Beberapa saat sebelumnya, ketika tubuh ketiga orang itu membatu akibat sihir Zyrel, Lyza segera memanggil para pelayan untuk membawa mereka ke kamar tamu.
Mereka baru tersadar beberapa waktu kemudian.
Saat mata terbuka, yang pertama menyambut hanyalah langit-langit asing dengan ukiran kayu berwarna pucat. Aroma bunga kering memenuhi udara. Untuk sesaat, kebingungan menyergap kepala mereka seperti kabut tebal.
Lalu ingatan tentang kejadian pagi tadi menghantam sekaligus.
Kael langsung terlonjak dari tempat tidur.
“Brengsek…”
Ia menyemburkan umpatan kasar sambil menepis selimut, kemudian berjalan keluar dengan langkah lebar dan tergesa. Pintu kamar terbuka keras hingga membentur dinding.
Senna yang masih setengah sadar segera bangkit.
“Hei, tunggu…!”
Ayra bahkan masih memegangi kepalanya yang berat ketika keduanya bergegas keluar menyusul Kael.
Sementara itu, Lyza yang menerima laporan dari para pelayan segera memanggil Jadrel. Tidak lama kemudian, mereka akhirnya menemukan Kael di bukit tinggi itu, tempat angin sore berembus dingin dan rumput-rumput liar bergoyang pelan di bawah langit merah muda.
“Tunggu, Kael.”
Senna berhasil menyusul lalu menahan lengan kakaknya sebelum lelaki itu melangkah lebih jauh.
Kael langsung menepis tangan tersebut.
“Apa lagi yang kau cari di sini?” bentaknya tajam. “Menanti hadiah yang dijanjikan lelaki tua tidak tahu diri itu?”
Suasana mendadak membeku.
Ayra, Jadrel, dan Lyza hanya berdiri diam beberapa langkah dari mereka, menyaksikan pertengkaran itu tanpa mampu menyela.
“Kau tahu itu bukan maksudku,” jawab Senna pelan. Suaranya sedikit bergetar, tetapi ia berusaha tetap tenang. “Aku hanya ingin kau berpikir lebih jernih dulu.”
“Jernih?” Kael tertawa pendek, hambar. “Setelah apa yang dilakukannya pada kita? Kau gila, Senna.”
Ia menggeleng keras, rahangnya mengencang.
“Apa sebenarnya yang kau cari di tempat ini?”
Senna membuka mulut hendak menjawab, tetapi Kael kembali memotongnya.
“Kau mau bilang kita harus bersabar? Menjelaskan perlahan bahwa keadaan tidak sesederhana yang dipikirkan lelaki tua itu? Bahwa Drevorn telah kembali?”
Napasnya memburu.
“Kau dengar sendiri, bukan? Lelaki itu sama sekali tidak peduli mendengar nama Drevorn. Ia hanya ingin aman. Tidak mau membuka mata terhadap penderitaan orang lain.”
Tatapan Kael bergeser.
Matanya melirik Lyza yang berdiri kaku di dekat Jadrel.
“Bahkan terhadap anaknya sendiri pun ia bersikap seperti itu.”
Lyza langsung menunduk dalam.
Raut wajah gadis itu runtuh seketika.
“Maaf…” gumamnya lirih. “Untuk semuanya. Aku tahu keluargaku sudah keterlaluan. Aku benar-benar tidak menyangka ayah dan kakakku akan merendahkan kalian sejauh itu.”
Jadrel berdiri termangu di sampingnya.
Pengawal tua itu mengenal Kael cukup lama. Meski pemuda itu tampak bengis sekarang, Jadrel tahu Kael bukan orang yang melontarkan kemarahan tanpa alasan. Di balik sikap kasarnya, lelaki itu hanya sedang mempertahankan harga diri dan menjaga jarak dari siapa pun.
“Jika kau tetap ingin pergi…” Senna kembali angkat bicara, mencoba menarik suasana keluar dari amarah yang mulai membakar, “lalu kita akan ke mana? Matahari hampir terbenam. Kita tidak mengenal tempat ini sama sekali.”
“Apa kau takut?” sambar Kael cepat.
“Aku tidak takut.” Senna menghela napas pendek. “Aku hanya berpikir sehat. Kita tidak tahu medan di sekitar sini. Itu akan menyulitkan kita.”