Sesaat Senna berdiri termangu di luar arena. Ia mengatur napas panjang, berusaha menghimpun sisa daya sihir yang masih tersisa di tubuhnya.
Sementara matanya terus tertuju pada kakak lelakinya.
Kael terus bergerak mundur menghadapi gabungan kekuatan dua makhluk dari ras yang berbeda itu. Debu kapur putih mengepul setiap kali mereka berpindah posisi, berputar di udara seperti kabut tipis yang enggan menghilang.
Kael berkelit lalu melepaskan pukulan sihirnya.
Namun kerja sama kedua lawannya terlalu rapat.
Ia tidak diberi ruang untuk bernapas, apalagi membalas.
Setiap kali hendak menyerang, Peri Zaitun itu selalu lebih dahulu bergerak. Biji-biji zaitun melesat dari berbagai arah, memaksanya terus berpindah di antara gundukan-gundukan tanah putih pucat di sekitar arena.
Belum lagi belalang sembah raksasa itu.
Makhluk tersebut melompat ke sana kemari dengan kelincahan yang tidak masuk akal untuk ukuran tubuhnya. Memang, sejauh ini ia belum berhasil melukai Kael.
Namun Senna tahu.
Itu hanya soal waktu.
Dan firasatnya segera terbukti.
Dengan suara dengung yang tajam, belalang sembah itu mengembangkan sayapnya lalu melayang tinggi. Kepala segitiganya berputar perlahan, seolah sedang mengukur jarak.
Kemudian kedua kaki depannya terayun.
Sabit bergerigi itu melesat turun bagaikan bilah yang dilepaskan dari pegas.
Kael terpaksa mundur lagi.
Tumitnya menggerus tanah kapur yang keras.
"Kael!"
Jeritan Senna pecah saat sebutir biji zaitun melintas begitu dekat dari bahu kakaknya.
Aku tidak bisa diam saja, batinnya.
Kekuatannya memang belum pulih, tetapi ia tidak mungkin membiarkan Kael menghadapi semuanya seorang diri.
Tanpa berpikir panjang, ia berlari kembali memasuki arena.
Serangan peri itu langsung beralih kepadanya.
Biji-biji zaitun menghujani tubuhnya.
Senna memutar tongkat di depan dada, berusaha menangkis rentetan serangan itu.
Clang! Clang!
Benturan keras memercikkan bunga-bunga api kecil. Tubuhnya terdorong mundur beberapa langkah.
Ia buru-buru membangun lapisan pelindung tipis tepat saat sebutir biji menghantam dadanya.
Brak!
Benturan itu tetap menembus sebagian pertahanannya.
Tubuh Senna terpental ke belakang.
Punggungnya menghantam bebatuan kapur yang tajam hingga napasnya tercekat.
Kael yang terkejut menoleh.
Dan dalam sepersekian detik itu, fokusnya buyar.
Ia tidak menyadari bahwa belalang sembah tersebut telah terbang rendah di belakangnya.
Desir tajam membelah udara.
Insting Kael berteriak lebih cepat daripada pikirannya.
Ia menjatuhkan diri ke samping.
Namun gerigi kaki sabit itu tetap sempat menyayat jubahnya.
Kain robek.
Kulit terbuka.
Rasa perih menyambar bahunya.
Darah merembes perlahan, menetes ke tanah kapur yang putih hingga meninggalkan noda merah mencolok.
Kael mengatupkan rahang.
Menahan nyeri.
Di belakangnya, Senna bangkit dengan langkah tertatih sebelum akhirnya berdiri di sisi kakaknya.
"Kukira kau celaka," ujar Kael sambil tersenyum lega.
"Seperti kau, aku juga tidak akan mudah mati," balas Senna.
Napasnya masih tersengal.
Kael mendengus pelan.
Keduanya kemudian berdiri saling membelakangi.
Senjata terangkat.
Siap menghadapi apa pun yang datang.
Di hadapan mereka, Peri Zaitun dan belalang sembah raksasa itu mulai bergerak memutari keduanya perlahan.
Seperti pemangsa yang menikmati pemandangan buruannya yang mulai kelelahan.
Kael menekan bahunya.
Darah terus mengalir dari balik koyakan jubah.
Senna yang mendengar desahan lirih kakaknya melirik dengan cemas.
Namun Kael berbisik tegas.
"Perhatikan lawanmu."
Peri itu kembali mengangkat tangan.
Puluhan biji zaitun berputar mengelilingi jemarinya sebelum melesat satu per satu tanpa henti.
Senna segera membentangkan tirai pelindung.
Cahaya kehijauan membentuk kubah yang membungkus dirinya dan Kael, tampak kontras di tengah keringnya lembah berkapur.
