Ayra menyeka keningnya dengan punggung tangan.
Dapur umum itu laksana tungku raksasa yang tak pernah padam. Meski bangunannya terbuka tanpa dinding, hanya dinaungi atap kayu lebar untuk menangkis sengatan matahari, hawa dari deretan tungku batu yang menyala serentak tetap terperangkap, memeras setiap tetes keringat dari tubuh siapa pun yang bekerja di bawahnya.
Tangannya terus bergerak, mengaduk isi kuali besar dengan centong kayu zaitun yang berat. Gerakannya teratur dan sabar, menjaga agar kuah tidak mengental maupun melekat pada dasar bejana.
Pikirannya melayang pada kejadian beberapa waktu lalu.
Rasa canggung yang sempat menggantung membuat mereka bertiga memilih untuk tidak tinggal diam di tengah desa yang sibuk bersiap. Mereka pun memecah langkah.
Senna, digerakkan naluri penyembuhnya, segera mencari Thalia untuk menawarkan bantuan bagi Tetua Omera. Ia berharap pengetahuan ramuan dan sentuhan sihirnya mampu menyembuhkan sang Peracik Rasa.
Kael, tanpa banyak bicara, lebih dahulu melebur di antara para lelaki desa. Bahunya yang kokoh jauh lebih berguna untuk mengangkat gentong air dan membelah kayu bakar daripada duduk tanpa peran.
Sementara itu, Ayra langsung menghadap Nyonya Xanthe. Setelah menjelaskan pengalamannya membantu di rumah makan di Wilayah Barat, ia akhirnya mendapat izin. Wanita tua itu melunak dan memberinya satu sudut tungku untuk dikelola.
Kini, di hadapannya, sup jamur mendidih perlahan.
Jamur-jamur liar yang mereka ambil dari gua di Wilayah Barat menjadi bahan utamanya. Temuan tak terduga itu sempat ia simpan dalam kantung ajaib yang dibelinya di pusat desa. Kantung yang mirip milik Senna, mampu menampung jauh lebih banyak barang daripada ukurannya.
Ayra tersenyum tipis.
Ia masih ingat betapa senangnya saat berhasil membeli barang itu dengan uang hasil jerih payahnya sendiri. Bahkan kala itu ia sempat memamerkannya kepada Senna, jingkrak-jingkrak kegirangan karena akhirnya memiliki benda unik dari dunia ini.
Beberapa perempuan desa mencuri pandang, berbisik pelan melihat cara memasaknya yang berbeda dari kebiasaan mereka.
Namun Ayra tetap tenang.
Ia menumis irisan bawang merah dan bawang putih hingga menguning harum, lalu menambahkan bawang bombai yang langsung mendesis riuh saat menyentuh minyak zaitun panas. Aromanya segera memenuhi dapur yang sesak.
Jamur-jamur itu sebelumnya telah ia panggang di atas wajan tanah liat tanpa setetes minyak pun. Panas kering memaksa sari alaminya menyusut perlahan, menajamkan cita rasa sekaligus menjaga teksturnya tetap kenyal saat menyatu dengan kuah.
Sebagai sentuhan akhir, ia menjatuhkan sepotong mentega ke dalam kuali.
Lemak itu mencair perlahan, membentuk kilau keemasan di permukaan sup.
Irisan daun bawang segar yang ditaburkan kemudian mengapung lembut, menambahkan semburat hijau yang cerah. Setelah itu ia memotong lemon dan memerasnya ke dalam kuah agar aroma kambing tidak terlalu menyengat.
Uap hangat naik ke udara, membawa aroma yang menggugah selera.
Nyonya Xanthe tersenyum puas saat kuah sup itu menyentuh lidahnya.
Daging kambing yang dipotong kecil-kecil tak menyisakan bau tajam sedikit pun. Yang tertinggal hanyalah rasa gurih yang lembut, hangat, dan menyatu dalam setiap tegukan.
Wanita tua itu mengangguk perlahan. Sorot matanya berubah menjadi pengakuan yang tulus.
"Apakah ini yang kau pelajari di rumah makan Wilayah Barat?"
Ayra tersenyum canggung.
Dalam hati, ia justru ingin tertawa getir.
Yang ia lakukan sebenarnya hanyalah perkawinan aneh antara bahan-bahan dunia ini dengan ingatan tentang video-video memasak di YouTube yang dulu sering ia tonton sebagai pengantar tidur di dunianya. Dunia dengan sinyal dan layar yang menyala hingga larut malam.
"Baiklah. Aku percaya padamu. Namun, ada baiknya kau menambahkan ini."
Nyonya Xanthe mengambil beberapa tangkai thyme, meremasnya perlahan, lalu menjatuhkannya ke dalam sup.
"Cobalah."
Ayra menyendok sedikit kuah dan mencicipinya.
Alisnya terangkat.
Ia terdiam sesaat.
Rasa yang memenuhi lidahnya benar-benar baru, bahkan dibandingkan hidangan yang pernah ia cicipi di Wilayah Barat.
"Ini tanaman apa, Nyonya?"
"Itu..."
Gedebuk!
Ucapan Nyonya Xanthe terputus oleh suara benda berat yang menghantam tanah.
Ia menoleh tajam ke sudut dapur.
