Ayra yang sedang larut dalam pikirannya tersentak seketika.
Dalam sekejap, Ophelia telah berbalik arah, meninggalkan dua bersaudara Vaylan yang masih terengah di belakangnya. Ayra bahkan tidak sempat bereaksi ketika perempuan itu tiba-tiba sudah berdiri tepat di hadapannya.
Tiga jari Ophelia merapat, meluncur lurus ke arah lehernya.
Gerakan itu tampak ringan. Nyaris indah.
Namun di balik kelembutannya, tersembunyi ketajaman menyerupai sengatan.
Hampir terlambat.
Tubuh Ayra langsung melenyap, menyisakan riak cahaya merah muda di tempat ia berdiri sebelumnya.
Serangan Ophelia hanya menghantam udara kosong.
Ayra muncul beberapa langkah di belakang dengan napas memburu. Dadanya naik turun cepat, sementara jantungnya bergedub keras di dalam dada.
Ia bahkan belum sempat menarik napas lega.
“Apa kau hanya bisa menghindar saja?”
Suara Ophelia terdengar terlalu tenang.
Perempuan itu kembali memburunya.
Gaun hijau panjangnya berkibar mengikuti gerakan tubuh yang meluncur rendah menyapu rerumputan bukit. Setiap langkahnya tampak halus, nyaris seperti tarian.
Ayra refleks menyongsongnya dengan tangan terkepal.
Namun Ophelia hanya tersenyum tipis.
Plak.
Pergelangan tangan Ayra ditangkap lalu diputar ke samping dengan mudah, membuat tubuh gadis itu nyaris ikut terseret oleh tenaganya sendiri.
“Siapa yang mengajarimu bertarung, Nak? Gerakanmu terlalu kaku,” ujar Ophelia ringan.
Ia menarik tangan Ayra sedikit lebih jauh sebelum akhirnya melepaskannya dengan sentakan halus.
“Kau bukan lelaki. Apa kau pikir tanganmu cukup kuat untuk beradu hantaman seperti itu?”
Ayra langsung memutar tubuh setengah lingkaran dan kembali melayangkan tinjunya.
Seolah ingin membuktikan ucapannya, Ophelia menyambut pukulan itu dengan sisi telapak tangan terbuka.
Tak!
Tinjunya terpental begitu saja.
Rasanya seperti menghantam permukaan batu yang sama sekali tidak bergeming.
“Akh—”
Ayra meringis sambil menggenggam tangannya sendiri.
Tanpa membuang waktu, ia kembali menghilang dalam kilatan merah muda lalu muncul di sisi Kael dan Senna.
Namun Ophelia segera melompat maju memburu mereka.
Kael langsung mengepalkan tangan.
Pendar biru keperakan menyala terang di sekitar jemarinya sebelum melesat membelah udara dengan desing tajam.
“Kael, jangan—!”
Lyza, Ayra, dan Senna berseru hampir bersamaan.
Mereka tahu persis seberapa berbahayanya sihir Kael jika benar-benar dilepaskan.
Namun Ophelia sama sekali tidak melambat.
Ia merendahkan tubuh ke belakang dalam lengkungan lentur yang nyaris mustahil dilakukan manusia biasa. Rambut panjangnya tergerai liar hingga menyapu rumput ketika pendar biru itu melesat hanya beberapa senti di atas perutnya.
Dalam satu gerakan mulus, Ophelia kembali tegak.
Lalu langsung menerjang.
Membuat ketiganya refleks mengambil jarak dan berpencar ke arah berbeda.
Namun tampaknya, Ophelia telah menentukan buruannya sejak awal.
Ayra.
Bukk!
Pergelangan tangan Ayra kembali beradu dengan serangan Ophelia.
Rasa nyeri langsung menjalar hingga ke siku.
“Sudah kubilang,” ucap Ophelia sambil menepis tangan Ayra dengan gerakan melingkar yang anggun, “serangan tidak selalu harus diterima secara langsung.”
Tubuhnya berputar ringan.
“Kau seharusnya membelokkannya.”
Ia kembali melangkah maju.
“Gaya bertarungmu buruk. Gerakan seperti itu hanya cocok digunakan lelaki yang mengandalkan daya tahan tubuh atau kekuatan fisik semata.”
Ayra yang sejak tadi terus dicecar akhirnya mulai kehilangan kesabaran.
“Tante, udah ngapa sih… jangan aku terus yang diserang,” gerutunya sambil terengah.
Tubuhnya terus berpindah, tetapi Ophelia seolah selalu bisa memperkirakan ke mana gadis itu akan muncul.
“Aku capek tahu. Lagian mana ada sih, berantem dibeda-bedain berdasarkan gender.”
Ophelia menghindari sapuan tangan Ayra hanya dengan gerakan kecil yang nyaris tanpa tenaga.
Namun pada saat bersamaan—