Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #49

Topeng Sang Ratu Lebah

Lorong-lorong rumah besar itu tenggelam dalam ketenangan malam. Cahaya obor di dinding bersinar hangat, dikerubungi beberapa ekor ngengat pendar yang sesekali menjatuhkan serbuk cahaya biru ke lantai kayu.


Di persimpangan koridor menuju sayap timur, dua orang penjaga berdiri bersandar pada dinding. Tombak mereka diletakkan santai di sisi tubuh. Keduanya berbincang pelan, sesekali tertawa kecil membahas sisa santapan malam tadi. Salah satunya menguap lebar, matanya berair menahan kantuk akibat giliran jaga yang terlalu panjang.


Namun, ketenangan itu robek seketika.


PRANG!


Suara benda pecah terdengar nyaring dari dalam kamar tamu. Kedua penjaga tersentak, obrolan mereka terputus seketika. Belum sempat mereka memproses apa yang terjadi, pintu kamar itu terbuka kasar hingga menghantam dinding.


BRAK!


Tubuh Lyza terdorong keluar, terseret dalam cengkeraman lengan kekar yang mengunci lehernya. Gadis itu meronta, wajahnya pucat pasi dengan napas tersengal seolah sedang menatap ambang kematian.


“Mundur!”


Teriakan Kael menggelegar, menggema di sepanjang lorong. Tangan kanannya menggenggam belati, sementara bilahnya menempel tepat di kulit leher Lyza.


“Jangan ada yang coba-coba mendekat, atau kurobek leher gadis ini sekarang juga!”


Para penjaga terbelalak. Kantuk mereka lenyap seketika, digantikan kepanikan yang mendesak. Tangan-tangan yang gemetar segera meraih tombak yang tadi disandarkan. Mereka sama sekali tak menyangka tamu yang baru saja mereka jamu kini justru menodongkan senjata pada putri majikan mereka sendiri.


“Kael, apa kau gila?! Lepaskan aku! Ayah dan kakakku akan membunuhmu! Aku bersumpah!” jerit Lyza, ketakutan sekaligus putus asa.


“Oh ya?” Kael mendengus kasar, memasang ekspresi acuh. “Di mana mereka sekarang?” Ia melayangkan tatapan tajam pada kerumunan penjaga dan pelayan yang mulai berkumpul, lalu membentak, “Panggil Reeve sekarang!”


“Reeve Aezer sedang tidak ada di rumah. Hanya aku yang ada di sini sekarang. Kau mau apa, Anak Muda?”


Ophelia menyeruak dari balik kerumunan. Wajahnya tetap tenang, namun sorot matanya memancarkan kemarahan dingin seorang bangsawan yang dilecehkan.


“Persetan denganmu, Nyonya!” Kael meludah ke lantai. “Apa kau pikir aku mudah kau bohongi? Mana hadiah yang suamimu janjikan? Kalian benar-benar telah menghina kami! Sihir suara itu bahkan tidak berguna apa-apa. Kami hanya sempat lengah saat sihir itu terlontar. Kalian pikir aku membawa putrimu hidup-hidup pulang hanya untuk dicemooh dan dipuaskan dengan jamuan makan murahan seperti itu?”


Ophelia mendengus dingin. Tatapannya merendahkan.


“Ternyata suamiku benar. Kalian bertiga hanyalah pengemis-pengemis kecil yang tamak.” Perempuan itu menoleh tajam pada salah satu pelayan perempuan di dekatnya. “Kau. Ambilkan kotak hitam di kamarku.”


“Tapi, Nyonya…” pelayan itu ragu.


“Sejak kapan kau diajari membantah tuanmu?!” hardik Ophelia tajam, membuat pelayan itu tersentak mundur. “Apa menurutmu nyawa anak gadisku tidak lebih berharga daripada perhiasan yang ada di kotak itu?!”


“Ampun, Nyonya. Saya akan segera mengambilkannya.” Pelayan itu menunduk dalam-dalam sebelum berlari tergopoh-gopoh menuju kamar sang nyonya.


Tak lama kemudian, ia kembali dengan napas memburu sambil membawa sebuah kotak kayu hitam. Kael melirik benda itu, lalu memberi isyarat dagu pada Ayra untuk maju.


“Kami harus melihat isinya lebih dulu,” ucap Kael datar. “Apakah barang itu sepadan dengan harga nyawa anakmu.”


Ayra menyambar kotak itu dengan kasar. Tatapan matanya yang tajam membuat pelayan perempuan itu langsung mundur setapak sebelum buru-buru menundukkan kepala. Tanpa berkata apa-apa, Ayra membuka kotak tersebut di hadapan Senna.


