Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #51

Dibalik Semak Belukar

“Sen, kamu tidur, ya?”


Senna sedikit tersentak mendengar suara Ayra.


Bayangan tentang masa lalu yang tadi memenuhi kepalanya buyar seketika, meninggalkan sesak yang tak pernah benar-benar hilang. Ia buru-buru menghapus jejak air mata di pipinya, lalu menarik napas pendek sebelum menjawab.


“Ya… begitulah. Ada apa, Aya?” tanyanya pelan tanpa berbalik. Tubuhnya masih membelakangi Ayra.


“Nyari makan, yuk. Laper nih.”


Senna memejamkan mata sesaat.


Setelah memastikan wajahnya kembali tenang dan tak ada lagi sisa basah di pelupuk mata, ia akhirnya bangkit duduk. Pandangannya bertemu dengan Ayra yang sejak tadi menatapnya dengan wajah polos, seolah tidak menyadari apa pun.


Namun Senna salah.


Meski Ayra tidak melihat jejak air mata ataupun ekspresi sendu itu secara langsung, suara Senna yang serak dan matanya yang memerah sudah menjelaskan segalanya.


Ayra sudah begitu mengenal gadis itu.


“Di mana Kael?”


Pertanyaan itu sengaja dilemparkan sambil mengalihkan pandangan, memberi dirinya waktu agar Ayra tidak sempat membaca sesuatu yang masih tertinggal di wajahnya.


Mendengar itu, Ayra hanya menghela napas pelan, sengaja larut dalam sandiwara kecil tersebut.


Ia tidak tahu kali ini apa yang membuat Senna menangis.


Senna memang begitu.


Selalu berusaha terlihat kuat di hadapan semua orang. Namun berkali-kali Ayra mendapati gadis itu termenung lama dengan pandangan kosong. Dan setiap kali ditanya, Senna selalu punya jawaban, meski kadang terdengar tidak benar-benar nyambung.


Bukan hanya Senna.


Kael pun sering terlihat tenggelam dalam pikirannya sendiri. Bedanya, jika Senna tampak rapuh dan sayu, Kael justru terlihat murka, seolah siap menerkam siapa saja yang mengganggu kesunyiannya.


“Tuh dia,” jawab Ayra akhirnya.


Ia menoleh dan menunjuk dengan dagu.


Di kejauhan, Kael berdiri diam di antara hamparan tanaman perdu setinggi dada. Angin pagi membuat semak-semak itu bergoyang pelan di bawah langit merah muda yang membentang luas.


“Kael!” teriak Ayra sambil melambaikan tangan. “Tungguin, ya! Kita ikutan. Aku nggak mau tiba-tiba ada binatang aneh lagi yang nyerang kita kayak waktu itu. Jadi perginya barengan aja.”


Kael berpaling sekilas.


Senyum lembut muncul di wajahnya.


Senna sempat terdiam melihat senyum itu. Ada sesuatu yang terasa asing sekaligus akrab darinya. Namun ia segera memasang raut biasa, seolah kakaknya memang selalu tersenyum seperti itu.


Akhirnya mereka bertiga berjalan tanpa arah yang benar-benar jelas.


Sesekali mereka menyibak semak, mengamati tanah, atau berhenti untuk mencari jejak-jejak kecil di antara rerumputan liar. Kadang mereka naik ke tempat yang sedikit lebih tinggi demi menaksir keberadaan binatang yang mungkin bisa dijadikan santapan.


“Aneh banget,” gumam Ayra sambil menengadah mencari kemungkinan burung yang bertengger di pepohonan. “Kayaknya waktu itu kalian gampang banget dapet buruan, ya kan, Kael?”


“Mungkin binatang-binatang itu sedang mencari makan,” jawab Kael singkat.


“Ya… bisa jadi, sih.”


Senna hanya menyimak sambil berjalan sedikit menjauh dari keduanya. Kepalanya tertunduk pelan.


Entah kenapa, dadanya terasa semakin nyeri.


Karena kakaknya tersenyum manis?


Atau karena senyum itu bukan dirinya yang berhasil kembalikan?


Selama ini Senna selalu berusaha menebus dosanya pada Kael. Namun kakaknya tetap membencinya. Tetap menatapnya dengan amarah yang sama.


Hingga Ayra datang… perlahan senyum itu kembali muncul.


Cemburu kah dirinya?


Senna menggeleng pelan.


Tidak.


Ia hanya merasa… dirinya tak pernah benar-benar dilihat oleh Kael.


Pencarian buruan itu berlangsung cukup lama.


Hingga tiba-tiba Kael mengangkat telunjuk ke depan bibir.


Seketika Ayra dan Senna terdiam.


Dari balik semak, seekor kelinci berekor lancip muncul perlahan. Tubuh kecilnya bergerak dengan loncatan-loncatan ringan di antara rerumputan.


Ayra ragu sejenak.

Lihat selengkapnya