Kerumunan mulai terbentuk, mengitari dua sosok yang kini tergeletak kaku di atas lantai tanah.
"Apa yang terjadi?" serunya.
Wibawanya langsung menekan kegaduhan.
"Kami tidak tahu, Nyonya! Tiba-tiba saja mereka jatuh tak sadarkan diri!" jawab seorang perempuan dengan suara gemetar.
Pandangan Ayra beralih dari tubuh-tubuh yang terkapar, lalu membeku pada satu titik di belakang kerumunan.
Sebuah kuali tembaga mendesis pelan.
Dari bibirnya, uap hijau kekuningan yang pekat melilit naik ke udara, bergerak perlahan seperti ular.
Jantung Ayra berdetak keras.
"Nyonya, kita harus segera menjauh! Aku nggak tahu itu apaan, tapi kayaknya uap itu penyebabnya!"
Beberapa kepala menoleh heran mendengar pilihan katanya yang mendadak berubah.
Namun tak ada yang sempat memperdebatkan bahasa.
Dada mulai terasa sesak.
Tenggorokan perih.
Uap itu semakin tebal, merambat di bawah atap kayu, menjebak panas dan racun dalam satu ruang.
Kepanikan pun pecah.
Pisau-pisau jatuh beradu dengan batu.
Sayuran berserakan.
Para perempuan desa berlarian meninggalkan tungku yang masih menyala, berebut keluar dari dapur yang mendadak berubah menjadi perangkap.
Ayra tidak berpikir dua kali.
Ia meraih lengan Nyonya Xanthe.
"Ibuk-ibuk, ayo berpegangan sama aku! Aku bakal bawa kita pergi dari sini!"
Tak ada yang bergerak mendekat.
Ayra kembali berteriak.
"Aku punya sihir berpindah tempat! Jadi ayo pegangan! Aku bisa bawa kalian keluar dari sini!"
Kali ini beberapa orang langsung mendekat dan memegang bagian-bagian tubuh Ayra seadanya.
Hal itu membuatnya sedikit risih.
Namun ia tidak punya waktu untuk memikirkannya.
Pendar merah muda beriak di sekeliling mereka.
Lalu mereka lenyap.
Sesaat kemudian Ayra muncul beberapa meter dari dapur. Lututnya hampir goyah karena harus membawa lebih dari sepuluh orang sekaligus.
Ia terengah-engah.
Begitu napasnya mulai teratur, satu nama langsung melintas di benaknya.
Senna.
Seandainya gadis itu ada di sini sekarang, ia pasti bisa membantu orang-orang yang tiba-tiba pingsan itu.
*****
Senna berjalan beriringan dengan Thalia, menanjak perlahan menuju sebuah rumah yang berdiri agak terpisah di dataran yang lebih tinggi.
Semakin dekat mereka melangkah, semakin jelas pemandangan halaman yang terbentang di depan.
Berbeda dengan rumah-rumah lain di desa, halaman Tetua Omera menyerupai kebun bumbu yang rimbun.
Dua pohon zaitun tua menjulang di kiri dan kanan pintu. Dahan-dahannya yang berwarna keperakan meliuk membentuk kanopi alami di atas jalan setapak.
Di bawahnya, berbagai tanaman bumbu tumbuh lebat.
Aroma rosemary yang tajam menusuk hidung bercampur dengan harum thyme dan sage yang biasa digunakan untuk menyedapkan panggangan daging. Rimbunan oregano liar turut menyebarkan kehangatan aromanya saat tersentuh sinar matahari.
Halaman itu terasa seperti dapur raksasa yang tumbuh dari tanah.
"Apa Tetua tinggal seorang diri?"
Senna menoleh kepada Thalia, mencoba memecah keheningan yang terasa berat.
"Beliau tinggal bersama anak dan cucunya," jawab Thalia kaku.
Punggung gadis itu tetap tegap. Tatapannya pun tak pernah benar-benar lepas dari Senna.
Dalam situasi yang tidak menentu seperti sekarang, siapa pun bisa menjadi musuh. Dan Thalia tidak sudi memberikan kepercayaan begitu saja kepada orang asing.
Sedari tadi Senna berusaha membuka percakapan.
Ia sempat mengomentari betapa suburnya tanaman-tanaman bumbu di halaman itu, namun Thalia hanya menanggapi seperlunya.
Pikiran gadis desa itu dipenuhi kecurigaan.
Baginya, senyum maupun keramahan bisa saja hanyalah topeng yang menyembunyikan niat jahat.
Sesampainya di depan pintu, langkah Senna mendadak terhenti.
Alisnya berkerut.
Di antara aroma segar rosmarin dan oregano, ada sesuatu yang lain.
Sesuatu yang asing.
Aroma manis yang ganjil.
Amis.
Menusuk.
"Tunggu!"
Senna menahan lengan Thalia tepat ketika gadis itu hendak mengetuk pintu.
"Kau ini kenapa? Bukankah kau bilang kau seorang penyembuh?"
Thalia menyipitkan mata, merasa sedang dipermainkan.
"Entahlah..."
Senna mengernyit pelan.
"Aku seperti mencium ada sesuatu yang salah. Tapi aku tidak tahu apa itu persisnya."
Suaranya nyaris tenggelam dalam udara yang mendadak terasa tegang.