Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #50

Tawa yang Kacau

Angin dingin berembus kencang melintasi Padang Perdu yang disiram warna keemasan sang fajar. Rumput-rumput liar bergoyang pelan, memantulkan cahaya pagi di bawah langit merah muda yang membentang luas tanpa ujung.


Di atas sebuah bukit kecil, tiga sosok terbaring telentang sambil menatap nyalang ke arah langit.


“Hwaaaaa! Astaga!” teriak Ayra lantang tanpa sedikit pun menahan suara.


Jeritannya memecah sunyi pagi begitu brutal hingga kawanan burung yang bertengger di kejauhan langsung beterbangan panik. Kepakan sayap dan cicit riuh mereka terdengar seperti protes keras kepada makhluk paling berisik di padang itu.


Di sebelahnya, Kael dan Senna justru terbahak-bahak.


Entah karena suara Ayra, atau karena burung-burung malang yang terkejut setengah mati.


Tawa mereka terdengar kacau. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa yang lahir dari kepenatan, ketegangan, dan kegilaan yang akhirnya menemukan celah untuk keluar.


“Kalian tahu nggak sih,” lanjut Ayra sambil masih menatap langit, “ini tuh pertama kalinya aku main drama. Tapi bukan drama yang ditampilin di teater atau acara sekolah. Ini drama yang bener-bener nyata.”


Anehnya, kali ini Kael dan Senna tidak repot-repot menanyakan istilah modern yang meluncur dari mulut gadis itu. Mereka malah kembali tertawa keras, seolah benar-benar memahami maksud Ayra meski tidak mengerti setengah katanya.


“Emang kalian ngerti maksudku?”


“Enggak!” jawab Senna dan Kael bersamaan.


Keduanya bahkan sengaja meniru nada bicara Ayra dengan buruk.


Ayra mendecih keras.


“Sialan. Brengsek ya kalian!”


Namun, dua bersaudara Vaylan itu sama sekali tidak tersinggung. Mereka sama kacaunya dengan Ayra, sama butuhnya melampiaskan segala penat yang telah menumpuk sejak kemarin.


Lagipula, mereka sudah cukup mengenal watak gadis itu.


“Sungguh... ini juga pengalaman pertamaku,” gumam Senna pelan setelah tawanya mereda. “Rasanya membingungkan... penuh debaran, takut, malu, tapi anehnya... aku justru merasa lebih bebas.”


Kael sedikit mengangkat kepala, menoleh ke arah adiknya yang berbaring di sisi Ayra.


“Tentu saja begitu,” ujarnya tenang. “Kau terlalu sering memaksa dirimu terlihat baik-baik saja. Sekali-kali menunjukkan sisi lain dari dirimu bukanlah sesuatu yang salah.”


Ayra yang berbaring di tengah langsung mengangguk setuju.


“Kael, tumben banget kamu peka.”


Ia lalu menoleh ke arah Senna.


“Kamu tuh terlalu tertutup, Sen. Selalu nyembunyiin isi kepala sama perasaan sendiri. Capek tahu kalau terus begitu.”


Senna tersenyum kecil.


Senyum itu terasa seperti pengakuan diam-diam. Seolah, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang benar-benar memahami dirinya.


Angin kembali berembus melewati bukit kecil itu.


Beberapa helai rambut Senna bergerak pelan menutupi matanya sebelum akhirnya tersibak lagi.


Kael kembali bersuara. Kali ini nadanya berubah lebih berat.


“Satu hal yang harus kita pahami sekarang...” Ia berhenti sejenak, lalu terkekeh hambar. “Kita ini penjahat. Kita penculik anak seorang Reeve. Coba dengarkan sendiri betapa buruknya itu terdengar.”


Ayra terdiam beberapa saat sebelum akhirnya membuka suara dengan nada lebih sendu.


“Kenapa aku malah ngerasa bapak sama abangnya nggak bakal peduli, ya? Bahkan aku nggak yakin mereka bakal repot-repot nyuruh orang buat nyari Lyza.”


“Mungkin kau benar,” balas Senna lirih. “Menjadi Lyza pasti terasa sangat pahit.”


Ia menoleh sedikit ke arah Kael.


“Kael... apa kau percaya pada Nyonya Ophelia?”


Kael tidak langsung menjawab.


Matanya tetap menatap langit merah muda di atas sana, seolah sedang mengurai ulang seluruh kejadian kemarin sore.


“Jujur saja,” katanya akhirnya, “pertimbanganku juga kabur saat itu. Aku hanya melihat seorang anak yang hancur dan ibu yang berusaha menyelamatkan anaknya dari keluarga penuh kepalsuan.” Ia mengembuskan napas pelan. “Meski begitu, janji wanita itu tetap menjadi salah satu alasan terbesar mengapa aku menerima tawarannya.”


Senna terdiam sesaat.


“Aku masih tidak mengerti bagaimana Aezer dan Zyrel bisa bekerja sama dengan siluman biadab itu.” Suaranya mengecil. “Menurutmu... Aezer akan mengejar kita?”


“Jika Nyonya Ophelia tidak berdusta, maka sudah pasti lelaki tua itu akan melakukannya.” Kael memejamkan mata sejenak. “Di permukaan, ia tentu akan berdalih ingin membawa putrinya kembali. Padahal itu tidak benar.” Ia tersenyum tipis tanpa humor. “Bukankah kita sudah paham posisi kita sangat sulit? Tidak akan ada orang yang percaya sekalipun kita menjelaskannya.”


