Kesunyian merayap di antara mereka hingga suara lelaki tua itu kembali terdengar.
"Aku tahu ini mungkin bukan waktu yang tepat. Apalagi melihat kondisi kalian yang kacau begini."
Ia terdiam sejenak, seolah menimbang setiap kata yang hendak diucapkan.
Tatapannya beralih kepada Senna dan Kael.
"Bagaimana kalian bisa selamat? Saat kami datang, desa kalian telah rata dengan tanah. Kebakaran terjadi di mana-mana, dan mayat bergelimpangan di setiap sudut desa."
Ia kembali terdiam. Keraguan tampak samar di wajahnya.
"Aku bahkan menemukan jasad ayah dan ibu kalian, meski berada di tempat yang berbeda."
Angin berembus kencang, membawa serta udara yang terasa hangat lalu dingin dan lembab.
Kilat kembali menyala di langit, sesaat menerangi wajah-wajah yang duduk melingkar di hadapan api unggun yang nyaris padam.
Senna menoleh kepada Kael.
Kakaknya membalas tatapannya.
Mata cokelat gelap itu tampak hampa.
Senna tercekat.
Tatapan itu lagi.
Tatapan penuh kebencian yang telah lama menghilang.
Padahal, beberapa bulan terakhir, mata itu kembali bersinar oleh gairah hidup, oleh harapan, bahkan oleh cinta.
Namun kini...
Cahaya itu padam lagi.
Keheningan menggantung beberapa saat.
Lelaki tua itu nyaris kehilangan kesabaran menunggu jawaban hingga akhirnya Senna kembali bersuara.
"Seandainya saja..."
Ia tersenyum tipis, tetapi senyum itu lebih menyerupai luka yang dipaksa bungkam.
"Kami berharap itulah yang terjadi. Bukankah akan lebih mudah jika kami ikut mati bersama Ayah dan Ibu?"
Ia melirik Kael.
"Tapi agaknya kami..."
Kalimat itu terputus.
Kael menatapnya.
Tatapan yang seolah menuduhnya atas segala yang telah terjadi.
Senna segera meralat ucapannya.
"Maksudku... aku."
Suaranya mulai bergetar.
"Agaknya semesta tidak hendak memberikan kemewahan itu kepadaku."
Ingatannya melayang.
Pada sabit yang menghujam punggungnya.
Pada saat tubuhnya menolak tunduk kepada maut.
Pada saat sihirnya bangkit dan mulai menyembuhkan dirinya sendiri.
Lelaki tua itu hanya diam, memperhatikan percakapan bisu yang telah lama terjalin di antara keduanya melalui tatapan mata.
Ia mengangguk pelan.
"Begitu rupanya..."
Namun Kael sudah tak lagi mendengar percakapan itu.
Pikirannya tenggelam ke masa lalu.
Saat terbangun dari ambang kematian, kebingungan langsung menghantamnya.
Bukankah ia baru saja ditusuk dari belakang?
Kael masih mengingatnya dengan jelas.
Bagaimana Namar yang mengayunkan sabitnya dengan membabi buta.
Dengan tergesa-gesa Kael meraba perutnya.
Lalu punggungnya.
Tidak ada luka.
Tidak ada darah.
Tatapannya yang nanar jatuh pada tubuh Senna dan ibunya yang terkapar di hadapannya.
Ia segera merangkak mendekati sang ibu.
Namun tubuh perempuan itu telah kaku dan membiru.
Tangis Kael pecah.
Suaranya serak dan memilukan.
Ia menoleh kepada Senna.
Tubuh adiknya masih bersimbah darah, tetapi Kael tidak menyadari bahwa luka-luka di tubuh itu telah lenyap tanpa bekas.
Ia tidak menghampiri Senna.
Bukan karena tidak ingin memeriksa keadaan adiknya.
Ia hanya tidak sanggup melihat satu orang lagi yang mungkin telah pergi.
Kael bergegas bangkit.
Pikirannya berputar.
Siapa yang menyembuhkanku?