Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #64

Jejak Masa Silam

Nyonya Xanthe beringsut sejengkal ke depan.

Tatapannya jatuh sesaat pada anyaman serat akar di hadapannya, seolah tengah memunguti serpihan kisah lama yang pernah ia dengar dari para tetua di desanya.

"Aku tidak tahu apakah kisah ini benar atau tidak... atau apakah ada hubungannya dengan sumber kemarahan elf itu."

Ia terdiam sejenak.

Kilatan petir menyambar di balik dinding tenda, disusul gemuruh yang bergulung pelan di kejauhan.

Xanthe menarik napas sebelum kembali melanjutkan.

"Yang pernah kudengar, dahulu ada sekelompok manusia yang sengaja memburu makhluk-makhluk sakti demi mencuri kekuatan mereka."

Beberapa orang saling berpandangan.

Tak seorang pun segera menyela.

"Andaikan kisah itu benar," ujar seorang Reeve berjanggut panjang, "bagaimanakah mereka dapat memindahkan kekuatan makhluk-makhluk sakti itu ke dalam tubuh mereka?"

Nyonya Xanthe termenung sesaat.

"Aku juga tidak mengetahuinya," akunya jujur. "Namun agaknya mereka menjalankan suatu ritual khusus untuk memindahkan kesaktian tersebut."

"Apa mungkin hal semacam itu benar-benar dapat dilakukan?" gumam Reeve Kaeroth.

Tatapannya menerawang, seolah tengah menelusuri kemungkinan yang sulit diterima akal.

Xanthe mengangkat bahu tipis.

"Kisah itu dahulu sempat beredar di kawasan Semak Berduri. Orang-orang bilang, cerita itu dibisikkan dari sela-sela rimbun Belukar Kharun. Namun aku sendiri tidak mengetahui siapa yang pertama kali membisikkannya."

Raut wajah seorang Reeve bertubuh pendek dan agak gemuk seketika berubah cerah.

"Ah... aku pernah mendengar itu."

Ia mengangguk pelan, seolah baru menyadari sesuatu.

"Apakah Anda berasal dari kawasan Semak Berduri, Nyonya?"

"Anda mengetahui kawasan itu, Reeve?" jawab Xanthe, sedikit heran.

"Tentu saja. Aku berasal dari kawasan dataran tinggi," jawab Reeve tersebut.

Ia tersenyum kecil.

"Jika benar begitu, bukankah kita masih terhitung tetangga? Meski tetangga yang jauh."

"Agaknya demikian."

Reeve itu terkekeh pelan.

"Kau tahu, Nyonya. Dahulu pernah beredar cerita bahwa di antara kedua kawasan itu pernah ada seorang elf yang menetap."

Beberapa orang kembali mengangguk pelan.

Jika kisah itu memang benar, barangkali legenda yang baru saja diceritakan Xanthe bukanlah sekadar dongeng yang lahir tanpa alasan.

"Sayang, mengapa selama ini kau tidak pernah menceritakan kisah itu?" tanya Reeve Kaldos sembari menoleh kepada istrinya.

Tatapannya begitu lembut hingga Ayra yang melihatnya tanpa sadar ikut tersenyum tipis.

Rupanya, bahkan di dunia kuno seperti ini, ada juga orang yang terang-terangan menunjukkan kasih sayang di hadapan orang lain.

"Bukan begitu, Suamiku," jawab Nyonya Xanthe dengan senyum hangat. "Aku hanya merasa tidak perlu menceritakannya. Lagi pula, sejak awal sudah kukatakan... itu hanyalah kisah lama yang pernah kudengar."

Ayra mengerutkan kening.

Tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul begitu saja di benaknya.

Sesaat ia ingin menanyakannya kepada para Reeve, tetapi niat itu segera ia urungkan.

Ia benar-benar sudah kehabisan tenaga.

Seandainya tanpa sengaja ia kembali menggunakan cara bicara yang terlalu asing bagi dunia ini, pembicaraan pasti akan berbelok ke arah dirinya. Akan muncul pertanyaan demi pertanyaan yang mengharuskannya kembali menjelaskan banyak hal.

