Langkah kaki kelima orang itu akhirnya membawa mereka ke pusat lembah, tempat tanah merata dan hembusan angin terasa lebih jinak. Setelah perjalanan yang melelahkan, area itu seolah menjadi ruang jeda, sebuah sela sunyi sebelum dunia kembali bergerak cepat.
Di hadapan mereka, kediaman Reeve Aezer berdiri menaungi kawasan tersebut.
Bangunan utama rumah itu berbentuk segi enam yang melebar, dibangun dari kayu ek tua yang warnanya telah menggelap dimakan cuaca, berpadu dengan pondasi batu alam yang kokoh. Tidak ada kemewahan mencolok yang dipamerkan di sana. Rumah itu justru memberi kesan hidup, seolah tumbuh dan bernapas bersama waktu.
Dinding kayunya nyaris tak terlihat, tertutup sepenuhnya oleh anyaman batang tanaman ivy dan wisteria yang merambat tebal. Tanaman itu bukan sekadar hiasan, melainkan rumah bagi ribuan lebah yang menyusup masuk ke balik rimbunnya dedaunan, menyembunyikan sarang-sarang madu yang menempel pada jalinan dahan tua di dinding rumah.
Pekarangannya luas dan terawat rapi. Di satu sisi, sebuah pohon oak besar menaungi jalan setapak yang mengarah ke pintu samping rumah. Di sisi lain, deretan mawar rambat tengah bermekaran, bunganya lebat dan segar, seolah tak tersentuh kerasnya musim.
Pagi itu, suasana di kediaman Reeve cukup sibuk.
Di dekat pagar, seorang tukang kebun tua membungkuk rendah, tekun memangkas dahan-dahan mawar liar yang mulai tak beraturan dengan sabit kecil di tangannya. Tak jauh dari sana, di teras depan, seorang pelayan wanita berbaju abu-abu menyapu guguran kelopak bunga dengan sapu lidi, gerakannya ringan dan teratur. Dari dalam rumah, seorang pelayan pria mendorong terbuka daun jendela kayu yang berat, membiarkan cahaya matahari pagi dan udara segar mengalir masuk.
Segalanya berjalan dalam ritme yang rapi dan terbiasa, hingga sang tukang kebun akhirnya menegakkan punggungnya untuk menyeka keringat.
Pandangan matanya tertangkap pada sosok yang berdiri di jalan masuk.
Lyza.
Pakaiannya kotor oleh debu dan tanah, rambutnya kusut tak terurus, dan wajahnya memantulkan sisa kelelahan yang tak sempat ia sembunyikan. Tukang kebun itu tertegun. Sabit kecilnya nyaris terlepas dari genggaman. Dengan gerakan refleks, ia menyenggol lengan pelayan wanita di dekatnya.
Satu per satu, kesibukan pagi itu terhenti.
Para pelayan segera meletakkan alat kerja mereka dan menunduk hormat dengan gerakan terlatih, meski sorot mata mereka tak mampu sepenuhnya menyembunyikan rasa terkejut dan penasaran melihat kondisi nona muda yang kembali dalam keadaan demikian.
Pelayan pria yang tadi membuka jendela bergegas turun ke halaman, setengah berlari kecil menghampiri mereka.
“Putri Lyza,” sapanya dengan suara rendah sambil membungkuk hormat. Sekilas ia melirik ke arah pintu utama yang terbuka lebar. “Mohon lewat pintu samping. Reeve Aezer tengah terlibat perundingan dagang yang cukup pelik dengan para pedagang dari Wilayah Tengah di ruang depan.”
Lyza hanya tersenyum tipis, sama sekali tidak berniat memuaskan rasa penasaran para pelayan itu. Dengan langkah mantap, ia mengajak rombongan kecil tersebut memasuki rumah melalui pintu samping.
Dengan takjub, Ayra menoleh ke sana-sini. Baru kini ia menyadari bahwa dengungan lembut itu berasal dari balik dedaunan di dinding rumah. Ribuan lebah tampak keluar masuk dari sela-sela tanaman rambat, seolah dinding itu bernapas dan hidup. Aroma manis madu dan bunga menguar kuat, menambah keunikan tempat tersebut.
Pikirannya melayang sejenak ke kejadian beberapa waktu lalu. Saat mereka masih berada di dekat aliran sungai, Lyza bersikeras agar semua membersihkan diri terlebih dahulu. Ketika Ayra tampak enggan menurut, Senna langsung menggamit lengan gadis itu.
Menurut Ayra, tidak akan ada bedanya antara membersihkan diri atau tidak. Pakaian yang kusut dan bernoda darah tidak akan mudah dibersihkan juga. Namun ia pasrah saja ketika Senna setengah menyeretnya. Tepat saat itu, gadis penyembuh itu membisikkan sesuatu ke telinganya.
Kalimat singkat yang membuat Ayra terdiam.
Meski suasana dan pemandangan tempat ini begitu indah, begitu memanjakan mata, pesan itu membuatnya merasa tidak nyaman. Keindahan di hadapannya mendadak terasa sedikit hambar.
Sesampainya di dalam rumah, beberapa pelayan langsung mempersilakan rombongan mengikuti mereka menuju ruangan yang diperuntukkan bagi tamu. Sementara itu, Lyza dan Jadrel memisahkan diri, berjalan ke arah ruangan lain.
Ayra menatap interior bangunan yang dipenuhi aroma bunga dan kayu tua. Matanya tak henti mengamati dinding-dinding kayu yang membentuk sudut segi enam di sekelilingnya, membayangkan ribuan lebah yang sibuk bekerja tepat di balik papan-papan tersebut.
Tak lama kemudian, para pelayan kembali, membawa beberapa helai pakaian bersih untuk mereka.
Setelah Ayra, Senna, dan Kael berganti pakaian, Lyza menyusul masuk ke ruangan itu.
“Kalian sudah selesai? Mari ikut aku, Ayah dan keluargaku sudah menunggu di bangunan utama,” ucap Lyza. Gadis itu menatap ketiganya bergantian. Senyumnya terukir rapi, namun Senna bisa merasakan kegelisahan yang bersembunyi di baliknya.