Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #56

Ketika Langit Menggelap

Sementara itu, di sisi lain desa, Ayra yang telah berhasil membawa beberapa perempuan keluar dari dapur umum akhirnya mulai memulihkan tenaganya.

Melihat hal itu, Nyonya Xanthe yang sedari tadi diliputi kecemasan segera menghampirinya.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Nyonya Xanthe. "Terima kasih telah menyelamatkan kami. Namun, di dalam sana masih ada saudara-saudara kami yang lain."

Ayra mengusap wajahnya dengan punggung tangan.

"Iya, aku tahu kok. Tapi tolong tenang dulu. Aku bakal balik dan berusaha ngeluarin mereka semua dari sana."

Nyonya Xanthe menatapnya ragu.

"Apa kau akan baik-baik saja? Maafkan aku. Seharusnya kami menjamu kalian sebagaimana seorang tuan rumah menjamu tamunya."

Perkataan itu membuat Ayra mengembuskan napas panjang.

"Nggak apa-apa, Nyonya. Nggak usah mikirin itu sekarang."

Ia menoleh ke arah dapur umum yang kini porak-poranda oleh kekacauan. Uap hijau terlihat semakin tebal, membumbung tinggi ke udara.

"Ya udah, aku balik dulu. Doain aja..."

Namun sebelum Ayra menyelesaikan kalimatnya, bahkan sebelum ia sempat berbalik dan menggunakan sihirnya lagi, cahaya matahari mendadak meredup.

Bukan karena mendung.

Bukan karena malam.

Sebuah awan hitam bergerak cepat menutupi langit.

Suara dengungan merayap dari kejauhan.

Mula-mula samar.

Lalu semakin dekat.

Semakin berat.

Semakin mengancam.

Udara bergetar.

Ayra mendongak.

Jantungnya seolah berhenti berdetak.

Ribuan tawon kuning kehitaman turun dari langit seperti hujan hidup. Tubuh mereka ramping, panjang hampir seukuran telunjuk orang dewasa, dengan sengat terhunus siap membunuh.

Jeritan langsung pecah dari segala penjuru desa.

Dengungan ribuan sayap membaur menjadi suara yang memekakkan telinga. Langit berubah menjadi lautan hitam yang bergerak.

Dengan tangan gemetar, Ayra mengurai rantai akar yang melilit pinggangnya.

Zzz...

Rantai itu berdesing saat melesat ke udara.

Bilah logam perak berbentuk daun menghantam seekor tawon yang sedang mengejar seorang warga. Ketika logam itu menyentuh tubuh makhluk tersebut, kilatan merah muda menyala sesaat.

Tawon itu lenyap.

Tanpa jejak.

Sekali lagi rantai akar itu meluncur, menghantam tawon lain yang nyaris menancapkan sengat pada seorang perempuan yang mengayun-ayunkan pengaduk kayu ara dengan putus asa.

"Tolong semuanya, ngumpet di belakangku!" teriak Ayra sekuat tenaga.

Suaranya nyaris tenggelam oleh kebisingan.

"Cepetan! Aku bakal coba mindahin tawon-tawon itu!"

Persetan dengan pesan Senna tentang dialek lokal.

Dalam situasi seperti ini, tata bahasa adalah hal terakhir yang ia pedulikan.

Pendar merah muda mulai merambat di sepanjang akar yang melilit tangannya.

Wusssh!

Ayra memutar rantai itu di atas kepala sekuat tenaga.

Putarannya menderu kencang, menciptakan lingkaran perlindungan yang terus berputar tanpa henti.

Tawon-tawon yang nekat menerjang langsung lenyap ketika menyentuh cahaya merah muda tersebut, terhisap dan terlempar entah ke mana.

Melihat secercah harapan, warga desa segera berhamburan mendekat.

Mereka yang sihir bawaannya hanya berguna untuk ladang, kebun, dan dapur sama sekali tidak siap menghadapi serangan semacam ini. Beberapa yang lebih berani mencoba melawan dengan senjata seadanya.

Namun jauh lebih banyak yang berdesakan.

Menjerit.

Saling sikut.

Saling dorong.

Berebut masuk ke dalam lingkaran perlindungan Ayra.

"Tolong, jangan saling dorong!" seru Nyonya Xanthe dengan suara parau.

Ayra melirik cepat ke sekeliling.

Ia segera menyadari satu masalah besar.

Rantai itu memang mampu melindungi dari atas, tetapi sisi depan, belakang, dan samping masih memiliki celah.

"Buat yang masih bisa lawan, berdiri di pinggir!" teriaknya. "Jangan kasih tawonnya masuk dari samping!"

Nyonya Xanthe tidak tinggal diam.

Lihat selengkapnya