Ketiganya memicingkan mata ketika cahaya yang menyambut mereka terasa terlalu terang dan menyilaukan. Udara di sekeliling berubah drastis, panas dan kering, seolah menyedot kelembapan dari napas mereka.
Senna membuka mata perlahan. Jantungnya berdegup keras ketika ia menyadari bahwa mereka kini berdiri di atas sebuah pelataran batu yang terhampar di tengah tebing menjulang sangat tinggi.
Di sebelahnya, Kael terdiam mematung. Matanya nanar, menyapu sekeliling tanpa benar-benar mampu memahami apa yang dilihatnya.
“Senna, kau lihat apa yang aku lihat? Ini tidak mungkin... tidak mungkin.”
Gumaman Kael terdengar bergetar oleh ketidakpercayaan. Atau mungkin ketakutan. Entahlah.
Sementara itu, Ayra yang berdiri di tepi pelataran menunduk, menatap ke bawah.
Di sana terbentang lembah hijau dengan tanaman penduduk yang ditata berundak-undak di lereng bukit. Tanaman-tanaman itu tidak terlalu tinggi. Batangnya liuk dan ramping, dengan daun berwarna hijau keperakan yang berkilauan saat disentuh cahaya matahari.
“Kita berada di Wilayah Selatan!”
Seruan itu membuat Senna tersentak.
Ia masih terpaku, tubuhnya seakan enggan bergerak. Sebenarnya, jauh di lubuk hatinya, ia telah menduga kemungkinan ini. Namun nalarnya sama sekali tak sanggup menerima kenyataan bahwa mereka kini benar-benar kembali ke Wilayah Selatan.
Mendengar Kael mengucapkannya dengan lantang terasa seperti menarik seluruh udara dari dadanya.
Ia tidak percaya.
Ia sama sekali tidak ingin percaya.
“Wilayah Selatan?” Ayra menoleh, memandang bergantian kedua bersaudara Vaylan itu. “Bukannya Wilayah Selatan itu jauh banget, ya? Katanya waktu kalian pergi ke Wilayah Barat mengejar Drevorn, kalian butuh waktu berbulan-bulan, kan?”
Tak satu pun dari mereka menjawab.
Kael dan Senna masih berdiri kaku. Sorot mata mereka diliputi ketidakpercayaan. Jarak yang seharusnya ditempuh selama separuh putaran musim baru saja mereka lewati hanya dalam puluhan langkah di lorong gelap tadi.
Ayra ikut terdiam.
Pemandangan ini mengingatkannya pada dirinya sendiri saat pertama kali tiba di dunia ini. Saat langit merah muda, peri, dan binatang sakti terasa begitu aneh dan tak masuk akal.
Ia pun pernah berada di posisi yang sama.
Tak mampu segera menerima kenyataan.
Perlahan, Ayra mundur dan duduk di atas bongkahan batu pipih yang berserakan di tepi tebing. Ia menatap kejauhan, membiarkan pikirannya mereda.
Angin dari lembah berembus naik, membawa udara panas dan aroma yang membuat Ayra tertegun.
Itu bukan bau hutan basah.
Melainkan aroma hangat yang sedikit pahit, mirip daun-daun herbal kering yang diremas atau teh hijau yang baru diseduh.
Namun di balik itu, ada aroma lain yang lebih kuat dan khas.
Bau minyak yang dipanaskan matahari.
Minyak zaitun.
Ayra memicingkan mata, sedikit menjulurkan leher menatap dasar lembah yang terbentang jauh di bawah sana.
Ia melihat titik-titik kecil manusia bergerombol mengelilingi sebuah wadah batu putih berukuran besar. Entah apa yang sedang mereka lakukan, namun angin yang berembus ke atas seolah menjawab pertanyaannya.
Sekejap, ingatan Ayra terlempar ke kamar neneknya.
Bau ini persis seperti wangi dari botol kecil yang selalu terletak di meja kamar beliau.
Minyak yang biasa Ayra tuangkan ke telapak tangan saat memijat kaki neneknya yang pegal di malam hari. Minyak yang dioleskan ke rambut agar hitamnya berkilau.
Di tempat yang membangkitkan mimpi buruk bagi dua bersaudara Vaylan ini, Ayra justru disapa oleh kehangatan rumah.
Aroma minyak itu membawa ingatan akan pijatan lembut neneknya. Sebuah rasa aman yang menyelusup pelan, sangat bertolak belakang dengan ketegangan yang kini membekukan wajah Kael dan Senna.
Waktu seolah merayap begitu lamban.
Keterpakuan dua bersaudara itu terasa asing, namun di saat yang sama terasa dekat bagi Ayra.
Gadis itu memahami rasanya terlempar tiba-tiba ke antah-berantah.
Namun ia tak sepenuhnya mengerti apa yang sebenarnya berkecamuk di benak kedua temannya.
Apakah mereka terguncang hanya karena berpindah tempat sejauh ini?
Padahal, bagi Ayra, di dunia yang penuh sihir dan keajaiban, teleportasi seharusnya bukan hal yang mampu membekukan seseorang hingga separah itu.
Atau...
Apakah ini tentang ketakutan untuk kembali?
Kembali ke Wilayah Selatan. Tempat keluarga dan desa mereka hancur porak-poranda oleh kekejaman Drevorn.
Entahlah.
Ayra menggeleng pelan.
Ia tidak mengerti.
Baik Kael maupun Senna tampak gelisah, mondar-mandir keluar masuk mulut gua seperti hewan yang terperangkap. Keduanya masih belum mampu memproses kenyataan bahwa mereka telah melintasi separuh benua hanya dalam sekejap mata.
Ayra tersenyum kecil.
Bukan untuk mengejek.
Melainkan menertawakan ironi yang ada.
Apa kabar aku? Aku bukan cuma lintas wilayah, tapi lintas alam semesta, woy.