Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #60

Air Mata Sang Penyembuh

Udara pedesaan terasa sejuk, hangat disentuh cahaya matahari sore. Beberapa sepeda melintas di jalan aspal yang tidak rata. Di sejumlah bagian, permukaannya berlubang cukup dalam.


Di barisan tengah rombongan itu, dua anak perempuan bersepeda bersama. Keduanya tertawa riang.


"Ayo salip," ejek seorang gadis yang melaju di sebelahnya.


"Awas ya kamu, ayo, Aya gas pol salip Reni..." ucap Bella yang duduk di belakang.


Ayra mengangguk semangat.


"Ayoo!!"


Ayra sesekali menoleh ke belakang. Tawa mereka terdengar ringan sebelum ia kembali menggenjot pedal lebih cepat, berusaha menyusul Reni dan teman-teman mereka yang telah berada di depan.


Lalu tawa itu terputus.


Roda sepeda menghantam lubang di jalan. Sepeda itu tersentak keras. Ayra berusaha menstabilkan setang, tetapi dari arah berlawanan melaju sebuah motor. Klaksonnya terdengar nyaring.


Sepeda itu semakin liar bergoyang.


Karena panik, ia membanting setang ke kiri.


Ban depan menghantam bebatuan di tepi jalan sebelum akhirnya terperosok ke dalam selokan yang cukup dalam.


"Ah!"


Bella yang duduk di boncengan menjerit ketika tubuhnya terlempar dari kursi belakang.


Beberapa saat kemudian, orang-orang mulai berdatangan dan mengerumuni kedua gadis itu.


Ayra berusaha menenangkan temannya yang menangis. Namun pandangannya terpaku pada kaki Bella.


Posisinya menekuk ke arah yang salah.


Dengan gemetar, ia mencoba membantu temannya berdiri.


Jeritan keras langsung pecah.


"Aaaah!"


Bella kembali menjerit saat telapak kakinya menyentuh tanah.


"Sakit..." rengeknya lirih.


Bisik-bisik mulai terdengar dari orang-orang yang mengelilingi mereka dan menjadi semakin ramai ketika seorang perempuan berlari tergopoh-gopoh dari kejauhan.


"Bella!"


Perempuan itu langsung berjongkok di samping anaknya.


"Kamu kenapa, Bella?"


"Kakiku sakit, Buk... nggak bisa buat jalan..."


Perempuan itu memeriksa kaki putrinya.


Darah mengalir dari luka di betis, sementara bentuk kakinya tampak bengkok tidak wajar.


Wajahnya memucat.


Lalu perlahan berubah merah oleh amarah.


Ia menoleh tajam kepada Ayra.


"Kamu apain anakku?!

Aku sudah sering bilang, kalau mau main sepeda jangan ngebut-ngebut! Sekarang lihat apa yang terjadi!"


Napasnya memburu.


"Kalau sudah begini, memangnya kamu mau biayai pengobatan anakku? Kalau nggak mampu beli sepeda sendiri, ya nggak usah main sepeda!"


Ia mengangkat Bella ke dalam gendongan.


Anak perempuan itu masih menangis histeris.


"Rudi! Bawa sepeda adikmu!"


Seorang anak laki-laki yang berdiri tidak jauh dari sana melangkah maju.


Tatapannya tajam. Matanya memerah menahan marah.


"Udah tahu jalannya jelek malah ngayuhnya ngawur. Goblok! Awas ya kalau sampai Bella kenapa-kenapa."


Ia menunjuk Ayra.


"Aku bakal bales."


Mereka pun pergi, meninggalkan Ayra berdiri seorang diri di tengah kerumunan.


Lalu terdengar tepuk tangan.


Satu orang.


Kemudian dua.


Lalu semakin banyak.


Dalam hitungan detik, suara itu berubah menjadi sorakan serempak.


"Ayra!"


"Ayra!"


"Ayra!"


Nama itu diteriakkan berulang kali.


Bukan dengan nada kagum.


Bukan pula dengan pujian.


Melainkan dengan tekanan.


Dengan tuduhan.


Dengan kebencian.


Nada yang mengintimidasi.


Nada yang menyalahkan.


Nada yang akhirnya melekat, mengikat, dan mengurungnya dalam rasa bersalah yang terus dibawanya hingga bertahun-tahun kemudian.


Ayra tersentak bangun dari pingsannya.


Matanya basah oleh air mata.


Untuk sesaat, ia masih tenggelam dalam kenangan pahit itu. Namun perlahan kesadarannya kembali.


Ia tidak lagi berada di jalan pedesaan yang dipenuhi orang-orang yang menyalahkannya.


Ia berada di tempat yang asing.


Tempat yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Tapi bahkan di tempat yang tak seorang pun mengenalnya, ia kembali menyakiti orang lain.


"Nggak! Nggak cuma nyakitin. Aku juga udah ngelempar anak kecil ke tempat yang aku sendiri nggak tahu di mana. Bukan itu aja, aku juga udah bunuh ibu anak itu," batinnya lemah.


Tubuh Ayra kembali terguncang oleh tangis.


Dari luar tenda, Nyonya Xanthe masuk dengan langkah tergesa. Ia segera duduk di sisi Ayra.


Sesaat terlintas keinginan untuk meredakan kepedihan gadis itu dengan sihir.


Namun wanita tua itu mengurungkan niatnya.


Ada luka yang dapat disembuhkan dengan sihir, tetapi tidak dengan jiwa yang menanggungnya. Untuk yang seperti itu, seseorang hanya bisa melaluinya sendiri.


Setidaknya itulah yang diyakini Nyonya Xanthe.


Karena itu, ia hanya duduk diam di samping Ayra.


Nyonya Xanthe kemudian menoleh ke sisi lain tenda.


Di sana ada dua orang yang diakui Ayra sebagai saudara, meskipun wanita tua itu tahu bahwa hubungan darah tidak pernah mengikat mereka.


Seorang pemuda dan seorang gadis.


Keduanya tampak sama hancurnya.


Lihat selengkapnya