Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #54

Wajah dari Peperangan

Dari kejauhan, deretan roda-roda batu besar tampak berputar perlahan, digerakkan oleh tangan-tangan yang telah hafal ritmenya di luar kepala. Buah zaitun ditumpahkan dari keranjang anyaman, hijau pekat dan kehitaman, lalu tergilas sabar hingga pecah, mengeluarkan cairan kental yang berkilau di bawah cahaya siang.


Suara gesekan batu berpadu dengan percakapan rendah yang cepat serta seruan singkat penanda pergantian giliran. Semua itu menciptakan denyut kerja yang tenang, nyaris dingin, namun anehnya begitu terkendali.


Kael berjalan di depan, langkahnya mantap menyusuri jalan tanah kering keputihan yang menurun landai. Ayra dan Senna mengikuti di belakang dengan kecepatan yang sama, membiarkan jarak di antara mereka perlahan menipis.


Semakin dekat, aroma pahit yang segar menyentuh indra, membawa detail-detail kecil ke hadapan mata: tangan yang mengusap keringat sebelum kembali mendorong batu, kain penutup kepala yang bergoyang tertiup angin, serta tempayan-tempayan besar di sisi area gilingan yang menunggu diisi hasil hari itu.


Beberapa orang yang berdiri menghadap jalan mulai menyadari kehadiran mereka. Aktivitas tidak berhenti, namun perhatian terpecah. Tatapan orang-orang itu begitu menyelidik dan terang-terangan tidak suka, seolah kehadiran ketiganya membawa bencana bagi desa mereka.


“Maaf, Tuan,” sapa Kael, berusaha mengabaikan tatapan menusuk itu. “Apakah sungai masih jauh dari sini?”


Semula ketiganya hendak berhenti sejenak untuk meminta sedikit air minum. Namun, pemandangan mengerikan di desa di balik bukit yang baru saja mereka lalui membuat Kael, Senna, dan Ayra mengurungkan niat. Mereka hanya ingin mengetahui arah sungai agar tidak perlu ditanya banyak hal.


Seorang lelaki tua bertelanjang dada dengan ikat kepala menoleh, menilai mereka dari ujung kepala hingga kaki dengan curiga.


“Tidak terlalu. Turuni saja lembah ini, lalu belok ke timur.”


Saat ketiganya hendak melanjutkan perjalanan, suara lain memotong tajam.


“Kalian ini sebenarnya dari mana? Dan hendak ke mana?”


Langkah Kael terhenti.


Ia menjawab tanpa menoleh, suaranya datar namun tetap sopan. Perasaan gusar karena berpindah secara mendadak, ditambah apa yang mereka lihat di desa balik bukit serta luka masa lalu tentang desanya sendiri, membuat emosinya goyah di ambang batas.


“Kami sedang dalam perjalanan jauh,” jawab Kael singkat.


“Jauh itu di mana?” tanya seorang yang lain.


“Dari Wilayah Barat, Tuan,” sahut Kael akhirnya berterus terang.


Beberapa pasang mata saling bertukar pandang. Jawaban itu justru menambah kecurigaan. Tanpa sadar, para pekerja mulai mengerumuni mereka, menatap tubuh ketiganya lekat-lekat seolah mencari tanda kebohongan ataupun bahaya.


“Wilayah Barat,” ulang seseorang dengan nada sangsi. “Jika dilihat dari pakaian kalian yang masih bersih dan wajah yang meski lesu tetapi sama sekali tidak terlihat kuyu atau kelelahan, apa kalian berjalan kaki? Itu sangat jauh sekali, bukan?”


Senna, yang juga letih lahir dan batin, maju setengah langkah, berusaha membantu kakaknya.


“Kami mengalami kesialan di jalan. Kuda kami dirampas.”


Bisik-bisik terdengar dengan berbagai nada. Ada yang tidak percaya, ada yang ragu, dan ada pula yang terang-terangan mendengus, menganggap itu hanya omong kosong belaka. Udara terasa makin panas dan mencekik.