Kedua gadis itu melirik isinya sekilas. Seketika, tatapan Senna langsung berubah dingin dan meremehkan. Tanpa menyentuh apa pun di dalamnya, ia hanya mendengus pelan sebelum kembali menatap Ophelia.


“Hanya ini, Nyonya?” suaranya tenang, namun menusuk. “Kukira nyawa seorang putri Reeve bernilai jauh lebih mahal daripada sekadar rongsokan berkilau.”


“Kalian benar-benar tidak tahu diri!” Ophelia menggeram marah hingga kedua tangannya mengepal kuat. “Jadrel! Kau tunggu apa lagi? Habisi hama-hama kecil itu!”


Jadrel melangkah maju setapak, lalu gerakannya terhenti. Matanya melirik posisi belati Kael yang melekat di kulit Lyza.


“Ampun, Nyonya Thornwick. Jika saya menyerang, pemuda itu akan melukai Putri.”


“Kau bodoh!” teriak Ophelia frustrasi, suaranya meninggi memenuhi lorong. “Lakukan apa pun, asal anakku selamat!”


Jadrel terdiam beberapa saat. Kerumunan penjaga di belakangnya kian rapat, namun tak seorang pun berani bergerak karena ancaman Kael masih terlalu berisiko.


Memanfaatkan keraguan itu, Kael perlahan membuka jalan. Ia melangkah mundur sambil menyeret Lyza sebagai tameng hidup. Semua orang di lorong itu terpaku, terkunci oleh ketakutan salah mengambil langkah.


Hingga akhirnya, gema langkah kaki mereka menjauh. Kael, Ayra, dan Senna menendang pintu utama rumah besar itu hingga terbuka lebar, lalu menghilang sepenuhnya ke dalam kegelapan malam. Barulah orang-orang di dalam koridor seakan tersentak bangun dari mimpi buruk.


“Apa yang kalian tunggu?! Kejar mereka! Tangkap penculik Putri!” teriak Jadrel, langsung memberi komando dengan lantang.


Namun, begitu mereka sampai di halaman luar, tak satu pun jejak para penculik itu ditemukan. Kegelapan lembah malam telah menelan mereka bulat-bulat.


Para penjaga segera menyebar ke segala arah dengan obor yang menyala di tangan, memecah keheningan halaman.


Sementara itu, Ophelia yang berdiri tegak di tengah kepungan pelayan-pelayannya hanya menatap lurus ke arah halaman depan rumah yang perlahan larut dalam gelap malam. Hamparan tanaman hias dan bunga-bunga sesekali tersapu cahaya obor yang bergoyang diterpa angin, sementara para penjaga berlarian ke sana kemari memenuhi pelataran rumah. Wajahnya datar, tidak menunjukkan emosi apa pun. Setelah dirasa jarak mereka sudah cukup jauh, ia berbalik dan melangkah kembali menuju kamarnya tanpa sepatah kata pun.


Bisik-bisik langsung bermunculan di antara para pelayan. Ada yang heran akan sikap dingin nyonya mereka, ada yang diam-diam menyalahkan Lyza karena bergaul dengan orang-orang berbahaya. Namun, ada pula yang dengan tulus memohon demi keselamatan gadis itu.


Sesampainya di dalam kamar, Ophelia menutup pintu lalu menguncinya rapat.


Langkahnya melemah saat ia berjalan menuju jendela. Daun jendela dibukanya lebar-lebar, membiarkan angin malam yang dingin berembus masuk dan memainkan rambutnya yang terurai kusut akibat pembaringan yang terusik mendadak.


Dari kegelapan malam, seekor lebah berwarna keemasan terbang masuk, lalu hinggap di ujung telunjuknya.


Ophelia terdiam.


Fokusnya mengeras, seolah tengah menerima laporan rahasia.


Sesaat kemudian, bibirnya membentuk senyum kecil.


Senyum yang lepas.


Nyaris asing.


Senyum yang jarang sekali ia izinkan muncul selama bertahun-tahun hidup di rumah ini.


Dan justru karena itulah, air mata itu jatuh.


Ingatan Ophelia terlempar kembali ke ceruk lereng, pada gema suara yang memohon dengan putus asa.


“Tapi, Ibu… aku tidak mau pergi. Aku baru saja sampai…”


Lyza merengek, memohon agar tetap tinggal.


“Ibu tahu, Sayang, tapi kau harus pergi.”


“Kenapa aku harus pergi?”

Lihat selengkapnya