Lyza menjadi orang pertama yang memecah kesunyian.
"Ibu... apa itu tadi? Bagaimana Ibu bisa melakukannya?"
Namun, alih-alih menjawab pertanyaan itu, Ophelia justru tersenyum tipis.
"Kemarilah, Sayang," ujarnya pelan. "Ibu baru saja melakukan upacara penyambutan. Apa kau sudah lupa? Padahal kau baru pergi sebentar, tetapi kau sudah melupakan tradisi desa ini."
Lyza mengernyit.
"Ibu tahu aku tidak mungkin lupa. Aku hanya tidak pernah tahu kalau Ibu bisa mengendalikan serangga."
Senyum Ophelia tetap terpasang, tetapi entah mengapa terasa pahit, bukan bangga.
"Mereka bukan budak Ibu, Sayang. Mereka memiliki kehendaknya sendiri." Suaranya melembut. "Masih banyak hal yang belum kau ketahui, Lyza... dan itu sepenuhnya salah Ibu."
Tatapan perempuan itu jatuh pada putrinya, penuh kerinduan yang nyaris meluap.
"Tidakkah kau merindukan Ibu?" bisiknya lirih. "Kemarilah, Sayang."
Untuk pertama kalinya sejak tadi, Ophelia membuka kedua tangannya lebar-lebar. Suaranya terdengar rendah dan parau, seolah pita suaranya sudah lama tidak digunakan untuk berbicara hangat kepada siapa pun.
Lyza menoleh ke sekeliling dengan ragu. Setelah beberapa detik yang terasa panjang, ia akhirnya melangkah mendekat.
"Oh, anakku... kau selamat." Ophelia memeluknya erat. "Ibu menyayangimu."
Tubuh Lyza menegang dalam pelukan itu.
Beberapa saat kemudian, ia menggeleng kuat dan melepaskan diri. Gadis itu mundur selangkah, menatap ibunya dengan napas bergetar.
"Jangan mengatakan sesuatu yang bahkan tidak Ibu rasakan." Suaranya mulai meninggi. "Baru saja Ibu mengakui kalau Ibu menyembunyikan banyak hal dariku, lalu sekarang Ibu bilang Ibu menyayangiku?"
Ia tertawa kecil, tetapi terdengar rapuh.
"Kau tahu, Bu... aku memang hanya pergi sebentar. Tidak lebih dari sebulan." Matanya mulai berkaca-kaca. "Tetapi sekarang aku mengerti. Kasih sayang tidak ada artinya jika hanya diucapkan."
Napas Lyza memburu.
"Selama ini aku selalu berpikir... aku harus bagaimana agar kalian, walau sedikit saja, mau melihatku?" lanjutnya lirih. "Aku harus melakukan apa agar Ayah atau Kak Zyrel berhenti memandangku sebelah mata?"
Suaranya mulai pecah.
"Aku juga sering bertanya pada diriku sendiri, kenapa mereka memperlakukanku seperti itu. Bersikap kasar. Mengatakan hal-hal yang menyakitkan." Ia menelan ludah susah payah. "Sebenarnya... apa salahku?"
Lyza menatap lurus ke arah Ophelia.
"Apa karena aku sama sekali tidak memiliki sihir Eldrana seperti mereka? Seperti Ibu... yang ternyata juga memiliki sihir Eldrana, meski berbeda jenis dari Ayah?"
Dadanya naik turun tidak beraturan. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri, tetapi emosinya telanjur meluap.
"Tetapi, Bu..." suaranya melemah, nyaris patah. "Kau tahu apa yang lebih menyakitkan?"
Hening sesaat menggantung di udara.
"Sikap Ibu."
Kalimat itu menghantam jauh lebih keras daripada teriakan.
"Ibu tidak pernah membelaku, meskipun Ibu tahu semua itu bukan salahku." Air mata mulai jatuh di pipinya. "Ibu hanya melihatku dari kejauhan... lalu sesekali datang memelukku seakan itu sudah cukup."
Nada bicaranya meninggi.
"Aku sering berpikir, harus sehancur apa lagi diriku agar Ibu benar-benar datang dan memelukku."
Lyza mengusap wajahnya kasar, tetapi air matanya terus mengalir.
"Tahukah kau, Bu? Tempo hari, saat aku berhasil lolos dari orang-orang jahat itu..." suaranya bergetar hebat, "aku hampir yakin bahwa ketika pulang, setidaknya aku akan disambut. Dipeluk. Dilindungi."
Ia menunjuk rumah besar di belakang mereka dengan tangan gemetar.
"Tetapi apa yang terjadi?"
Tangisnya pecah.
"Kalian malah mencemoohku. Kalian membuatku malu."
Lalu tangannya beralih menunjuk Kael, Senna, dan Ayra yang berdiri tidak jauh dari sana.
"Lihat mereka." Napas Lyza tersengal. "Mereka bukan keluargaku. Mereka bukan saudaraku. Tetapi mereka mempertaruhkan nyawa agar aku bisa pulang tanpa kurang sedikit pun."
Bahunya terguncang hebat.
"Mereka menolongku tanpa pamrih... tanpa pernah menghitung apakah aku cukup layak untuk diselamatkan atau tidak."
Tangisan Lyza akhirnya benar-benar meledak.
Ayra diam-diam mengusap sudut matanya. Ada dorongan kuat untuk menghampiri dan memeluk gadis itu, tetapi ia menahan diri. Lyza membutuhkan ini. Ia harus mengeluarkan seluruh luka yang selama ini membusuk di dalam dadanya.
Sementara itu, Ophelia hanya terpaku.