Cahaya merah muda beriak menerangi gua.
Perlahan, tubuh-tubuh mereka muncul dari ruang kosong, lalu berdiri tegak di atas tanah yang lembap.
Tiga sosok itu menoleh ke sekeliling dalam diam.
Begitu matanya menangkap luasnya ruangan di hadapan mereka, Ayra langsung bergumam ceria. Suaranya sarat kekaguman.
"Wah, luas ya guanya?"
Tatapannya menyapu dinding-dinding batu yang menjulang tinggi. Pantulan cahaya merah muda dari sihir teleportasinya masih samar menari di permukaan granit hitam.
"Justru karena itu kita harus waspada. Kita tidak tahu apa yang tersembunyi di balik dinding-dinding itu," ujar Kael tegas.
Baik Senna maupun Ayra langsung mengangguk pelan.
Mereka mulai melangkah dengan hati-hati.
Langkah demi langkah.
Seolah setiap jengkal tanah di hadapan mereka menyimpan sesuatu yang tak kasatmata.
"Jadi di sini rumah mereka?"
Ayra menunjuk sekumpulan kelinci kecil yang berlarian cepat di sela-sela batu. Makhluk-makhluk itu menyelusup ke ceruk dinding, lalu menghilang ke lorong-lorong sempit yang sulit dijangkau mata.
"Apa kau percaya, Kael, gua ini mati?"
Senna menatap sekeliling dengan sorot waspada.
Semakin jauh mereka melangkah masuk, gua itu justru terasa semakin luas. Seakan alam sengaja membentuknya sebagai tempat berlindung.
Atau mungkin...
Tempat persembunyian.
"Entahlah," gumam Kael.
Tangannya perlahan berpendar biru keperakan. Cahaya tipis itu merambat di sepanjang jemarinya, menjadi tanda kesiagaan jika ada sesuatu yang muncul tanpa peringatan.
"Kael, apa kau ingat yang Nyonya Ophelia katakan?"
Nada suara Senna merendah, nyaris tenggelam oleh gema tetesan air di kejauhan.
"Sial... mungkinkah?"
"Lokasi pasukan tanpa kesadaran itu, ya? Nggak, sih?" celetuk Ayra yang kini mulai ikut cemas. "Duh, apa kita keluar aja, ya?"
"Tunggu. Aku masih ingin melihat-lihat dulu."
Kael menoleh sekilas ke arah adiknya.
"Senna, kau membawanya, bukan?"
"Ya."
Jawaban itu singkat.
Ayra menatap keduanya bergantian dengan dahi berkerut.
"Eh, tapi emangnya kamu yakin, Sen? Obat itu bakal manjur?"
"Aya!" seru Kael dan Senna hampir bersamaan.
Nama itu melesat menghantam dinding-dinding granit yang dingin.
"Aya... Aya... Aya..."
Gaungnya memantul berulang kali, mengalir jauh ke dalam lorong-lorong gelap yang tak terlihat ujungnya.
Ketiganya langsung tersentak.
Ayra menjerit kecil sambil refleks menutup telinganya. Gema suara dua bersaudara Vaylan itu seolah datang dari segala arah sekaligus.
Bagi Kael dan Senna, pantulan suara tadi terasa seperti peringatan keras.
Pembicaraan ini sudah terlalu berbahaya untuk dilanjutkan.
Benda yang dibawa Senna bukan sekadar harapan, melainkan senjata rahasia untuk menghadapi pasukan tanpa kesadaran yang mereka dapatkan dari Ophelia.
Jika Drevorn mengetahui keberadaan ramuan itu, siluman tersebut pasti akan berusaha merebutnya.
Dan jika hari itu tiba, hidup mereka tidak akan pernah tenang lagi.
Pasukan tanpa kesadaran adalah alat yang terlalu berharga bagi Drevorn untuk dibiarkan hancur.
Keheningan gua yang mencekam itu seketika melempar pikiran Senna kembali pada percakapan di ceruk lereng sore kemarin.
"Bawalah ini juga," ucap Ophelia sambil sekali lagi mengambil sesuatu dari balik gaunnya.
Sebuah benda yang dibungkus kain kuning.
"Apa itu?" tanya Kael curiga. Matanya menyipit tajam.
"Ini adalah ramuan yang sudah aku persiapkan sejak lama."
"Ramuan apa?"
