Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #43

Darah, Bayangan, dan Jalan Pulang

Tanpa perlu dikomando ulang, Ayra langsung bergerak. Tubuhnya menghilang, menyisakan pendar merah muda yang beriak seperti air terhantam batu.


Sesampainya di tenda, Ayra segera membangunkan Senna. Lyza, yang ikut mendengar keributan itu, terlonjak bangun dengan wajah pucat. Jadrel sudah lebih dulu terjaga sejak mendengar seruan Kael sebelumnya.


Tak lama kemudian, kelima orang itu berdiri rapat.


“Apa-apaan itu?” seru Ayra, suaranya nyaris tercekat.


Dari balik kegelapan semak-semak, sebuah “awan hitam” bergerak cepat ke arah mereka. Massa itu memantulkan cahaya api unggun dengan kilatan-kilatan kecil yang terasa salah—terlalu banyak, terlalu rapat.


Yang lain ikut menatap. Ekspresi mereka sama ngerinya dengan wajah Ayra.


“Awas, mereka mendekat,” ujar Jadrel refleks, tubuhnya otomatis bergeser untuk melindungi Lyza.


Kael menghunus pedangnya. Di sebelahnya, Senna menggenggam tongkat kayu peninggalan ayahnya—benda yang biasa ia peluk sebelum tidur karena aroma kayunya selalu mengingatkannya pada sosok itu.


Ia yang terkejut tadi tak sempat menyambar pedangnya; ia justru tetap memegang tongkat peninggalan ayahnya. Kesadarannya sempat tertahan sekejap, seolah tubuhnya masih mengejar apa yang baru saja terjadi.


“Sen, awas!”


Ayra bergerak cepat. Rantainya berdesing, menyambar binatang yang mendekat di depan Senna. Gerakan itu nyaris tak terlihat, hanya meninggalkan jejak cahaya merah muda yang berkelip sesaat di udara.


Gadis penyembuh itu tersentak, lalu segera menarik napas panjang, memaksa dirinya kembali fokus. Sesaat kemudian, tirai cahaya hijau membentang, menyelimuti mereka berlima tepat ketika dengungan itu hampir mencapai batas di mana posisi mereka berdiri.


“Ya ampun, itu apa? Banyak banget!” Ayra bergidik saat melihat ribuan nyamuk sebesar jempol menempel pada tirai pelindung Senna.


Lyza, yang baru bangun tidur, masih bingung dengan situasi itu. Ia termangu beberapa detik—namun ketika kawanan tersebut menempel dan memenuhi tirai pelindung, matanya terbelalak.


Tubuhnya gemetar.


Dengungan itu memenuhi gendang telinganya, tebal dan menekan.


Tanpa sadar, ia menggenggam tangan Jadrel erat. Kuku-kukunya memutih.


Yang paling merasakan dampaknya adalah Senna.


Ribuan jarum tipis seolah tertancap dan mengoyak sihirnya. Ia gemetar, bukan karena takut, melainkan karena merasakan daya sihirnya terkikis sedikit demi sedikit. Tirai itu berkedip-kedip, warnanya berubah menjadi hijau kebiruan, lalu sesekali memudar menjadi hijau redup.


Melihat hal itu, Kael mulai gelisah. Wajah adiknya telah pucat, basah oleh keringat.


“Senna, bagaimana keadaanmu?”


Seperti biasa, gadis itu berusaha menampilkan senyum.


Namun Kael tahu betul itu hanya usaha untuk menenangkannya.


Ayra, yang berdiri di sisinya, ikut menatap khawatir. Ia menggenggam erat rantai akar di tangannya.


Deg… Deg…


Apa itu?


Ayra refleks melepas genggaman pada rantainya, lalu meraihnya kembali. Jemarinya menegang, seolah benda itu bisa lepas begitu saja jika ia lengah.


Sekali lagi.


Deg… Deg…


“Ada apa sih ini?” serunya, terbawa kepanikan dan ketakutannya sendiri.


“Aya, kau kenapa?” Kael menatapnya khawatir.


“Nggak tahu. Aku juga bingung. Tapi aku ngerasain rantai ini kayak berdenyut, kayak suara jantung.”


“Apa maksudmu?”


Ayra kembali menggeleng, napasnya mulai tidak teratur.


Senna berdesah. Tubuhnya kian gemetar.


“Senna.” Kael menahan kedua bahu adiknya, mencoba menyalurkan ketenangan yang bahkan ia sendiri hampir kehabisan.


“Aku tidak kuat lagi. Maafkan aku,” ucapnya lemah.


Tirai itu perlahan pecah.


Seperti kaca tipis yang retak dari dalam, cahaya hijau itu runtuh dan lenyap dalam sekejap.


Semua orang terkejut. Namun tidak ada waktu untuk berpikir.


Serempak mereka bergerak—dan justru saling menjauh.


Jadrel segera menarik Putri Lyza mundur. Kael memutar badan, tangannya terkepal, satu tangan lain erat menggenggam pedangnya. Ia bergerak cepat—satu tangan melancarkan kilat biru keperakan, sementara yang lain menebas liar, memotong jalur serangan yang datang bertubi-tubi.


Di sisi agak jauh, Ayra memainkan rantainya. Ujung logam putih berbentuk daun itu berkilat setiap kali menebas, menghantam binatang yang mencoba mendekat.


Senna, yang terlupa tidak membawa pedangnya, hanya mengandalkan tongkat itu. Ia memutarnya canggung, namun cukup untuk menahan nyamuk-nyamuk besar yang berusaha menyerangnya.


Namun seolah semuanya belum usai—


Dari semak-semak, bermunculan binatang seukuran tangan orang dewasa.