“Tapi bukannya Tante Ophelia udah bilang, ya?” sahut Ayra. “Kalau kita menerima tawaran itu, kemungkinan kita bakal diburu?”


“Ya, kalian benar,” lanjut Senna pelan, “semoga Nyonya Ophelia menepati janjinya."


Perkataan itu membuat ketiganya kembali teringat pada percakapan di ceruk sore kemarin.


“Kalian harus segera pergi dari desa ini.”


Ophelia menatap mereka satu per satu. Tatapannya terlihat benar-benar khawatir.


“Zyrel dan Aezer telah menunggu kedatangan kalian. Pesan Drevorn sudah sangat jelas. Kalian harus ditangkap karena dianggap menggagalkan penculikan itu.”


“Aku tidak berniat lari,” jawab Kael tanpa gentar.


Ophelia menggeleng pelan.


“Siluman itu membutuhkan pasokan secepat mungkin. Aku tidak tahu pasti pasokan macam apa yang mereka cari. Namun, menurut dugaanku...” Suaranya menurun pelan. “Para penyihir yang waktu itu kalian tolong mungkin akan dijadikan pasukan tanpa kesadaran, sama seperti yang telah mereka lakukan selama ini.”


“Kalau begitu,” sahut Kael dingin, “kami tinggal menyambut mereka dengan hangat, bukan?”


“Tidak semudah itu.” Ophelia menatap Kael tajam. “Baru pagi tadi kau merasakan dampak dari sihir Zyrel, bukan? Apa kau bisa membayangkan bagaimana jika kekuatan mereka digabungkan?”


Keheningan singkat tercipta di dalam ceruk.


Hanya suara tetes air dari sela batu yang terdengar samar.


Lalu Ophelia menarik napas panjang.


“Dengar. Aku punya rencana.”


Dan sejak saat itulah wanita itu mulai menjelaskan rencana besarnya secara perlahan.


Setelah mendengar seluruh penjelasan Ophelia, satu hal langsung disadari Kael.


Wanita itu telah mempersiapkan semua ini jauh sebelum mereka datang membawa Lyza.


Kael mendengus pelan. Senyum tipis yang muncul di wajahnya terasa sinis.


“Jadi sejak awal Anda memang berniat menjadikan kami kambing hitam.” Ia terkekeh hambar. Rahangnya mengeras, menahan denyut amarah yang mulai membakar dadanya. “Anda ingin tangan Anda tetap bersih! Luar biasa memuakkan siasat Anda.”


Keheningan di dalam ceruk mendadak berubah berat. Ayra bahkan menahan napas, terkejut dengan kelantangan Kael yang tanpa tedeng aling-aling.


Namun, Ophelia tersenyum tanpa dosa. Tidak ada kilat bersalah di matanya. Seolah makian Kael justru merupakan pujian bagi kecerdikannya.


“Aku tidak akan membiarkan kalian menanggung semuanya tanpa imbalan.” Ophelia membalas tatapan Kael tanpa gentar. “Aku akan membantu kalian seperti yang kujanjikan sebelumnya. Sekecil apa pun informasi mengenai Drevorn, akan kuberikan pada kalian.”


“Bagaimana Anda akan melakukannya?” tanya Kael, jelas masih meragukan wanita itu.


Ophelia mengeluarkan sesuatu dari lipatan gaun hijaunya.


“Bawalah ini.” Ia menyodorkan sebuah bungkusan kecil pada mereka. “Taburkan isinya sedikit demi sedikit dengan jarak tertentu. Dengan begitu, lebah-lebahku akan mampu menemukan kalian di mana pun kalian berada.”


Kael, Senna, dan Ayra saling bertukar pandang.


Jadrel yang sedari tadi bungkam akhirnya angkat suara.


“Tolonglah, anak-anak,” ujarnya rendah. “Ambillah itu. Jika kalian masih meragukan Nyonya Ophelia, setidaknya percayalah padaku.” Tatapannya turun sejenak. “Aku bersedia menjadi pelampiasan jika beliau tidak menepati janjinya.”


Ucapan itu membuat suasana di dalam ceruk mendadak lebih berat.


Ketiganya kembali saling memandang sebelum akhirnya Senna menerima bungkusan tersebut dengan ragu.


“Lalu bagaimana jika isinya habis?” tanya Kael lagi.


“Masih ada satu cara lain,” jawab Ophelia tenang. “Namun aku tidak yakin kalian bersedia melakukannya.”


“Apa itu?”


Nada Kael terdengar semakin tajam, seolah ia sengaja terus menekan Ophelia untuk melampiaskan sisa kekesalannya.


Namun anehnya, wanita itu sama sekali tidak tampak tersudut.


Sebaliknya, Ophelia justru terlihat menikmati ketegangan tersebut.


Ia lalu menyodorkan sehelai kain kecil.


Kael menatap benda itu dengan bingung.


“Berikan darahmu.” Suara Ophelia tetap terdengar tenang. “Lebah-lebahku mampu mengenali aroma darah. Dengan begitu, aku bisa tetap menyampaikan informasi pada kalian.”


Kael terdiam sesaat.


Tatapannya turun pada kain putih di tangan Ophelia, lalu pada pedang di pinggangnya sendiri.


Lihat selengkapnya