Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #57

Racun, Air mata, dan Penyesalan

Thalia terengah-engah setelah berhasil berpindah-pindah, memotong ruang sedikit demi sedikit hingga mencapai induk desa.

Ia termangu.

Sepanjang jalan, matanya dipaksa menelan kenyataan pahit. Hampir setiap rumah hancur lebur. Api berkobar liar. Beberapa tetangga yang ia kenal mendadak beringas, saling menyerang seolah akal sehat mereka telah hangus terbakar.

Ia menyeka wajah yang basah oleh peluh.

Di sebelahnya, Senna menyapu sekitar dengan pandangan ngeri. Gadis asing itu menggigil hebat. Thalia beberapa kali meliriknya. Wajah Senna tampak pucat pasi, menunjukkan ketakutan yang teramat dalam.

Atau sesuatu yang lebih dari sekadar ketakutan.

Apakah dia benar-benar takut, atau ini hanya sandiwara?

Namun rasanya terlalu nyata untuk disebut kebohongan.

Thalia tersentak ketika suara Senna memecah keheningan.

"Kita sudah hampir sampai. Sebaiknya berjalan kaki saja."

Senna menoleh kepadanya.

"Jika kau terus memaksa menggunakan sihirmu, aku khawatir tenagamu akan terkuras habis dan kau bisa pingsan."

Mau tidak mau, Thalia harus mempercayai ucapan gadis asing itu. Sebab itulah yang sedang ia rasakan saat ini.

Tanpa menunggu jawaban, Senna langsung berlari menuju dapur umum.

Hatinya diliputi kecemasan akan keselamatan Ayra. Meski ia tahu gadis itu sanggup melindungi diri sendiri, Ayra terlalu sering bertindak tanpa pertimbangan matang, tanpa memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang bisa menjeratnya.

Thalia yang juga khawatir pada ibu dan Nyonya Xanthe segera berusaha mengejar. Napasnya semakin memburu. Paru-parunya terasa terbakar.

Berbeda dengan Senna, tubuh Thalia tak terbiasa dipaksa berlari sejauh ini.

Tepat di sebuah tikungan, mereka berpapasan dengan sepasang pemuda dan gadis yang tengah sibuk menghadapi kawanan tawon sebesar kepalan tangan.

Tawon-tawon itu berbeda dengan yang menyerang orang-orang di dekat dapur umum.

Desing mereka memenuhi udara.

Kawanan itu menyerang tanpa pilih kasih. Sengat mereka berkilat kemerahan, meluncur cepat membidik wajah dan leher.

Senna refleks mengayunkan tongkatnya.

Beberapa tawon yang menerjang ke arah dirinya dan Thalia langsung terpental. Namun jumlah kawanan itu masih terlalu banyak. Desingan mereka membuat bulu kuduk meremang.

Di hadapan mereka, dua bersaudara itu bergerak dengan cara yang saling bertolak belakang.

Pemuda itu melangkah mantap, seolah tubuhnya dihuni bobot tak kasatmata.

Setiap pukulan tangan dan tendangan kakinya menghantam keras. Begitu serangannya mendarat, tawon-tawon itu remuk atau terlempar jauh, jatuh tanpa mampu bangkit lagi.

Gerakannya tidak banyak.

Namun setiap ayunan menghasilkan kehancuran.

Berbeda dengannya, sang gadis bergerak ringan dan ganjil.

Ia tidak sekadar melompat.

Kakinya benar-benar berpijak di udara.

Satu langkah.

Dua langkah.

Ia berlari di atas ruang kosong seolah sedang menyusuri jalan tak kasatmata. Tubuhnya melesat mendatar sebelum turun kembali dengan ringan.

Dari pijakan mustahil itu, tombak pendek di tangannya menyapu kawanan tawon dalam lengkungan-lengkungan cepat, menjatuhkan beberapa sekaligus sebelum ia mendarat dan kembali berlari di udara untuk serangan berikutnya.

"Tuan Muda! Nona Muda!"

Thalia memanggil di sela kekacauan.

"Kalian di sini? Apa kalian sudah bertemu Nyonya Xanthe?"

Keduanya berpaling serentak, namun tetap siaga menghadapi tawon yang tersisa.

"Justru seharusnya kami yang bertanya begitu. Di mana Ibu?"

Pandangan mereka kemudian tertuju cukup lama kepada Senna.

Namun Thalia tak ingin membuang waktu untuk memperkenalkannya.

"Saya tadi diperintahkan mengantarkan gadis ini ke kediaman Tetua Omera. Namun Tetua Omera telah berubah menjadi buas."

"Apa? Jangan bicara sembarangan tentang Tetua..."

"Siapa dia?"

Keduanya bertanya hampir bersamaan hingga suara mereka saling bertindihan.

Senna mengangkat pandangan sesaat sebelum kembali menunduk.

Kembar.

Keduanya memiliki garis wajah yang hampir serupa meski berlainan jenis kelamin.

Thalia bimbang sejenak.

Ada keinginan untuk menyampaikan kecurigaannya terhadap orang-orang asing yang dibawa Nyonya Xanthe. Namun ingatan tentang bagaimana Senna telah berusaha menolongnya tadi menahan seluruh prasangka itu.

"Ini adalah pengelana yang diperkenankan singgah hingga besok pagi oleh Nyonya Xanthe," jawabnya akhirnya.

Senna menarik napas lega.

Setidaknya, urusan ini tidak bertambah rumit.

"Thalia benar, Tuan Muda, Nona Muda. Saya dan kedua saudara saya adalah pengelana."

Kedua saudara itu saling berpandangan.

Namun mereka tidak memiliki waktu untuk menilai lebih jauh.

Kawanan tawon sakti masih terus merangsek. Seekor lagi menerjang, dan pemuda itu menghantamnya hingga terlempar tak bernyawa.

"Zavis, bukankah lebih baik kita segera ke dapur umum?" seru sang saudari.

"Kau benar, Zora. Mari!"

Keduanya langsung berlari pergi tanpa memedulikan Thalia dan Senna yang masih termangu sesaat.

Senna tersadar lebih dulu.

"Bukankah kita harus menyusul mereka? Dan... terima kasih karena telah menjelaskan tentang kami kepada dua bersaudara itu."

Thalia tidak menjawab.

Ia justru berlari lebih dulu meninggalkan Senna.

Kali ini ia sesekali menggunakan sihirnya, membuat jarak di antara mereka semakin jauh.

Beberapa saat kemudian, Senna berhasil menyusul.

Dari kejauhan, ia melihat Thalia mematung di depan bangunan yang sebelumnya merupakan dapur umum.

Jantung Senna mencelos.

Tubuh Thalia tampak gemetar hebat.

Ia tengah mendekap dirinya sendiri.

Senna mempercepat larinya.

Tanpa perlu bertanya, ia langsung memahami penyebabnya.

Bangunan terbuka itu kini porak-poranda.

Tiang-tiang penyangga atap patah di beberapa sisi. Orang-orang terbaring tak berdaya. Entah pingsan atau telah kehilangan nyawa.

Tubuh mereka tidak mengeluarkan darah sedikit pun.

Namun asap hijau yang masih mengepul membuat Senna yakin mereka telah terpapar racun udara.

Saat Thalia hendak berlari masuk, Senna segera menarik tubuhnya menjauh.

Lihat selengkapnya