Makhluk-makhluk itu terlihat mempesona, namun sekaligus menakutkan. Dari perut mereka bersinar cahaya terang bak lampu. Lebih anehnya lagi, warna tiap cahaya itu bermacam rupa—ada yang biru, kuning, putih, dan hijau.


Dan yang paling ganjil…


Binatang itu mengeluarkan suara.


Suara yang nyaris seperti manusia—namun serak, patah, dan tidak wajar, seolah kata-kata itu dipaksa keluar dari tenggorokan yang tidak seharusnya bisa berbicara.


Belum sempat semuanya bernapas lega, dari sisi lain Lyza menjerit.


Semua menoleh serentak.


Gadis itu meronta. Tubuhnya terangkat dari tanah, melayang tak wajar. Di bahu, rambut, hingga pinggangnya, beberapa binatang kunang-kunang menempel, cahayanya berdenyut liar seolah sedang menghisap sesuatu dari tubuhnya.


“Putri!”


Jadrel sudah berlutut tak jauh dari sana. Satu tangannya menekan luka akibat gigitan nyamuk sebesar jempol, napasnya tertahan oleh nyeri yang masih menjalar.


Ayra yang melihat itu langsung bergerak.


Tanpa ragu, ia memutar rantainya. Pendar merah muda melesat, menghantam satu binatang kunang-kunang yang mencengkeram bahu Lyza. Di saat yang sama, Kael mengangkat tangannya dan melepaskan serangan jarak jauh—cahaya biru keperakan meluncur cepat, menghantam makhluk yang melayang tepat di atas kepala Lyza.


Serangan demi serangan dilancarkan.


Kael dan Ayra tak memberi celah. Kilatan biru dan merah muda saling bersahutan, memaksa makhluk-makhluk itu melepaskan cengkeramannya.


Tubuh Lyza jatuh.


Namun sebelum ia sempat menghantam tanah, Ayra sudah menghilang—dan muncul kembali tepat di sisinya. Ia menangkap tubuh Lyza, lalu berpindah sekali lagi, mendarat kokoh beberapa langkah dari titik sebelumnya.


Kael segera berbalik, menghampiri Jadrel. Ia memapah pria itu berdiri, meski wajah Jadrel masih menegang menahan rasa sakit akibat sengatan.


Akhirnya, kelimanya kembali berkumpul.


Mereka saling merapat, napas memburu, tubuh siaga.


Namun pada saat yang sama—


Dua jenis binatang itu bergerak bersamaan.


Nyamuk dan kunang-kunang.


Mereka tidak lagi menyerang terpisah.


Kini, keduanya seperti menyatu dalam pola yang sama, berputar dan menukik dengan ritme yang lebih terarah. Lebih ganas.


Ayra melangkah maju, memasang badan.


Ia berdiri tegak.


Matanya terbuka lebar.


Lalu—


Tanpa peringatan, sekelebat ingatan menerobos masuk ke benaknya. Kasar. Mendadak. Memaksa.


Ingatan yang selama ini ia kira hanya mimpi.


Ia melihat dirinya sendiri.


Dikerubungi kelinci berekor lancip.


Tak bisa bergerak. Tak bisa bernapas.


Menjerit—


Dan pada saat itulah sihirnya bangkit.


Napas Ayra terhenti sejenak.


Lalu tubuhnya bergerak.


Seolah bukan lagi dirinya yang mengendalikan.


Rantai itu terangkat, berputar di atas kepalanya. Pendar merah muda melingkar, membentuk pusaran cahaya yang hidup, mengikuti setiap gerakan tangannya.


Semua orang bersiap.


Ayra menjerit.


Tubuhnya menyala terang, memancarkan cahaya merah muda yang menyilaukan. Rantai itu berputar semakin cepat, menciptakan lingkar perlindungan.


Setiap serangga yang tersentuh—


Lenyap.


Mereka tidak jatuh.


Tidak hancur.


Mereka seperti terhapus, berubah menjadi percikan cahaya sebelum menghilang sepenuhnya.


Di belakangnya, Senna menahan tubuh Lyza yang hampir ambruk.


Tangannya gemetar saat menyentuh luka di tubuh putri itu.


Cairan kental berwarna madu mengalir dari luka terbuka itu, menetes perlahan di kulitnya.


Senna menatapnya ragu.


Ia ingin membersihkan. Ingin menyembuhkan.


Namun sesuatu terasa salah.


Aroma mulai tercium.


Harum—


Tapi bukan harum yang menenangkan.


Bau itu lembut, manis… dan mematikan. Seolah setiap helaan napas perlahan melumpuhkan kesadaran.


Senna menarik tangannya, ragu untuk menyentuhnya lagi.


Di sisi lain, Kael tidak tinggal diam.


Ia melangkah maju, mengambil posisi di garis depan. Tubuhnya bergerak lincah, setiap serangan dilepaskan dengan presisi. Cahaya biru keperakan menghantam nyamuk dan kunang-kunang yang mencoba menyusup dari celah yang tak sepenuhnya tertutup oleh putaran rantai Ayra.


Dua cahaya kini menari di udara.


Biru keperakan menghantam dan menjatuhkan.


Merah muda berputar dan melindungi.


Satu menghancurkan.


Satu menghapus.


Ya… ini yang terjadi waktu itu, batin Ayra.


Ingatan itu semakin jelas.


Ia kembali melihat dirinya yang dulu—terjebak di tengah kerumunan kelinci aneh itu. Ia menjerit… dan sesuatu dalam dirinya meledak.


Bukan hanya memindahkannya.


Tapi juga menyingkirkan semua yang mengelilinginya.


Ayra terus memutar rantainya.

Lihat selengkapnya