Hujan serangan menghantam tanpa henti.
Blerr!
Blerr!
Blerr!
Getaran demi getaran mengguncang permukaan kubah.
Dari atas, belalang sembah itu hinggap di puncak tirai sihir.
Kaki-kakinya yang bergerigi menggesek permukaan pelindung dengan suara decit panjang yang membuat tengkuk meremang.
Kael dan Senna saling pandang.
Senna mengangguk.
Seketika cahaya biru keperakan melesat dari tangan Kael.
Dentuman keras mengguncang udara.
Belalang sembah itu memekik sebelum terlempar dari kubah dan menghantam tanah.
Namun hanya sesaat.
Makhluk itu kembali berdiri.
Kedua matanya yang besar menatap mereka tanpa berkedip.
Lalu perlahan mendekat.
Dan mulai memanjat kubah sihir itu.
Seolah-olah tirai pelindung Senna tidak lebih dari batang pohon biasa yang sering ia panjat di alam liar.
Sementara itu, di dalam kubah, tubuh Senna mulai melemah.
Cahaya kehijauan yang menyelimuti tubuhnya berkedip-kedip.
Terang.
Meredup.
Lalu terang kembali.
Kael memandang adiknya.
Dadanya terasa sesak melihat Senna seakan memikul beban yang terlalu berat untuk ditanggung seorang diri.
Kael menggertakkan gigi.
Dengan teriakan tertahan, ia mengerahkan seluruh sisa daya sihir yang masih tersimpan di kedua tangannya.
Pendar biru keperakan segera menyala terang, menjalari lengan hingga ujung jemarinya.
Senna memahami maksud kakaknya tanpa perlu sepatah kata pun.
Mereka saling pandang.
Lalu bergerak bersamaan.
Kael meloncat tinggi.
Kedua tangannya terkepal.
Sementara itu, Senna meretakkan sebagian tirai pelindung tepat di jalur serangan yang telah mereka siapkan.
Cahaya biru keperakan meledak keluar.
Dentumannya mengguncang udara.
Belalang sembah itu terpental jauh, tubuhnya berputar sebelum menghantam lereng kapur dengan suara keras.
Namun kemenangan kecil itu harus dibayar mahal.
Saat mendarat, lutut Kael hampir tak mampu menopang tubuhnya.
Ia terhuyung.
Kemudian membungkuk dengan kedua tangan bertumpu pada lutut.
Napasnya berembus berat, menghamburkan serbuk kapur putih yang bertebaran di tanah.
"Kael, kau tidak apa-apa?"
Senna baru saja hendak menghampiri ketika rentetan serangan kembali menghantam tirainya.
Blerr!
Blerr!
Blerr!
Permukaan kubah bergetar hebat.
Ia berusaha mempertahankannya.
Namun tubuhnya semakin lemah.
Tangannya mulai gemetar.
Pandangan matanya perlahan mengabur.
Tanpa sadar, jemarinya menggenggam tongkat peninggalan ayah mereka semakin erat.
Sebuah pemikiran muncul di benaknya.
Ia pernah melakukannya.
Di Padang Perdu.
Saat itu daya sihir yang tersimpan di dalam tongkat telah menyelamatkan mereka.
Mungkin kali ini juga bisa.
Senna memejamkan mata.
Lalu menarik energi yang tersimpan di dalam tongkat tersebut.
Namun sesuatu terasa berbeda.
Sangat berbeda.
Alih-alih mengalir lembut seperti sebelumnya, energi itu menerjang seperti banjir yang menghancurkan bendungan.
Tubuh Senna menegang.
Matanya membelalak.
Arus sihir yang luar biasa besar itu mengalir tanpa ampun melalui tubuhnya.
Terlalu banyak.
Terlalu deras.
Terlalu kuat.
Konsentrasinya langsung kacau.
Retakan muncul di permukaan tirai pelindung.
Satu.
Lalu dua.
Kemudian puluhan.
"Tidak!"
Senna bahkan tidak sempat menyelesaikan teriakannya.
Kubah itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan cahaya yang beterbangan bersama debu kapur.
Kael bergerak secepat kilat.
Ia menerjang ke depan dan menyambar tubuh adiknya tepat sebelum hujan biji zaitun mencapai mereka.
Benturan demi benturan menghantam tanah di sekitar keduanya.
Kael memeluk Senna erat sambil menyeret tubuhnya menjauh.
Namun mereka sudah kehabisan tenaga.
Pada akhirnya keduanya hanya mampu berdiri saling menopang.
Menolak jatuh.
Menolak menyerah.
Meski tubuh mereka nyaris tidak sanggup lagi bergerak.