bulan purnama menggantung bulat di atas sana-warnanya putih agak kekuningan, lembut, dan tidak menyilaukan. Cahayanya jatuh pelan ke halaman, membasuh daun pohon pisang, dan menyentuh tanah yang masih menyimpan sisa panas matahari siang tadi.


"Bentar, ah, Nek... aku masih betah lihatnya."


Neneknya ikut duduk di sampingnya. Tarikan napas wanita renta itu terdengar pelan dan tenang.


"Kamu itu ya... dari dulu nggak bosen-bosen lihat bulan," gumamnya. "Persis ibukmu."


Ayra cuma menyengir kecil.


Neneknya tidak langsung melanjutkan. Ia ikut menatap bulan beberapa saat, lalu sedikit mendekat.


Suaranya turun. Hampir seperti bisikan di telinga.


"Hati-hati, lho..."


Jemarinya kembali menyisir pelan rambut Ayra.


"Orang tua dulu bilang... kalau kelamaan mandang bulan purnama... apalagi sendirian..."


Ia berhenti.


Sunyi.


Hanya suara jangkrik yang berderik halus di sela malam.


Lalu, dengan suara yang lebih lirih-nyaris seperti rahasia-


Lihat selengkapnya