Saat ini, ia tidak sanggup menghadapi semua itu.

Akhirnya, Ayra sedikit mendekat ke arah Senna.

"Sen..." bisiknya lirih. "Memangnya manusia di dunia ini bisa hidup sampai umur berapa, sih?"

Senna menoleh sekilas.

Ia ikut merendahkan suaranya agar percakapan mereka tidak mengganggu jalannya pembahasan.

"Setahuku, umur manusia di dunia ini cukup panjang. Ada yang mencapai lebih dari dua ratus tahun. Namun, kebanyakan hidup hingga sekitar seratus tahun."

Ayra mengangguk pelan.

Berarti tidak jauh berbeda dengan manusia di dunia asalnya.

Namun...

Elf.

Makhluk yang sama sekali belum pernah ia jumpai.

Meski begitu, sewaktu masih berada di dunia asalnya, ia pernah beberapa kali menonton film yang mengisahkan bangsa elf. Bahkan, dari penjelasan Nyonya Xanthe, gambaran mereka terasa begitu mirip dengan yang selama ini ia kenal.

Aneh...

Bagaimana mungkin orang-orang di dunia asalnya mampu menggambarkan sosok elf sedemikian rinci?

Jangan-jangan...

Mungkinkah dugaan yang sempat terlintas di benaknya selama ini benar?

Bahwa pernah ada seseorang dari dunia ini yang berpindah ke dunia asalnya... lalu kisah tentang elf perlahan berubah menjadi legenda.

Ayra menggeleng pelan.

Semua itu terasa terlalu rumit.

Namun, anehnya...

Juga terasa begitu masuk akal.

Pikirannya kembali pada satu hal yang sejak tadi mengusiknya.

Elf.

Makhluk yang menjadi pusat pembicaraan itu dikatakan memiliki umur yang begitu panjang hingga nyaris mustahil dihitung oleh manusia.

Pertanyaan lain pun segera muncul.

Ayra kembali mendekat ke arah Senna.

"Kalau begitu... umur elf nggak terbatas, dong? Terus... gimana cara mereka mati kalau hidupnya selama itu? Terus, apa mereka bisa dibunuh?"

Senna terdiam.

Keningnya sedikit berkerut. Ia berusaha mencari jawaban yang ternyata tidak ia miliki.

Di luar tenda, hujan kembali mengguyur lebih deras. Suaranya memukul lembaran kain dan dedaunan di sekitar perkemahan seperti ribuan jemari kecil yang mengetuk tanpa henti.

Beberapa saat kemudian, Senna mengembuskan napas pelan.

"Maaf, Tuan dan Nyonya," ucapnya sopan. "Bolehkah aku mengajukan sebuah pertanyaan?"

Perhatian beberapa orang perlahan beralih kepadanya.

"Apakah seorang elf tidak dapat mati? Dan jika dapat... pada usia berapakah kematian itu datang? Ataukah mereka juga dapat dibunuh?"

Keheningan kembali menyelimuti lingkaran kecil itu.

Seorang Reeve bertubuh pendek dan gemuk tersenyum tipis sebelum akhirnya menjawab.

"Pertanyaan yang menarik," ujarnya tenang. "Kau cukup jeli, Nona."

Ia membetulkan posisi duduknya, lalu melipat kedua tangannya di depan dada.

"Sejujurnya... agaknya tidak ada seorang pun yang benar-benar mengetahui jawabannya, selain bangsa elf itu sendiri."

Tatapannya menerawang, seakan tengah membuka kembali lembaran kenangan yang diwariskan keluarganya.

"Salah seorang leluhurku dahulu pernah menjalin hubungan yang cukup baik dengan seorang elf. Menurut kisah yang diwariskan kepadaku, bangsa itu bahkan tidak pernah menghitung umur mereka sendiri."

Ia berhenti sejenak.

"Bagi mereka... umur bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan."

Lihat selengkapnya