Dan saat itu, tiba-tiba seorang perempuan tua menyibak kerumunan.


Rambutnya putih, disanggul rapi, dan wajahnya memancarkan wibawa yang anehnya menenangkan.


“Akhir-akhir ini, jalanan memang tidak seramah dulu,” ucapnya pelan, namun suaranya menindih suara-suara sumbang lainnya.


Ia menoleh ke sekeliling, menatap para pekerja yang tegang.


“Hari ini kita sedang merayakan upacara panen. Tidak pantas rasanya membiarkan orang-orang kehausan berdiri lama di bawah matahari, bukan begitu?”


Mendadak, semua seolah terhenti. Suasana panas dan penuh ketegangan itu seperti dicairkan oleh hembusan udara yang sejuk.


Orang-orang yang semula memandang penuh curiga perlahan menundukkan kepala. Bahu mereka turun, wajah keras mereka melunak. Satu per satu mereka mengangguk, seolah baru saja disadarkan dari amarah sesaat.


Kael, Senna, dan Ayra termangu. Rasanya seperti beban berat di dada mereka terangkat sekaligus. Aneh, tetapi melegakan.


Apa ini sihir suara yang sama seperti milik Zyrel dan Aezer? batin ketiganya, merasakan getaran aneh yang merambat di udara.


“Ayo,” ujar perempuan tua itu lembut sambil memberi isyarat. “Kalian bisa beristirahat di dapur umum kami sebentar.”


Mereka tidak punya pilihan lain selain mengikuti perempuan itu meninggalkan area gilingan utama, menyisakan suara roda batu yang kembali mengisi udara, namun kini terdengar lebih jauh.


“Sekarang ini,” lanjut perempuan itu dengan suara lebih rendah, “kabar buruk datang lebih cepat daripada hujan.”


Kael melirik punggung perempuan itu.


“Kau tentu pernah mendengar nama Ravola,” katanya lagi. “Dan siluman dari Wilayah Barat, Drevorn.”


Nada suaranya datar, tetapi kebencian terpendam jelas terasa di sana.


“Tak ada yang mengira Elf itu akan sampai hati menghancurkan tanah kelahirannya sendiri. Terlebih, Elf adalah makhluk cinta damai. Usia mereka bahkan setua dunia ini sendiri.”


Ia menghela napas pelan, sarat kekecewaan.


“Namun entahlah apa yang membuat Elf itu begitu marah hingga membenci manusia sedemikian rupa. Sulit kubayangkan apa yang dapat mendorong seorang Elf menyakiti begitu banyak orang.


Padahal, sepengetahuanku, ras Elf tinggal sisa-sisanya saja. Mereka hidup terpencar dan jarang menampakkan diri, sehingga tak ada yang benar-benar tahu berapa banyak yang masih tersisa. Aku juga tidak tahu bagaimana mereka bisa menghilang atau mengapa jumlah mereka terus menyusut.


Meski demikian, kesaktian mereka tetap melampaui manusia. Itu sebabnya desa-desa di wilayah ini mulai bersiap. Tidak ada yang tahu, selain Ravola sendiri, apakah masih ada Elf lain yang berbagi pandangan dengannya.


Para Reeve saling berkirim kabar, mengatur pertemuan, dan mencari cara untuk menghentikan semua ini.”


Perempuan tua itu terus berbicara, menumpahkan beban seorang yang dituakan di desa. Kael, Senna, dan Ayra tidak punya kesempatan untuk menyela. Banyaknya informasi yang datang sekaligus membuat ketiganya justru bungkam, bingung harus mulai merespons dari mana.


Tiba-tiba, perempuan tua itu berhenti di dekat deretan tungku besar. Matanya tajam menatap ketiganya.


“Kalian akan berdiri di mana, Anak Muda?”


Ketiganya saling pandang. Namun Kael, yang sejak tadi menahan gumpalan amarah di dadanya, membiarkan jawabannya meluncur begitu saja.

Lihat selengkapnya