"Serbuk yang terbuat dari berbagai bunga untuk memulihkan orang-orang yang sudah berada dalam kendali Drevorn."
"Bagaimana Anda mendapatkannya, dan siapa yang membuatnya?" tanya Kael lagi. Keraguan masih jelas terdengar dalam suaranya.
"Berbulan-bulan yang lalu, aku pernah mencobanya langsung pada salah satu penyihir yang sudah kehilangan kesadarannya."
"Benarkah itu? Bagaimana Anda melakukannya? Karena aku tahu Anda orang yang tidak sudi mengotori tangan Anda sendiri."
Kael melangkah maju.
Tatapannya lurus menembus mata Ophelia.
"Biar aku tebak. Anda menyuruh lebah Anda? Atau salah satu pelayan Anda? Agar jika pelayan itu ketahuan, Anda bisa cuci tangan seperti rencana yang telah Anda susun untuk kami."
Alih-alih marah atau tersinggung, Ophelia justru tersenyum.
Itu adalah senyum seseorang yang akhirnya menemukan orang lain yang mampu membaca jalan pikirannya dengan tepat.
"Kael... namamu Kael, bukan?" ujarnya pelan.
"Apa kau tidak mau menikah dengan Lyza?"
Pertanyaan itu sontak membuat Lyza menjerit malu.
Wajahnya memerah padam seketika.
Sementara di sisi lain, Ayra refleks melotot ke arah Ophelia dengan napas tertahan.
Entah kenapa, mendengar kemungkinan itu membuat dadanya terasa sesak.
"Jangan menatapku begitu, Sayang. Jadi, apamu Kael ini?" ujar Ophelia.
Namun wanita itu tidak menunggu jawaban.
Sesaat kemudian, ia sudah melambaikan telapak tangannya.
"Aku hanya bercanda. Tapi jika Kael mau, aku tentu akan gembira karena akhirnya ada seseorang yang mampu memahamiku. Terlebih jika itu suami anakku."
"Ibu!" jerit Lyza penuh kekesalan.
Ia langsung membuang muka, tak sanggup menahan rasa malu akibat kelakuan ibunya yang sembarangan di depan banyak orang.
Ayra terdiam.
Ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa.
Bahkan ia tidak mengerti mengapa dirinya bisa segusar itu saat mendengar Ophelia menggoda Kael.
Seolah ada bara kecil yang perlahan mulai menyala di dalam dadanya.
Sementara itu, Kael mendadak terdiam kaku.
Saat memalingkan wajah, tanpa sengaja matanya menangkap ekspresi Ayra yang menegang.
Sesuatu dalam dirinya terusik.
Karena itulah ia buru-buru membalas.
Ia tidak ingin Ayra salah paham seolah dirinya menyetujui ucapan Ophelia.
"Jangan main-main, Nyonya. Kau membuatku semakin muak," desisnya tajam.
Di sebelahnya, Senna hanya memperhatikan interaksi itu dalam diam.
Perempuan ini sungguh berbahaya, pikirnya.
"Tenanglah. Kau tak perlu kasar begitu."
Ophelia tetap tersenyum seolah tidak terganggu sedikit pun.
"Baiklah, kau benar, Anak Muda. Aku memang menyuruh lebah dan pelayanku melakukan pekerjaan itu. Tapi aku tidak seburuk yang kau sangkakan. Aku tidak akan membiarkan pelayan setiaku tertangkap atau ketahuan."
Ia berhenti sejenak.
"Tapi bukan itu intinya."
"Ya, aku mencobanya pada salah satu penyihir tanpa kesadaran itu... dan akhirnya aku berhasil."
"Penyihir itu terlepas dari pengaruh Drevorn."
Namun Ophelia menyimpan satu fakta lain.
Memang benar penyihir itu berhasil dibebaskan dari pengaruh yang membelenggunya.
Tetapi ia meninggal tidak lama setelahnya.
Sesuatu yang sengaja tidak Ophelia katakan.
Karena ia tahu, jika kenyataan itu disampaikan, Kael dan yang lain tidak akan pernah mau menerima tabung berisi ramuan tersebut.
"Dengarkan aku," ucap Ophelia segera sebelum yang lain sempat melontarkan pertanyaan lanjutan.
"Jika kalian benar-benar ingin menghentikan Drevorn menciptakan pasukan, kalian bisa mulai dengan menggagalkan upaya penculikan para penyihir lagi."