Tenda itu cukup luas untuk menampung puluhan orang sekaligus.
Kain tebal berwarna hijau lumut membentuk dinding-dinding melengkung yang bergoyang pelan diterpa angin. Beberapa lampu api diletakkan di sudut-sudut ruangan, memancarkan cahaya jingga yang temaram. Bayangan orang-orang di dalamnya bergerak samar di atas permukaan kain, seolah ikut menari mengikuti nyala api yang tak pernah benar-benar tenang.
Di luar, hujan turun semakin deras. Udara dingin berkesiur, mengguncang tenda dan menghadirkan suara-suara asing dari balik dinding kain yang bergetar. Sesekali guntur meledak di langit, disusul kilatan cahaya yang begitu terang hingga menembus kain hijau lumut itu dan menyelimuti seluruh ruangan dalam semburat putih sesaat.
Beberapa lembar anyaman dari serat akar dibentangkan di atas tanah sebagai alas duduk. Tak setetes pun air merembes masuk meskipun hujan mengguyur tanpa henti.
Ayra menyapu sekeliling dengan tatapan takjub. Entah karena jenis kain yang digunakan atau karena sihir tertentu, tempat itu tetap kering meski badai sedang mengamuk di luar.
Beberapa orang telah lebih dahulu berada di sana. Ada yang berkumpul sambil berbincang pelan, ada pula yang memilih menyendiri, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Di sudut lain, Ayra melihat Zora dan Zavis, anak-anak Nyonya Xanthe, tengah berbincang akrab dengan seorang pria. Ketiganya duduk saling berhadapan di atas hamparan anyaman serat akar. Sesekali Zora tersenyum kecil menanggapi sesuatu yang diucapkan pria itu, sementara Zavis hanya menyimak percakapan mereka dalam diam.
Mungkinkah pria itu saudara mereka? pikir Ayra.
Namun, ia tidak sempat memikirkannya lebih jauh.
Saat Ayra, Senna, dan Kael melangkah semakin ke dalam, Nyonya Xanthe mengarahkan mereka bergabung dengan sekelompok lelaki yang tampaknya memang telah menunggu kedatangan mereka. Lelaki yang sebelumnya berbincang dengan mereka juga telah duduk bersama rombongan itu dan tengah bercakap-cakap ringan dengan yang lain.
"Marilah," ujar Nyonya Xanthe. "Aku akan memperkenalkan kalian kepada suamiku dan para Reeve yang lain."
Kael sedikit mengerutkan kening. Ia heran melihat begitu banyak Reeve berkumpul di tempat ini, tetapi memilih untuk tidak bertanya.
"Selamat datang di Olyntas, anak-anak muda."
Salah seorang lelaki bangkit dari duduknya.
"Selamat datang di desa kami yang porak-poranda ini. Namaku Kaldos Vanzante. Aku sungguh berterima kasih sedalam-dalamnya atas bantuan yang kalian berikan kepada desa ini."
Suaranya berat, nyaris kasar. Namun, ketulusan begitu jelas terdengar di balik setiap katanya.
Ketiga remaja itu saling pandang sesaat sebelum Kael akhirnya membuka suara.
"Sama-sama, Tuan."
Nada suaranya serak dan nyaris datar.
Namun, lelaki itu sama sekali tidak tersinggung. Ia telah mendengar dari istrinya mengenai apa yang terjadi sebelumnya. Karena itu, ia hanya mengangguk pelan, disertai senyum tipis.
"Marilah, duduk."
Reeve Kaldos kembali mengambil tempatnya di atas anyaman serat akar.
"Silakan, anak-anak," ujar Nyonya Xanthe sambil mempersilakan mereka.
"Beliau adalah suamiku," tambahnya.
Reeve Kaldos kemudian menunjuk lelaki yang sebelumnya telah berbincang dengan mereka bertiga.
"Tentu kalian sudah mengenalnya, bukan?"
Sekali lagi Kael, Senna, dan Ayra saling pandang. Hampir bersamaan mereka menggeleng.
Melihat itu, Reeve Kaldos menoleh kepada lelaki tersebut, lalu menepuk bahunya dengan ringan.
"Kau ini bagaimana, Kaeroth? Bukankah kau sudah bercakap cukup lama dengan mereka?"
Lelaki yang dipanggil Kaeroth itu hanya tersenyum tipis.
"Rupanya aku belum sempat memperkenalkan diri. Maafkan aku, anak-anak."