Di sisi lain, Kael masih bertahan melawan Peri Zaitun.
Ia melenting ke samping, menghindari rentetan biji-biji zaitun yang terus dilontarkan ke arahnya. Keduanya saling menyerang, lalu mundur dan berkelit, mencari celah di antara gerakan lawan. Sejauh ini Kael belum menggunakan sihir jarak jauhnya. Ia hanya mengandalkan kecepatan tubuh, melontarkan pisau-pisau kecil pemberian Jadrel, lalu sesekali menerjang dengan pedang pendek di tangannya.
Namun Peri Zaitun itu terlampau gesit.
Setiap tebasan hanya membelah udara. Setiap pisau yang melesat selalu berhasil dihindari pada detik terakhir.
Kael mengusap peluh di dahinya setelah lolos dari satu lagi hujan proyektil zaitun.
"Apa kau hanya bisa menghindar dan berlari seperti itu, Manusia?" tanya Peri Zaitun. Suaranya dipenuhi ejekan. Makhluk itu tampak sangat menikmati kesulitan lawannya.
Alih-alih marah, Kael justru tersenyum.
Senyum yang sama menyebalkannya dengan kata-katanya.
"Bukankah kau juga sama saja?" balasnya datar. "Kau hanya berani menyerang dari jauh. Apa kau sangat takut pada pedangku?"
Tawa sang peri langsung terhenti.
"Aku sama sekali tidak takut pada logam tipis itu."
Tanpa aba-aba, makhluk tersebut melesat maju.
Kakinya terayun dalam sebuah tendangan cepat.
Namun Kael sudah siap.
Ia membuang tubuhnya ke samping, lalu pada saat yang sama menyabetkan pedangnya rendah, mengincar kaki lawan.
Sayangnya, Peri Zaitun bergerak lebih cepat.
Peri itu melompat ringan ke udara, membiarkan mata pedang Kael hanya membelah angin kosong.
"Sudah kuduga. Kau hanya bermulut besar," sindir Kael. "Jika memang tidak takut, kenapa kau tidak membiarkan pedangku menebas kakimu?"
"Menarik."
Peri itu mendarat seringan kapas.
"Baru kali ini aku bertemu manusia seganjil dirimu. Bukan salahku jika kau begitu lemah dan tidak bisa memotong kakiku."
Kael hanya menggigit bibir bawahnya.
Tak ingin membuang waktu, ia kembali menerjang. Mata pedangnya meluncur lurus ke depan.
Peri itu mengangkat telunjuk.
Dalam sekejap, rentetan biji zaitun melesat dari ujung jarinya, menghujani Kael layaknya anak panah.
Kali ini Kael tidak berniat menangkis.
Tubuhnya meliuk ke kanan dan kiri dengan luwes. Biji-biji itu melesat melewati bahu, pinggang, dan sisi kepalanya hanya dalam selisih beberapa jari.
Begitu celah terbuka, tangan kirinya menghentak ke depan.
Kilatan cahaya biru keperakan meledak dari kepalannya.
Sinar itu melesat lurus dan menghantam tubuh sang peri.
"Kejutan," bisik Kael.
Ia memang sengaja menyimpan serangan itu.
Peri Zaitun meraung.
Tubuhnya terlempar beberapa langkah ke belakang. Kedua kakinya menggesek tanah kapur saat berusaha menahan dorongan sihir tersebut. Pendar kecokelatan segera menyelimuti tubuhnya, berusaha meredam kekuatan yang menghantamnya.
Sementara itu, tanpa diketahui siapa pun, sepasang mata biru safir mengawasi pertarungan tersebut dari balik lereng kapur yang tersembunyi.
Sudut bibir sosok misterius itu sedikit terangkat.
Seolah sedang menikmati sebuah pertunjukan.
Dengan santai ia mengangkat tangan, lalu menjentikkan jari.
Tak jauh darinya, seekor belalang sembah raksasa melenting keluar dari balik bebatuan.
Sayapnya bergetar nyaring.
Makhluk itu terbang rendah, membelah angin dengan gerakan kaku yang ganjil menuju ceruk lembah tempat Kael bertarung.
Pada saat yang sama, Senna akhirnya tiba dari arah dapur umum.
Napasnya memburu.
Ia menghentikan langkah dan mengusap peluh dari wajahnya.
Lalu pandangannya jatuh pada beberapa warga yang terkapar di antara tumpukan kayu yang sebelumnya hendak dibelah.
Tubuh-tubuh itu tak bergerak.
Di punggung mereka terdapat lubang sebesar buah zaitun.
Napas Senna tercekat.
Darah yang menggenang bercampur dengan tanah kapur, menciptakan warna kontras yang mengerikan.
Di tengah pemandangan itu, hanya Kael yang masih berdiri.
Seorang diri.
Berhadapan dengan makhluk asing yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Namun sebelum Senna sempat mencerna semuanya, seekor belalang sembah raksasa menukik dari langit dan mendarat tepat di sisi sang peri.
Langkah kaki belakangnya yang panjang mengetuk tanah kapur dengan irama patah-patah yang membuat bulu kuduk meremang. Kepala segitiganya berputar mendadak dengan gerakan kaku yang tidak wajar, lalu sepasang mata majemuknya mengunci ke depan tanpa pernah berkedip.
Jantung Senna berdegup lebih cepat.
Meski diliputi kengerian, ia tetap berlari menghampiri kakaknya.
"Kau baik-baik saja, Kael?" tanyanya. Suaranya bergetar antara takut dan rasa bersalah yang masih tersisa.
"Seperti yang kau lihat, aku masih hidup."
Jawaban Kael singkat, tetapi raut wajahnya tampak lega.
"Di mana Aya?"
Pertanyaan itu langsung menyusul.
Kael melirik adiknya sekilas.
Baru sekarang ia menyadari betapa kacau penampilan Senna. Matanya sembab, bahunya sedikit turun, dan meskipun berusaha berdiri tegak, kelelahan jelas terlihat di wajahnya.
Senna menggeleng pelan.
"Buruk. Aya pingsan. Sepertinya dia sedang mengalami guncangan batin yang hebat."
Kael hendak melontarkan berbagai pertanyaan.
Tentang Ayra.
Tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Tentang alasan yang membuat Senna terlihat begitu murung.
Namun Senna lebih dulu mengangkat tangan, menghentikan semua pertanyaan yang belum sempat keluar.
"Bisakah kita memusatkan perhatian pada dua makhluk itu dulu?" katanya cepat. "Percayalah, aku sama khawatirnya denganmu."
Ia menarik napas sebelum melanjutkan.