Sesampainya di ceruk lereng, mereka terpecah seolah membentuk dua kubu yang saling menjaga jarak.
Ayra, Senna, dan Kael berdiri agak jauh dari mulut ceruk. Sementara itu, Ophelia berdiri bersama Lyza dan Jadrel di sisi seberangnya.
Tak jauh dari tempat mereka berdiri, tampak sebuah rongga menyerupai gua kecil atau runtuhan batu yang menganga gelap. Tidak terlalu dalam, namun cukup untuk membuat siapa pun enggan mendekat.
Di sebelah kanan ceruk, terbentang ruang kosong yang langsung mengarah pada lembah curam di bawah sana. Angin sore berembus pelan dari arah jurang, membawa hawa dingin yang menusuk kulit. Sedangkan sisi kirinya dipenuhi gerumbul tanaman liar yang tumbuh rapat hingga menutupi ceruk itu dari pandangan atas bukit.
Tempat persembunyian yang nyaris sempurna.
Sunyi.
Tersembunyi.
Dan entah kenapa… terasa menyesakkan.
Tak seorang pun membuka pembicaraan lebih dulu.
Ketegangan menggantung di antara mereka.
Meski melihat ketiga tamunya menjaga jarak dengan sorot penuh waspada, Ophelia sama sekali tidak tampak terganggu.
Perempuan itu tidak segera menjelaskan maksud ucapannya sebelumnya.
Ia justru menoleh pada Ayra.
Tatapannya lekat.
Terlalu lekat.
Seolah sedang memperhatikan sesuatu yang telah lama tidak ia temui.
Sejak pertemuan mereka di atas bukit tadi, sorot mata itu tidak pernah benar-benar lepas dari Ayra.
Ayra mulai merasa tidak nyaman. Ia bergeser kecil sebelum akhirnya berdeham pelan.
“Ada apa, Tante?” tanyanya canggung. “Aku salah apa lagi?”
Di sampingnya, Senna tersenyum tipis.
Ia sudah berkali-kali mengingatkan Ayra agar menggunakan tata bahasa yang lazim di dunia ini. Namun gadis itu hampir selalu lupa setiap kali gugup atau tertekan.
Meski begitu, Senna memilih diam.
Situasi mereka sudah terlalu rumit untuk sekadar mempermasalahkan cara bicara.
“Siapa namamu, Nak?” tanya Ophelia lembut. “Apakah kau berasal dari Wilayah Timur?”
“Eh…”
Ayra refleks menoleh pada Senna dan Kael, berharap salah satu dari mereka memberi jawaban penyelamat. Namun kedua bersaudara Vaylan itu justru tampak sama bingungnya.
Ayra akhirnya menggaruk pipinya pelan.
“Bukan, Tante. Aku dari Indonesia.”
“Indonesia?”
Alis Ophelia bertaut samar.
“Di mana itu?”
Ayra kembali celingukan sebelum akhirnya menyerah dan menjawab seadanya,
“Kalau nggak salah sih… Indonesia itu ada di dunia yang berbeda sama tempat ini, Tante.”
“Begitu?”
Anehnya, tidak ada nada heran ataupun ketidakpercayaan dalam suara Ophelia. Berbeda dengan kebanyakan orang yang biasanya langsung menganggap Ayra mengigau.
Perempuan itu malah melangkah mendekat perlahan.
Sorot matanya mengamati wajah Ayra lebih saksama.
“Bentuk tubuhmu terasa tidak asing bagiku,” gumamnya pelan. “Terutama matamu.”
Ayra balas menatapnya.
Dan saat itulah ia menyadari sesuatu.
Perempuan di hadapannya memiliki ciri yang sangat mirip dengan orang-orang Asia di dunianya. Kulit kuning langsat, mata sipit, dan rambut hitam legam berkilau.
Hampir serupa dengannya.
Hanya saja, tubuh Ophelia jauh lebih tinggi dibanding perempuan Asia yang pernah Ayra temui.
Kael yang sedari tadi nyaris kehilangan kesabaran justru menahan diri. Arah pembicaraan ini mendadak menarik perhatiannya.
Baginya, segala sesuatu tentang Ayra selalu terasa ganjil… sekaligus memancing rasa ingin tahu.
“Apakah Nyonya sendiri berasal dari Wilayah Timur?” sela Senna akhirnya.
Ophelia mengangguk kecil.
“Ya. Setidaknya itu yang pernah kudengar dari mendiang kakekku.”
Tatapannya beralih pada langit senja di luar ceruk. Cahaya jingga yang mulai memudar membuat wajahnya tampak lebih muram.
“Dahulu, desa ini tidak seramai sekarang,” lanjutnya pelan. “Tempat ini hanyalah persembunyian kecil bagi para pelarian dari Wilayah Timur.”
Ia berhenti sejenak.
Dengungan lebah terdengar samar dari kejauhan, mengisi sunyi yang turun di antara mereka.
“Namun seiring waktu, pendatang dari desa lain mulai menyadari betapa suburnya lembah ini.” Sudut bibir Ophelia bergerak tipis. “Mereka menetap… lalu beranak-pinak.”
Nada suaranya perlahan merendah.
“Ayahku hanya memiliki aku sebagai satu-satunya ahli waris. Karena itulah ia menikahkanku dengan seorang pemuda dari Wilayah Barat yang dianggap cukup kuat dan memiliki pengaruh.”
Ia menarik napas panjang.
Tatapannya turun sesaat, seolah sedang melihat kembali masa lalu yang tak pernah benar-benar ia terima.
“Seperti yang telah kukatakan sebelumnya…” suaranya melemah, “semua itu hanyalah siasat.”
Keheningan kembali turun.
“Siasat agar garis keluarga kami tetap memegang kendali atas desa ini. Agar kaum kami yang jumlahnya kian sedikit tidak perlahan tersingkir… atau diperlakukan rendah hanya karena rupa kami berbeda dari kebanyakan orang di sini.”
Lyza menyimak dalam diam.
Perlahan, kepingan-kepingan yang selama ini tercerai mulai menyatu di benaknya. Untuk pertama kalinya, ia mulai memahami alasan di balik sikap kaku ibunya… dan betapa mahal harga yang harus dibayar demi menjaga nama keluarga mereka tetap bertahan.
Beberapa saat kemudian, Lyza mendadak tersadar ketika melihat langit mulai menggelap.
“Ibu…” panggilnya pelan. “Bukankah Ayah akan segera pulang?”
Ophelia tersenyum.