Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #64

Luka yang Tak Pernah Diceritakan

Saat ketegangan masih menggantung di udara yang pekat dan mencekam, tiba-tiba kain penutup pintu tenda tersibak.


Embusan udara dingin menerobos masuk, diiringi percikan air hujan yang membawa hawa lembap ke dalam ruangan.


Seorang perempuan melangkah masuk, diapit dua lelaki yang berjalan di sisi kanan dan kirinya.


"Oh, marilah, Reeve Iselda."


Reeve Kaldos segera bangkit dari duduknya untuk menyambut dan mempersilahkannya bergabung.


Perempuan itu membalas dengan senyum tipis sebelum melangkah mendekat. Sementara itu, kedua pengawalnya mundur beberapa langkah, lalu mengambil tempat bersama para warga di bagian belakang tenda.


"Kenapa wajah kalian terlihat begitu tegang?" tanyanya setelah duduk di antara para reeve.


"Ah, kau melewatkan bagian yang paling menarik," jawab Reeve Osric sambil tersenyum.


Iselda tidak membalas senyum itu.


"Begitukah?" katanya datar. "Apa yang sedang kalian bicarakan?"


"Kami sedang membicarakan Ravola," jawab Reeve Kaeroth.


Perempuan itu mengangguk pelan.


"Elf biadab itu?" katanya. "Lalu apa hasil pembahasan kalian?"


Suaranya tenang, tetapi tegas.


Entah mengapa, nada bicara dan gesturnya mengingatkan Ayra pada guru matematikanya di sekolah.


Diam-diam ia mencuri pandang ke arah reeve perempuan itu.


Namun, agaknya Iselda cukup peka.


Tatapannya perlahan beralih hingga bertemu tepat dengan mata Ayra.


Gadis itu buru-buru menundukkan kepala.


Entah mengapa, tatapan perempuan itu terasa begitu tajam.


"Angkat wajahmu."


Ucapan singkat itu langsung membuat beberapa orang menoleh ke arah Ayra.


Sebenarnya, sejak tadi mereka pun penasaran dengan penampilan gadis yang berbeda dari kebanyakan orang di wilayah tersebut. Hanya saja, mereka memilih menahan diri karena melihat Ayra lebih banyak diam sepanjang pembicaraan.


Tak memiliki pilihan lain, Ayra pun mengangkat wajahnya.


"Kenapa ada orang dari Wilayah Timur di tempat ini?" tanya Iselda.


Nada suaranya nyaris terdengar seperti kebencian.


Senna yang menyadari Ayra menjadi pusat perhatian segera angkat bicara.


"Dia teman kami, Nyonya."


"Siapa yang menyuruhmu bicara?" tanyanya tanpa basa-basi. "Mengapa ada anak-anak dalam pertemuan para reeve?"


Reeve Kaeroth yang menangkap bara ketegangan mulai menyala segera menyela.


"Bukankah kau melihat mereka sore tadi? Saat mereka berhadapan langsung dengan Ravola dan anak buahnya."


"Lalu?" balas perempuan itu tajam. "Itu sama sekali tidak menjadikan mereka penting dalam pembicaraan ini."


Senna, Kael, dan Ayra saling berpandangan bingung.


Tak seorang pun dari mereka pernah mengikuti pertemuan para pemimpin desa. Terlebih Ayra yang berasal dari dunia berbeda. Mereka sama sekali tidak mengerti bagaimana seharusnya bersikap ataupun ke mana arah pembicaraan ini akan mengalir.


Separuh wajah perempuan itu tertutup topeng kayu tipis. Kedua matanya memiliki warna yang berbeda. Mata kanannya berwarna abu-abu, sedangkan mata kirinya hitam legam.


"Tolong jangan begitu," ujar Reeve Brenno. "Justru karena mereka, kami memperoleh cukup banyak petunjuk untuk mengurai mengapa elf itu sampai bertindak begitu keji... hingga kehilangan nuraninya."


"Apa yang dapat disumbangkan anak-anak ini bagi pembahasan kita?" tanya Reeve Iselda dengan nada mencemooh.


"Kini kami setidaknya memahami bagaimana elf itu bisa melangkah sejauh itu, mengkhianati prinsip bangsanya yang mencintai alam. Kami juga menemukan kemungkinan mengenai keterbatasan sihir yang dimiliki manusia."


Kali ini Nyonya Xanthe yang menjawab.


Meski bukan seorang reeve, wibawanya cukup kuat hingga membuat Reeve Iselda terdiam sejenak.


Tatapan keduanya bertemu.


Beberapa detik berlalu tanpa sepatah kata pun.


Kemudian, dengan suara yang tetap datar, Iselda berkata,


"Pemikiran yang cengeng."


Jawaban itu membuat beberapa orang terbelalak.


Bahkan Reeve Kaldos nyaris bangkit dari duduknya sebelum sang istri buru-buru menahan lengannya.


Seolah tidak memedulikan reaksi siapa pun, Iselda kembali berbicara.


"Katakanlah kita mengetahui kenyataan ataupun sejarah kemarahan elf tersebut. Lalu apa yang berubah? Ini bukan waktunya lagi bermanis-manis dengan makhluk haus darah seperti itu."


Perlahan ia mengangkat tangan, lalu menunjuk topeng yang menutupi separuh wajahnya.


"Kalian lihat ini?"


Tanpa menunggu jawaban, topeng itu dilepaskannya.


Tak seorang pun bersuara.


Beberapa orang hanya mengembuskan napas pelan.


Separuh wajah perempuan itu menghitam dan rusak. Mata kirinya yang legam sama sekali tidak bergerak, pertanda bahwa penglihatannya telah lama hilang. Rambutnya pun seakan terbagi menjadi dua warna. Satu sisi masih kemerahan, sementara sisi lainnya memutih kusam.


"Kalian tahu ini ulah siapa?"


Ayra nyaris saja bertanya, Emangnya ulah siapa?


Namun, niat itu segera diurungkannya.


Ia benar-benar sedang tidak ingin berbasa-basi, apalagi dengan perempuan itu.


Sejak tadi, satu-satunya mata Iselda yang masih dapat melihat terus tertuju kepadanya.


Seolah-olah Ayra adalah ancaman.


Padahal mereka baru pertama kali bertemu, pikirnya.


"Kami sudah mengetahui siapa yang melakukan itu, meskipun kau tidak pernah menceritakannya secara rinci."


Kali ini Reeve Brenno yang menjawab.


Iselda meliriknya sekilas dengan sorot tidak suka sebelum kembali berkata,


"Kalau begitu, untuk apa kita menghabiskan waktu membahas luka yang elf itu bawa berabad-abad silam?"


Decihan tipis mengiringi kalimatnya.


Namun, di luar dugaan semua orang, alih-alih membiarkan suasana mereda, Kael justru kembali menyulut bara yang mulai mengecil.


"Maaf, Nyonya," katanya tenang.

Lihat selengkapnya